Hiking Queen Tewas di Gunung Carstenz, Ketahui Bahaya Hipotermia dan Penanganannya
ASKARA - Dua pendaki perempuan asal Indonesia yakni Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono mengalami musibah saat menuruni Puncak Carstensz, Papua, pada awal Maret 2025. Mereka mengalami gangguan kesehatan yang diduga akibat kondisi ekstrem di ketinggian, sehingga tidak dapat bertahan.
Kedua pendaki tersebut telah berhasil mencapai puncak gunung setinggi 4.884 meter di atas permukaan laut, tetapi dalam perjalanan turun menuju base camp, mereka mengalami gejala serius yang berkaitan dengan kekurangan oksigen dan suhu rendah.
Tim pendamping segera memberikan pertolongan, namun kondisi mereka terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia di lokasi.
Proses evakuasi dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk tim penyelamat yang berusaha mengevakuasi jenazah menggunakan helikopter ke Timika. Jenazah para pendaki tersebut kemudian dipulangkan ke daerah asal mereka untuk dikebumikan.
Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya persiapan fisik, mental, serta peralatan yang memadai bagi para pendaki yang ingin menaklukkan gunung-gunung tinggi dengan kondisi cuaca ekstrem.
Pendakian di pegunungan sering kali menghadapkan pendaki pada cuaca ekstrem yang dapat memicu hipotermia, kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah 35°C akibat paparan suhu dingin dalam waktu lama.
Dr. Faisal Parlindungan, Sp.PD, dari RSUI menjelaskan bahwa hipotermia memiliki berbagai tingkat keparahan dengan gejala yang berbeda-beda. Berikut adalah informasi lengkap tentang hipotermia dan langkah-langkah penanganannya.
1. Tingkatan dan Gejala Hipotermia
a. Hipotermia Ringan (32-35°C)**
- Tubuh mulai menggigil sebagai respons terhadap suhu dingin.
- Kulit pucat dan terasa dingin.
- Bicara melambat atau cadel.
- Denyut jantung dan pernapasan sedikit meningkat.
- Kesulitan berkonsentrasi atau mengalami kebingungan ringan.
b. Hipotermia Sedang (28-32°C)
- Tubuh berhenti menggigil karena kehilangan kemampuan menghasilkan panas.
- Denyut nadi dan pernapasan melambat
- Koordinasi tubuh buruk, sulit berjalan, serta otot melemah.
- Disorientasi, bicara tidak jelas dan perilaku aneh seperti melepas pakaian meskipun merasa kedinginan.
c. Hipotermia Berat (di bawah 28°C)
- Kehilangan kesadaran.
- Gangguan irama jantung yang berisiko fatal.
- Pernapasan dan denyut jantung sangat pelan hingga sulit dideteksi.
- Pupil melebar dan tidak bereaksi terhadap cahaya.
2. Langkah Pertolongan Pertama untuk Hipotermia
a. Memindahkan ke Tempat yang Lebih Hangat
- Bawa penderita ke lokasi yang lebih terlindung dari angin, hujan, atau salju.
- Jika memungkinkan, masukkan ke dalam tenda atau buat penghalang dari tas dan barang lainnya untuk mengurangi paparan angin.
b. Menghangatkan Tubuh
- Jika pakaian basah, segera ganti dengan yang kering atau bungkus dengan jaket/sleeping bag.
- Gunakan selimut darurat untuk menahan panas tubuh.
- Gunakan botol berisi air hangat di area leher, ketiak, dan selangkangan untuk mempercepat penyebaran panas.
c. Memberikan Makanan dan Minuman Hangat
- Jika masih sadar, berikan makanan tinggi kalori seperti cokelat atau kacang untuk membantu tubuh menghasilkan panas.
- Berikan minuman hangat non-alkohol dan non-kafein, seperti teh manis atau cokelat panas.
d. Resusitasi Jika Tidak Merespons
- Jika penderita tidak merespons dan pernapasan sangat pelan atau berhenti, lakukan resusitasi jantung dan paru (RJP).
- Segera cari bantuan medis jika kondisi memburuk atau tidak ada perbaikan setelah upaya pemanasan.

Komentar