Kamis, 04 Juni 2026 | 06:27
Ruang Menulis

Cerita Bersambung Seri 3: Retakan di Tengah Persaudaraan

Cerita Bersambung Seri 3: Retakan di Tengah Persaudaraan
Dwi Taufan Hidayat

Oleh: Dwi Taufan Hidayat 

ASKARA - Matahari pagi menyinari desa Karangjati dengan lembut, tetapi suasana di mushala Al-Hidayah semakin tegang. Pemilihan kepala desa tinggal beberapa minggu lagi, dan percikan konflik mulai berubah menjadi retakan nyata di antara warga. Mushala, yang seharusnya menjadi tempat penyatuan hati, kini terasa seperti medan pertempuran yang tersembunyi.

Di ruang serbaguna mushala, ibu-ibu tengah sibuk menyiapkan penggalangan dana untuk program renovasi. Rania yang kini mulai lebih aktif membantu, tetap merasa canggung di tengah pembicaraan yang semakin berbau politik.

“Bu Rania, apa suami Ibu tidak keberatan kalau mushala ini mendapat bantuan dari Pak Hadi?” tanya Bu Ratna dengan nada menggoda.

Rania tertegun sejenak, tidak tahu harus menjawab apa. Sebelum ia sempat membuka mulut, Bu Lina menyahut dengan nada tegas.
“Kenapa harus keberatan? Renovasi itu kan untuk mushala, bukan untuk orang tertentu.”

Namun, nada suara Bu Ratna terdengar lebih tajam. “Tapi uang dari sumber yang tidak jelas, apa itu berkah, Bu Lina?”

Percakapan itu memicu ketegangan di antara keduanya, sementara Rania merasa seperti berada di antara dua arus yang saling bertolak belakang.


---

Ibrahim dan Tekanan yang Menghimpit

Di luar mushala, Ibrahim sedang memperbaiki sepeda tua milik Siti saat Pak Surya datang menghampiri.
“Pak Ibrahim, saya dengar koperasi mushala mulai condong ke Pak Hadi. Apa Bapak tidak khawatir arah mushala jadi berubah?” tanyanya, menepuk pundak Ibrahim.

Ibrahim menghentikan pekerjaannya sejenak dan menghela napas. “Pak Surya, saya hanya ingin mushala ini tetap menjadi tempat ibadah, bukan panggung politik.”

Pak Surya tersenyum tipis. “Kita punya niat baik, Pak Ibrahim. Tapi kalau tidak hati-hati, orang-orang yang punya agenda pribadi bisa mengambil alih.”

Ucapan itu terus terngiang di pikiran Ibrahim. Ia tahu bahwa menjaga mushala tetap netral di tengah situasi seperti ini semakin sulit. Bahkan koperasi yang ia kelola mulai menjadi sasaran isu politik.

---

Perselisihan yang Terbuka

Malam itu, mushala kembali dipenuhi warga untuk menghadiri rapat bulanan. Topiknya adalah pembahasan rencana renovasi mushala. Namun, diskusi yang seharusnya damai berubah menjadi arena debat panas.

“Saya pikir, kalau Pak Hadi mau membantu, kita harus terima. Kita butuh dana itu!” seru Pak Hasan, yang dikenal sebagai pendukung setia Hadi.

Pak Surya langsung menyanggah. “Tapi apa kita mau menjual prinsip kita hanya demi uang? Mushala ini harus tetap bebas dari kepentingan politik!”

Suasana memanas ketika beberapa warga mulai saling bersahutan. Ustaz Salman yang duduk di depan mencoba menenangkan suasana.
“Saudara-saudara, kita di sini untuk mencari solusi, bukan memperbesar perbedaan. Ingatlah, mushala ini adalah rumah kita bersama.”

Namun, kata-kata Ustaz Salman seakan tidak cukup untuk meredam emosi yang sudah memuncak. Di sudut ruangan, Rania duduk diam, merasa bahwa ketegangan ini hanya akan membawa dampak buruk bagi desa.


---

Dampak Konflik di Rumah

Malam itu, Rania dan Ibrahim duduk berdua di teras rumah mereka. Angin malam berembus perlahan, tetapi hati mereka terasa berat.
“Mas, aku merasa semakin sulit untuk ikut aktif di mushala. Orang-orang di sana lebih sibuk berdebat daripada berbuat baik,” kata Rania pelan.

Ibrahim menatap istrinya dengan sorot mata penuh pengertian. “Aku tahu, Rania. Tapi kita tidak boleh menyerah. Mushala itu bukan hanya milik mereka yang suka berdebat, tapi juga milik kita yang ingin mencari ketenangan.”

Rania mengangguk, meski hatinya masih diliputi keraguan. Dalam diam, ia bertanya-tanya apakah ia sanggup bertahan di tengah konflik yang semakin tajam.


---

Akhir Seri 3: Retakan yang Semakin Dalam

Pada Jumat pagi, saat khutbah selesai, warga mulai meninggalkan mushala. Di halaman depan, beberapa orang tampak berbisik-bisik, membicarakan sesuatu dengan nada sinis.

“Pak Ibrahim itu sok netral, padahal jelas-jelas mendukung Pak Arifin,” ujar salah satu warga.

“Dan istrinya, Bu Rania, aku lihat dia mulai condong ke kelompok Bu Ratna,” balas yang lain.

Kata-kata itu sampai ke telinga Ibrahim dan Rania. Meski mereka tidak berkata apa-apa, keduanya merasa bahwa retakan di antara warga mulai merambat ke kehidupan pribadi mereka.

Di sisi lain, Ustaz Salman berdiri memandangi mushala yang perlahan kosong, dengan tatapan penuh kekhawatiran. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya, apakah mushala yang ia impikan sebagai tempat persatuan justru akan menjadi saksi perpecahan yang lebih besar?

Bersambung ke Seri 4: Badai di Balik Kampanye

Komentar