Relawan PETA Akan Gelar Aksi di Pasar Jatinegara
Ingatkan Bahaya Pasar Hewan Hidup bagi Kesehatan Publik
ASKARA — Sekelompok relawan PETA yang mengenakan alat pelindung diri (APD) dan membawa poster bertuliskan “Pasar Hewan: Kejam dan Mematikan” akan berkumpul di depan Pasar Hewan Jatinegara pada Selasa siang. Aksi ini dilakukan untuk memperingatkan masyarakat bahwa kondisi pasar hewan hidup yang kumuh dan penuh penyakit berpotensi menciptakan titik penyebaran baru bagi penyakit zoonotik yang mematikan.
Para relawan berencana menyoroti bahwa banyak penyakit berbahaya yang telah menyebabkan pandemi atau epidemi bersumber dari hewan sebelum ditularkan ke manusia. Beberapa di antaranya adalah COVID-19, AIDS, flu burung, flu babi, SARS, MERS, Ebola, dan Zika. Mereka mendesak masyarakat untuk mempertimbangkan gaya hidup vegan sebagai langkah untuk melindungi manusia dan hewan dari ancaman serupa di masa depan.
“Baik penganiayaan hewan maupun penyakit berbahaya, tersebar luas di pasar hewan hidup yang kumuh. Di tempat-tempat ini, hewan seperti kelelawar, monyet, dan banyak spesies lainnya ditempatkan dalam kandang sempit dan kotor, menciptakan risiko kesehatan bagi publik,” ujar Jason Baker, Senior Vice President PETA dalam keterangan, Senin (11/11).
Dikatakan, selama manusia terus memelihara, mengurung, dan mengonsumsi hewan, pandemi mematikan akan sulit dihindari. Kami mendesak publik untuk beralih menjadi vegan demi keberlanjutan hidup semua pihak.
Aksi ini akan berlangsung di lokasi strategis di depan Pasar Hewan Jatinegara, yang terletak di Jl. Jatinegara Barat, Jakarta Timur. PETA mengutip pandangan para ilmuwan yang meyakini bahwa COVID-19, yang telah menelan lebih dari 161.000 korban jiwa di Indonesia, mungkin berasal dari pasar hewan hidup di China, di mana hewan hidup dan mati dijual berdampingan tanpa pengawasan yang ketat.
Investigasi PETA sebelumnya juga menemukan kondisi miris di pasar-pasar hewan hidup di seluruh dunia, di mana hewan-hewan berpenyakit dan tertekan ditempatkan dalam kandang kotor dan sempit, sehingga mudah menyebarkan penyakit. Situasi ini semakin diperparah dengan lingkungan yang penuh stres bagi hewan-hewan yang berasal dari sumber yang tidak terlacak.
PETA, yang mengusung semboyan “hewan bukan milik kita untuk dikonsumsi atau dianiaya dengan cara apapun,” menentang spesiesisme, sebuah pandangan yang mengutamakan manusia di atas spesies lain.

Komentar