Selasa, 01 September 2026 | 16:44
Ruang Menulis

Romantisnya Kepulauan Seribu di Penghujung Senja

Romantisnya Kepulauan Seribu di Penghujung Senja
Para penulis buku Menguak Kisah Kepulauan Seribu (Dok.RMID)

Oleh : Rita Marita

ASKARA - Membicarakan sejarah Batavia dimasa lampau memang tidak pernah ada habisnya, berbagai versi sejarah menggoreskan berbagai kisah bagaimana Pemerintah Hindia Belanda menjajah negeri ini dengan caranya hingga berabad kisah yang akhirnya begitu kaya warna mengungkap kembali kisah pilu dimasa itu.

Tetapi kali ini saya tidak membahas mengenai bagaimana sejarah pilu masa lampau Pemerintah Hindia Belanda yang mengharu biru perasaan, saya ingin menyampaikan kesan dari sebuah Buku Antologi berjudul “MENGUAK KISAH KEPULAUAN SERIBU; Bunga Rampai Histori Masa Lampau Hingga Kini” yang digagas oleh Usi Graece Tanus, dkk yang bekerja sama dengan Komunitas Ruang Menulis ID. Yang unik adalah kisah dari para penulisnya yang berasal dari pemenang lomba menulis yang bertema “MELUKIS SENJA DI MUSEUM BAHARI” dari 37 naskah yang masuk terpilih 6 penulis terbaik yang akhirnya bisa bergabung dalam penulisan buku antopogi ini.

Tanggal 28 Juni 2024 lalu bertempat di Museum Bahari Jakarta Buku antologi berjudul “MENGUAK KISAH KEPULAUAN SERIBU; Bunga Rampai Histori Masa Lampau Hingga Kini” para penulis ini berkisah dan menuturkan Kepulauan Seribu.

GRAECE TANUS berkisah mengenai betapa kagumnya dia akan keindahan Pulau Cipir dan Pulau Onrust serta menggali kisah bagaimana Stasiun Karantina pertama itu berada di Indonesia, terus apa yang akan terjadi dengan kondisi Stasiun Karantina hari ini? Bagaimana perannya dalam menghadapai tantangan Kesehatan global seperti pandemik yang pernah berlangsung? Apakah nilai-nilai dan pembelajaran dari sejarah Stasiun Karantina masih relevan untuk masa kini? Dan bagi Graece Tanus sejarah adalah cermin yang memantulkan perjalanan manusia melalui waktu, dan dari cermin itu kita dapat memetik pelajaran berharga untuk masa depan yang lebih baik.

IWAN KURNIAWAN DARUSMAN menuturkan “Kilauan Mutiara Di Ujung Jakarta” yang mengagumi bangunan benteng yang dibangun oleh VOC yang terletak di Kepulauan Seribu. Di Pulau Bidadari terdapat Benteng Martello yang dibangun oleh VOC pada abad ke 17 yang pada saat itu dipergunakan oleh Pemerintah Hindia Belanda dari serangan Portugis, Benteng Martello ini mempunyai nama lain yaitu Benteng Menara dengan bentuk bangunan bundar dan tinggi, pada tahun 1850 benteng tersebut dipergunakan sebagai sistem pertahanan laut kota Batavia. Benteng Martello sendiri dibangun pada tahun 1805 benteng ini mengalami keruntuhan disebabkan karena serangan pasukan tentara Inggris dan kondisi perubahan alam. Bangunan utama dari benteng ini terbuat dari batu bata merah dan semen saat ini hanya tersisa sekitar dua meter dari yang semestinya mencapai 5-6 meter. Bagi Iwan perjalanan wisata ke 4 pulau di Kepulauan Seribu sangat meninggalkan kesan dan kesenangan tersendiri, dan menyadarkan bahwa Jakarta memiliki pantai yang tidak kalah indah dengan pantai lainnya yang ada di Indonesia, yang daya jangkaunya tidak membutuhkan waktu lama dan biaya mahal yang mengeksplornya itu sebabnya Iwan menuturkan keindahannya seperti Kilauan Mutiara di Ujung Jakarta.

Lain lagi kisah yang dituliskan oleh LINDA ENRIANY yang begitu terpesona oleh keindahan Pulau Tidung itu mengapa beliau berkisah dan mengambil judul tulisannya “Pulau Tidung Yang Menyimpan Kisah Menarik”. Tidak disangka penduduk di Pulau Tidung itu berasal dari berbagai suku bangsa antara lain Bugis, Mandar, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera, Sumbawa dan Banten. Menurut keterangan lurah setempat Pulau Tidung Besar ini mempunyai luas + 54 hektar terdiri dari 4 RW dan 29 RT, 1.142 kepala keluarga dan terdiri dari 4.354 jiwa dengan mata pencaharian sebagai nelayan. Kalau  Pulau Tidung Kecil luasnya + 18 hektar dan saat ini tidak berpenghuni. Bagi Linda Pulau Tidung merupakan destinasi wisata bahari yang memiliki pesona pemandangan laut yang menakjubkan dan yang menjadi iconnya adalah Jembatan Cinta yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Di dekat pulau ini terdapat penangkaran ikan hias dan penyu laut yang dikelola oleh Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta, ikan yang ditangkar di tempat ini dikenal dengan nama Ikan Nemo yang berwarna kuning dan hitam yang sangat cantik dengan memiliki belang warna putih dan hitam, dan harga jualnya cukup tinggi mencapai Rp.150.000,- perekornya.

