Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:20
COMMUNITY

Diapari Sibatangkayu, Penjaga Etika Pers Nasional Berpulang

Diapari Sibatangkayu, Penjaga Etika Pers Nasional Berpulang
Diapari Sibatangkayu (Dok Askara)

ASKARA - Dunia pers Indonesia kehilangan salah satu penjaga integritas profesi. Wartawan senior sekaligus Anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, H. Diapari Sibatangkayu, wafat pada Sabtu (4/7/2026) pukul 10.40 WIB di RS Polri, Jakarta, dalam usia 63 tahun.

Kepergian Diapari meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar PWI dan insan pers nasional. Selama puluhan tahun, ia dikenal sebagai wartawan yang teguh memegang kode etik, konsisten menjaga marwah organisasi, serta menjadi sosok yang dihormati lintas generasi.

Lahir di Padang Sidempuan pada 8 Mei 1963, Diapari mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia jurnalistik. Kiprahnya tidak hanya sebagai wartawan senior, tetapi juga sebagai organisatoris yang aktif membina anggota dan mengawal kehidupan organisasi PWI.

Sebelum dipercaya menjadi Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat, Diapari menjabat Ketua Dewan Kehormatan PWI Jaya periode 2019–2024. Dalam posisi tersebut, ia dikenal sebagai figur yang tegas namun bijaksana dalam menegakkan Kode Etik Jurnalistik. Baginya, menjaga kehormatan profesi lebih penting daripada kepentingan pribadi maupun kelompok.

Di tingkat nasional, perannya semakin besar sebagai Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat. Ia aktif mengawal penerapan kode etik, memberikan pertimbangan dalam berbagai persoalan organisasi, serta terlibat dalam tim verifikasi dan penjaringan pada pelaksanaan Kongres PWI. Pengalaman dan ketenangannya menjadikan Diapari salah satu rujukan ketika organisasi menghadapi persoalan etik maupun internal.

Di balik ketegasannya, Diapari dikenal sebagai pribadi yang hangat, rendah hati, dan mudah bergaul. Kabar wafatnya pun mengejutkan banyak sahabat yang belum lama bersamanya menjalankan tugas organisasi.

Ketua PWI Jaya Kesit B. Handoyo mengaku sangat terpukul karena baru sepekan lalu bersama almarhum menjadi penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Bandung.

"Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji'un. Ya Allah, minggu lalu baru sama-sama menguji di Bandung," ujar Kesit dengan penuh duka.

Menurut Kesit, Diapari merupakan sosok senior yang bersahaja, penuh dedikasi, dan selalu menjalankan amanah organisasi dengan sepenuh hati. Kehilangannya menjadi duka besar bagi keluarga besar PWI.

Hal senada disampaikan wartawan senior A.R. Loebis, yang juga bertemu dengan almarhum saat kegiatan UKW di Bandung.

"Ya Allah... terakhir bertemu alm Sibatangkayu minggu lalu menguji UKW di Bandung. Masih segar bugar. Ia pergi begitu cepat. Selamat jalan sahabat baik. Semoga surga Allah tempat akhirmu," tulisnya.

Ungkapan kehilangan juga datang dari Ahmad Syukri dari PWI Jawa Barat yang mengenang kebersamaan mereka saat menikmati kopi di Bandung.

"Ya Allah, Bang Kayu... terakhir ngopi di Horison Bandung minggu lalu. Sempat ngajak nengok kebunnya di Subang. Selamat jalan Bang, insya Allah husnul khatimah, aamiin," ungkapnya.

Ketua SIWO PWI Jaya, Noni, mengaku masih sulit mempercayai kabar duka tersebut karena baru beberapa hari sebelumnya bertemu dengan almarhum.

"Bang Ukaaayyy... Ya Allah, cepat banget. Rasanya baru ketemu sekitar empat sampai lima hari lalu, Bang. Selamat jalan Abang, semoga Allah menempatkan Abang di tempat terbaik-Nya dan keluarga besar diberi ketabahan. Amin," ujarnya.

Sementara itu, sahabat almarhum, Toni Limbong, SH, mengenang Diapari sebagai pribadi yang baik dan penuh ketulusan.

"Turut berduka cita atas meninggalnya Diapari Sibatangkayu. Beliau orang baik. Selamat jalan, Abangku," katanya.

Semasa hidup, Diapari percaya bahwa kebebasan pers harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral, profesionalisme, dan kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik. Nilai-nilai itulah yang terus ia tanamkan kepada generasi wartawan muda selama mengabdi di PWI.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka di Jalan Raya Condet 66 Awi Nomor 28, RT 015/RW 003, Jakarta Timur.

Kepergian H. Diapari Sibatangkayu menandai berakhirnya perjalanan seorang wartawan yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kehormatan profesi. Integritas, keteladanan, dan pengabdiannya akan tetap dikenang sebagai bagian penting dalam sejarah Persatuan Wartawan Indonesia dan dunia pers nasional.

 

Komentar