Bahagia itu Sederhana
ASKARA - Mendefinisikan arti bahagia bisa beragam; setiap orang dapat memiliki tafsir yang berbeda. Setidaknya, bahagia membutuhkan tolok ukur atau alasan yang melatarbelakanginya. Sekadar bertemu, makan bersama, bercengkerama, dan bernyanyi bersama adalah anugerah yang patut disyukuri. Setidaknya, itulah arti bahagia yang sering dirasakan oleh komunitas alumni suatu perguruan tinggi swasta yang menamakan diri mereka sebagai Grup Kemang.
“Nama Grup Kemang itu terinspirasi dari awal mula kami belajar bersama di kawasan perumahan Kemang pada tahun 1980-an. Alhamdulillah, nama itu seakan menjadi berkah yang memberi motivasi untuk terus menjaga silaturahmi hingga saat ini,” ujar Chandra di Bintaro, Jakarta Selatan (31/10).
Agung Dumadi (65 tahun), salah satu anggota Grup Kemang, menimpali bahwa mensyukuri apa yang telah diperoleh sudah cukup untuk mendefinisikan kebahagiaan. “Yang penting kita bisa kumpul bareng, makan bersama sambil bercanda itu sudah bahagia. Tambah seru lagi kalau yang diobrolin kisah cinta masa lalu yang belum tergapai,” ujarnya sambil tertawa lepas.
Persahabatan yang telah berjalan hampir 45 tahun ini menorehkan banyak kenangan serta ikatan batin yang semakin memperkuat tali persahabatan. Kuatnya ikatan yang tak lekang oleh waktu itu memberikan arti kebahagiaan tersendiri bagi anggota Grup Kemang.
Dengan usia yang tak lagi muda, para anggota Grup Kemang merasakan kebahagiaan dalam mensyukuri kehidupan dan apa yang telah mereka capai. “Saya bersyukur, sangat bersyukur seusia ini masih ada sahabat-sahabat yang senantiasa memberikan dukungan tanpa pamrih, tidak hanya di kala suka, tetapi justru di saat-saat terpuruk. Bahagia rasanya,” tutur Tien Tuhidin (64 tahun).
Mensyukuri hal-hal kecil di sekitar kita adalah kunci kebahagiaan. Bertemu, kumpul bareng, dan bergurau dapat meningkatkan suasana hati. Berjumpa teman secara rutin sebagai bentuk interaksi sosial yang positif membuat kita bahagia. Bahagia itu sederhana.

Komentar