ARIMBI PRABANADJMITHA seorang penulis muda belia mengisahkan “Sejarah Indonesia Dalam Kepulauan Seribu”, Arimbi sangat tertarik menuliskan kisah mengenai sejarah Kepulauan Seribu pada tahun 1800 tentara Inggris menyerang dan menghancurkan semua bangunan yang terdapat pada Pulau Onrust lalu pada tahun 1803 Pemerintah Hindia Belanda membangun kembali perancangan dan menyelesaikan pembangunan di tahun 1810. Namun sayangnya pembangunan kedua itu juga telah dimusnahkan oleh Tentara Inggris dan mengambil alih Pulau Onrust  sampai tahun 1816. Pada tahun 1828 Pemerintah Belanda melakukan pembangunan untuk yang ketiga kalinya, hanya bedanya kali ini mereka memperkerjakan orang-orang Cina dan Para Tahanan. Pada tahun 1911 Pulau Onrust ini berfungsi sebagai Karantina Haji, terdapat 35 unit barak yang terdapat di pulau ini dan dapat menampung 100 orang. Kini reruntuhan tempat mandi, toilet serta sebuah terowongan bawah tanah yang terhubung dengan empat pulau lainnya dapat dijumpai di tempat ini.

RURISA CANDRA AMARTAWATI HARTOMO, ini merupakan buku antologi ketiga yang ditulisnya. Kecintaannya akan alam dan kepeduliannya akan lingkungan itu yang menjadikan dirinya mengambil tema yang berbeda dari penulis antologi lainnya dalam buku ini, kalau penulis lain mengambil sisi keindahan, sejarah, nama besar dari Kepulauan seribu, Risa memilih tema tulisan yang tidak pernah terpikirkan oleh penulis lainnya yakni menyoroti tentang sampah itu sebabnya dia mengambil judul tulisan “Jangan Lagi Kau Kirim Sampah”. Dibuka dengan sebuah puisi yang menyiratkan keresahan hatinya akan sampah yang menyerang gugusan kecantikan Kepualauan Seribu. Produksi sampai di Pulau Onrust sendiri tidak terlalu banyak, di pulau ini yang dijumpai adalah sampah daun yang berguguran dari pohon dan sampah plastik sisa berbagai macam kemasan, mereka sudah diajarai cara memilah sampah sesuai dengan jenisnya, lalu kemudian sampah-sampah tersebut dikumpulkan  di bak penampungan dan kemudian diambil oleh petugas lingkungan hidup, sekitar satu atau dua kali dalam satu minggu tergantung dengan kondisi cuaca di laut. Sampah di tempat ini sangatlah dijaga supaya tidak menjadi timbunan yang bisa menjadi sumber penyakit bagi area sekitar yang bisa menimbulkan bau tidak sedap, sampah bisa menyebabkan banjir dan merusak pemandangan pulau sebagai tempat wisata. Pihak Museum sebagai pengelola sangat memperhatikan hal ini mengingat Pulau Onrust sebagai destinasi tujuan wisata.

Sebuah buku antologi yang sangat menarik untuk dimiliki dan dibaca, karena buku ini mengulas sisi lain dari Kepulauan Seribu yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat luas pada umumnya, bagi penyuka laut Kepulauan Seribu ini bisa dieksplor dalam waktu 1 (satu) hari atau one day trip tetapi jika ingin lebih lama menikmati panorama bisa dengan bermalam di pulau.

Penulis dalam buku antologi kali ini tidak hanya didominasi oleh para penulis senior, tetapi melibatkan pula penulis-penulis muda tanpa batasan usia dan baru pertama kali menulis, mereka bisa tergabung dalam antologi ini karena mereka memenangkan lomba yang di adakan oleh RUANGMENULIS.ID (RMID) dengan mengangkat tema “Melukis Senja di Museum Bahari”.

Penasaran dengan cerita lainnya tentang Kepulauan Seribu?Segera miliki bukunya dan pemesanan dapat menghubungi no WA 0818116522 atau DM IG ruang_menulis.id dan bisa juga langsung  di Museum Bahari Jakarta, Jln. Pasar Ikan No.1, Jakarta Utara.

 

 

Komentar