Senin, 08 Juni 2026 | 05:43
OPINI

Dampak Media Sosial terhadap Tren Skincare di Kalangan Remaja

Dampak Media Sosial terhadap Tren Skincare di Kalangan Remaja
Salimah R Ghassani (Dok Pribadi)

Oleh: Salimah Renata Ghassani

Mahasiswa IPB University

Pendahuluan

ASKARA - Di era digital saat ini, penggunaan media sosial di kalangan remaja semakin meningkat. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi sumber utama informasi mengenai produk dan rutinitas perawatan kulit. Konten yang menarik dan mudah diakses membuat remaja lebih tertarik mengikuti tren skincare yang sedang populer.

Media sosial juga telah mengubah cara remaja memahami perawatan kulit. Dengan banyaknya video tutorial, ulasan produk, dan rekomendasi dari influencer, mereka lebih mudah mendapatkan informasi tentang bahan aktif dalam produk skincare serta cara penggunaannya. Namun, tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar ilmiah yang kuat, sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam perawatan kulit.

Fenomena ini memberikan dampak yang beragam, baik positif maupun negatif. Di satu sisi, media sosial meningkatkan kesadaran remaja akan pentingnya merawat kulit. Namun, di sisi lain, muncul tantangan seperti konsumsi produk secara berlebihan, misinformasi, serta tekanan sosial untuk memiliki kulit yang sempurna. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana media sosial memengaruhi kebiasaan skincare remaja dan bagaimana mereka dapat menyikapinya secara bijak.

Peran Media Sosial dalam Mempopulerkan Tren Skincare

1. Algoritma Media Sosial dan Penyebaran Tren Skincare

Media sosial menggunakan algoritma yang mempromosikan konten dengan tingkat interaksi tinggi. Video atau unggahan yang membahas produk skincare yang sedang viral sering kali muncul di beranda pengguna secara berulang, sehingga banyak remaja yang terpapar dengan tren tersebut. Menurut Kaplan & Haenlein (2020) dalam bukunya Social Media: The Good, the Bad, and the Ugly, algoritma media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku konsumsi di kalangan remaja.

2. Pengaruh Influencer dan Beauty Vlogger

Beauty influencer dan vlogger kecantikan di platform seperti TikTok dan YouTube menjadi sumber utama rekomendasi skincare bagi remaja. Studi oleh Djafarova & Rushworth (2017) dalam Journal of Business Research menunjukkan bahwa remaja lebih percaya pada rekomendasi dari influencer dibandingkan iklan tradisional. Hal ini membuktikan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai platform hiburan, tetapi juga sebagai alat pemasaran yang sangat efektif dalam membentuk preferensi remaja terhadap produk skincare.

3. Akses Mudah terhadap Informasi Skincare

Sebelum era digital, informasi mengenai skincare hanya bisa diperoleh melalui konsultasi dengan dokter kulit atau membaca buku. Namun, kini remaja dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi tentang jenis kulit, kandungan produk, serta cara penggunaannya yang tepat hanya dengan beberapa klik di media sosial.

Dampak Positif Media Sosial terhadap Skincare Remaja

1. Peningkatan Kesadaran tentang Perawatan Kulit

Berkat media sosial, banyak remaja lebih memahami jenis kulit mereka dan produk yang sesuai. Dermatolog dan ahli kecantikan sering membagikan informasi mengenai bahan aktif dalam produk skincare serta cara penggunaannya yang benar. Menurut Chang & Chen (2021) dalam Journal of Dermatological Science, edukasi melalui media sosial membantu remaja mengembangkan kebiasaan perawatan kulit yang lebih baik.

2. Akses Mudah ke Informasi dari Pakar

Sebelumnya, informasi mengenai perawatan kulit hanya bisa diakses melalui konsultasi langsung dengan dokter kulit. Kini, banyak ahli yang aktif di media sosial, memberikan edukasi secara gratis kepada publik. Hal ini membantu remaja lebih memahami pentingnya penggunaan sunscreen, pembersih wajah yang sesuai, dan menjaga kulit agar tetap terhidrasi.

Dampak Negatif Media Sosial terhadap Skincare Remaja

1. Konsumsi Berlebihan dan Tren Produk Viral

Banyak remaja membeli produk skincare karena tren tanpa mempertimbangkan apakah produk tersebut cocok untuk jenis kulit mereka. Contohnya, tren penggunaan peeling solution dengan kandungan AHA/BHA yang kuat sering kali menyebabkan iritasi pada kulit remaja yang belum terbiasa dengan eksfoliasi kimia tinggi.

2. Misinformasi dan Tren Berbahaya

Tidak semua informasi tentang skincare di media sosial berasal dari sumber yang kredibel. Beberapa tren DIY (do-it-yourself) skincare seperti menggunakan lemon sebagai masker atau pasta gigi untuk menghilangkan jerawat justru dapat merusak kulit. Oleh karena itu, remaja perlu lebih selektif dalam memilah informasi yang mereka konsumsi.

3. Tekanan Sosial dan Standar Kecantikan yang Tidak Realistis

Banyak remaja merasa tertekan untuk memiliki kulit yang flawless seperti yang ditampilkan oleh influencer. Padahal, banyak dari mereka menggunakan filter atau teknik editing untuk memperhalus tampilan kulit mereka. Hal ini dapat menyebabkan ketidakpuasan terhadap diri sendiri dan menurunkan rasa percaya diri remaja.

Kesimpulan dan Saran

Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan skincare di kalangan remaja. Di satu sisi, platform ini memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya perawatan kulit. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat mendorong konsumsi berlebihan, penyebaran misinformasi, dan menciptakan standar kecantikan yang tidak realistis.

Agar remaja dapat menggunakan media sosial secara bijak dalam menentukan rutinitas skincare mereka, beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

1. Memilah Informasi dengan Cermat

Pastikan informasi yang diperoleh berasal dari sumber terpercaya seperti dermatolog atau jurnal ilmiah.

2. Menggunakan Produk Sesuai Kebutuhan Kulit

Hindari membeli produk hanya karena tren dan selalu perhatikan kandungan yang sesuai dengan jenis kulit.

3. Mengurangi Tekanan Sosial

Ingat bahwa setiap individu memiliki jenis kulit yang berbeda, dan tidak semua standar kecantikan di media sosial realistis.

Dengan pendekatan yang lebih kritis dalam menggunakan media sosial, remaja dapat memperoleh manfaat dari tren skincare tanpa terjebak dalam dampak negatifnya.

 

 

Komentar