Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:02
NEWS

Membedah Arah Ekonomi Indonesia di Era Kepemimpinan Prabowo-Gibran

Tantangan Turunnya Kelas Menengah

Membedah Arah Ekonomi Indonesia di Era Kepemimpinan Prabowo-Gibran
Membedah arah ekonomi Indonesia di era kepemimpinan Prabowo-Gibran (Dok Sekar)

ASKARA — Sekretariat Nasional Forum Masyarakat Katolik Indonesia mengadakan Webinar bertajuk “Membedah Arah Ekonomi Indonesia di Era Kepemimpinan Prabowo-Gibran: Tantangan Turunnya Kelas Menengah”. Acara ini merupakan bagian dari pra Pertemuan Nasional FMKI pada 7-8 Desember 2024, yang bertujuan untuk membahas penurunan kelas menengah di Indonesia dalam dekade terakhir.

Dua narasumber ahli, Lestary Jakarta Barany (Founder, Idekonomi) dan Alexander Michael Tjahjadi (Sustainable Growth Lab, Think Policy Indonesia), mengungkapkan bahwa proporsi kelas menengah telah turun dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Mereka menyoroti ketergantungan kelas menengah pada sektor informal yang rentan terhadap risiko ekonomi.

Michael menekankan bahwa program pemerintah saat ini lebih berfokus pada kelas bawah. Arsitektur pembangunan Indonesia untuk 2025-2029 menyisakan celah dalam mendukung kelas menengah. "Siapa yang sebenarnya mendapatkan manfaat? Apakah program ini benar-benar menguntungkan masyarakat, khususnya kelompok yang paling rentan, atau justru memperkaya pemain besar seperti big player atau oligarki? ucap Michael.

Sementara Lestary menyoroti fenomena deindustrialisasi prematur, yang mana sektor manufaktur belum mencapai kematangan penuh namun sudah bergeser ke sektor jasa. “Sayangnya, produktivitas di sektor jasa lebih rendah dibandingkan manufaktur, menyebabkan dampak struktural yang signifikan. Fenomena ini menciptakan masalah terkait rendahnya produktivitas, serta memunculkan tantangan di bidang sumber daya manusia dan infrastruktur,” ujar Lestary. 

Kelas menengah dianggap kunci perubahan, dan untuk itu pemerintah harus meningkatkan proporsi mereka hingga 8% melalui peningkatan pendapatan, pertumbuhan ekonomi inklusif, dan penciptaan lapangan kerja berkelanjutan. Strategi yang disarankan termasuk infrastruktur yang tepat sasaran dan investasi pada sumber daya manusia, dengan memanfaatkan tren global seperti transisi digital dan hijau.

Dengan fokus pada pemberdayaan kelas menengah dan pembangunan berkelanjutan, Indonesia diharapkan dapat mencapai visi menjadi negara maju pada 2045.

 

Penulis: Theresia Sekar Hamukti

Komentar