Pesan Ramadhan: Prof Rokhmin Dahuri Ungkap Tujuh Golongan Diberi Naungan Allah pada Hari Kiamat
ASKARA - Bulan Ramadhan adalah momentum terbaik bagi setiap muslim yang tepat untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan melatih keikhlasan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam kehidupan ini, kita seringkali dihadapkan pada berbagai godaan dan cobaan yang mempengaruhi kesejahteraan spiritual dan moral kita. Namun, Allah memberikan contoh melalui ketujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan-Nya di hari kiamat.
Sebagaimana disampaikan Anggota DPR RI 2024 - 2029, Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS bahwa, sebuah hadits Rasulullah SAW yang penuh makna tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah pada Hari Kiamat.
"Hadits ini menjadi pengingat bahwa amalan yang ikhlas dan dilandasi ketakwaan memiliki keutamaan besar, bahkan sampai menjadikan pelakunya berhak atas naungan Allah pada hari kiamat, di mana tidak ada tempat berlindung selain naungan-Nya," ujar Prof Rokhmin Dahuri dalam tausiyahnya, dikutip Rabu (5/2).
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: "Ada tujuh golongan manusia yang akan diberi naungan Allah di Hari Kiamat pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya, yakni: (1) pemimpin yang adil; (2) seorang pemuda yang tumbuh sebagai hamba yang senantiasa beribadah kepada Allah; (3) seorang yang mengingat Allah di tempat sunyi sehingga kedua air matanya berderai; (4) seorang yang hatinya terpaut dengan masjid (suka salat berjamaah di masjid); (5) dua insan yang saling mencintai karena Allah; (6) seorang lelaki yang diajak berbuat maksiat oleh wanita cantik dan kaya, tetapi ia menolaknya dengan berkata 'Aku takut kepada Allah'; dan (7) seorang yang bersedekah secara sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan oleh tangan kanannya"_ (HR. Bukhari dan Tirmizi).
Ketujuh golongan ini menggambarkan sosok-sosok yang telah mencapai kedekatan dengan Allah melalui berbagai bentuk amal dan kebajikan. Mereka adalah contoh bagi kita untuk selalu memperbaiki diri, menjaga keimanan, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
"Sebagai umat Islam, mari kita jadikan mereka sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari, dengan berusaha menjadi pemimpin yang adil, pemuda yang penuh ibadah, dan pribadi yang selalu menjaga hati dan niat untuk meraih ridha Allah," sebut Guru Besar IPB University itu.
Berikut adalah penjelasan tentang ketujuh golongan tersebut:
1. Pemimpin yang Adil
Pemimpin yang adil adalah seseorang yang memegang amanah dan kekuasaan dengan penuh tanggung jawab, keadilan dan bertindak berdasarkan kebenaran, menjaga amanah untuk kesejahteraan umat.Keputusannya tidak didasarkan pada hawa nafsu atau kepentingan pribadi, melainkan pada prinsip keadilan dan kebenaran.
Pemimpin yang adil memperhatikan kepentingan umat, menjaga kesejahteraan rakyat, dan selalu berusaha membuat keputusan yang bermanfaat bagi semua pihak. Keadilan yang diterapkan dalam setiap kebijakan menjadi cermin dari integritas dan amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
2. Pemuda yang Tumbuh dalam Ibadah
Pemuda yang sejak dini menjadikan ibadah kepada Allah sebagai bagian utama dalam kehidupannya, mencerminkan kedisiplinan spiritual yang kokoh. Ia menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran.
Dalam masa muda, di mana banyak godaan dan keinginan duniawi, pemuda yang tumbuh dalam ibadah menjadikan Allah sebagai pusat kehidupannya. Keberadaannya di dunia ini dilandasi oleh niat untuk selalu taat dan mendekatkan diri kepada Allah, sebagai bentuk rasa syukur dan kesadaran akan tujuan hidup yang lebih besar.
3. Orang yang Mengingat Allah di Kesendirian
Ketika berada dalam kesendirian, orang yang hatinya selalu mengingat kebesaran Allah di tempat sunyi hingga air matanya bercucuran sebagai bukti cinta dan rasa takutnya kepada Sang Pencipta.
Dalam sepi dan hening, dia tidak lupa untuk merenungkan kebesaran Allah dan berdoa, bahkan air matanya menetes sebagai wujud cinta dan takut kepada Allah.
Ini adalah kondisi di mana seseorang tidak memerlukan perhatian orang lain untuk beribadah, tetapi hanya berharap ridha dan pengampunan dari Allah semata.
4. Orang yang Hatinya Terpaut dengan Masjid
Masjid adalah rumah Allah, tempat suci yang harus dicintai oleh setiap Muslim yang senantiasa menjaga shalat berjamaah di masjid, mencintai rumah Allah, dan menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan spiritualnya dan merasakan kedamaian dalam setiap langkah menuju masjid.
Masjid bukan hanya tempat untuk melaksanakan ibadah, tetapi juga pusat kehidupan spiritual yang menyatukan hati umat Islam dalam ketaatan kepada Allah. Keberadaan orang seperti ini selalu mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah bersama.
5. Dua Insan yang Saling Mencintai karena Allah
Cinta yang didasarkan pada Allah adalah cinta yang murni dan tulus, jauh dari kepentingan duniawi. Hubungan yang tulus dan murni antara dua orang yang didasarkan pada cinta kepada Allah, saling menguatkan dalam ketaatan, mendorong satu sama lain untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Cinta ini tidak mengenal pamrih, dan keduanya berusaha untuk selalu menjaga hubungan mereka dalam kerangka agama. Dengan cinta seperti ini, mereka dapat saling mengingatkan akan kebaikan dan menjadi sumber kebahagiaan yang abadi di dunia dan akhirat.
6. Orang yang Menolak Maksiat karena Takut kepada Allah
Di dunia yang penuh dengan godaan dan kemaksiatan, lelaki yang mampu dengan tegas menolak godaan maksiat meskipun datang dari wanita cantik atau harta kekayaan, adalah sosok yang sangat mulia semata-mata karena rasa takutnya kepada Allah.
Ia menahan diri bukan karena takut akan konsekuensi sosial, tetapi semata-mata karena takut kepada Allah. Keteguhan dalam menahan diri dari godaan ini mencerminkan ketulusan niat untuk menjaga kesucian hati dan iman, serta tidak ingin terjerumus dalam perbuatan yang dapat mendatangkan murka Allah.
7. Orang yang Bersedekah Secara Sembunyi
Individu yang bersedekah dengan ikhlas tanpa pamer, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya. Sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi adalah sedekah yang paling mulia.
Orang yang bersedekah tanpa ingin diketahui oleh orang lain, bahkan tangannya yang kanan pun tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kirinya, adalah sosok yang sangat ikhlas.
Ia tidak mencari pujian atau perhatian dari orang lain, melainkan hanya menginginkan ridha Allah. Sedekah yang seperti ini merupakan bentuk keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama, tanpa memperhatikan imbalan duniawi.
"Hadits ini memberikan kita inspirasi untuk berlomba-lomba menjadi bagian dari salah satu golongan tersebut. Dalam setiap amal yang kita lakukan," tegas Prof Rokhmin Dahuri seraya mengajak untuk berusaha menjadi bagian dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah di Hari Kiamat.
"Semoga di bulan suci Ramadhan ini, kita semua diberikan kekuatan dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan termasuk dalam golongan yang mendapat naungan Allah. Aamiin," imbuhnya.

Komentar