Rabu, 17 Juni 2026 | 22:10
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri Sampaikan Gagasan di Asian-Pacific Aquaculture 2024

Prof. Rokhmin Dahuri Sampaikan Gagasan di Asian-Pacific Aquaculture 2024
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS

ASKARA - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University, 
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS berbagi  tentang dinamika geopolitik global dan kondisi sosial ekonomi terkini yang sama sekali tidak kondusif bagi pembangunan berkelanjutan, terutama sehubungan dengan meningkatnya pengangguran, kemiskinan, kekurangan gizi dan kelaparan yang memaksa para pengangguran dan masyarakat miskin untuk mengeksploitasi ekosistem alam secara tidak berkelanjutan. termasuk pesisir dan lautan.

"Sebelum Pandemi Covid-19 pada bulan Desember 2019, sekitar 1,3 miliar orang masih miskin dan sekitar 700 juta orang kelaparan," ujar Prof. Rokhmin Dahuri mengutip Bank Dunia, 2020 saat menjadi pembicara utama di  Asian-Pacific Aquaculture (APA 2024)
di Surabaya, 3 Juli 2024.

APA 2024 di gelar atas kerjasama Kementerian Kelautan Perikanan RI, World Aquaculture Society dan PT. Tirta Anugerah Abadi. Tahun ini event tersebut mengangkat tema Aquaculture - Driving The Blue Economy di Surabaya 2-5 Juli 2024.

APA 2024 diikuti perwakilan 26 negara yang tersebar di lima benua yakni Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia. Deretan negara tersebut diantaranya Amerika Serikat, Australia, Belgia, Belanda, Spanyol, Inggris, Prancis, Mesir, Korea, Jepang, Indonesia, serta negara-negara lain di Asia.

Dalam paparannya bertema "Aquaculture Is A Game Changer For A Better, Prosperous, And Sustainable World: With a Special Reference for Indonesia", Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan, akibat Pandemi Covid-19, Perang Rusia vs Ukraina, Israel vs Palestina, dan ketegangan geopolitik lainnya yang meningkat (khususnya AS vs China), dunia dihadapkan pada krisis pangan dan energi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah  

"Sebagai konsekuensinya, saat ini jumlah penduduk miskin dunia menjadi 3 miliar, miskin ekstrem 1,5 miliar jiwa, dan 1 miliar kelaparan," tegas Ketua Umum  Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), mengutip Bank Dunia dan UNDP, 2022.

Lanjutnya, lebih dari dua miliar orang di seluruh dunia menghadapi kerawanan pangan, yang didefinisikan sebagai ketidakpastian akses terhadap jumlah pangan yang cukup untuk hidup sehat. 

Jumlah orang yang mengalami kerawanan pangan secara global terus meningkat, yaitu sebanyak 300 juta orang sejak tahun 2014.

Asia-Pasifik memiliki prevalensi kerawanan pangan tertinggi kedua dengan 48% populasinya menganggap rawan pangan.

Pada tahun 2020, 2 miliar orang tidak memiliki akses terhadap air minum, 3,6 miliar orang (45% populasi dunia) tidak memiliki toilet di rumah, dan 2,3 miliar orang tidak dapat mencuci tangan di rumah, kondisi sanitasi yang buruk menyebabkan terhadap penyakit (PBB, 2020).

Kondisi tersebut jauh dari target SDGs yang ditetapkan PBB pada tahun 2015. Salah satunya adalah “menjamin akses terhadap air dan sanitasi bagi semua orang pada tahun 2030”.

Selain itu, Kapitalisme (paradigma utama pembangunan global) juga menjadi penyebab utama melebarnya ketimpangan ekonomi (kesenjangan antara penduduk kaya dan miskin) baik di dalam maupun antar negara di dunia.

Bahkan, Bank Dunia (2022) memproyeksikan bahwa tanpa upaya sungguh-sungguh untuk mengatasi kesenjangan, tingkat kemiskinan tidak akan kembali ke tingkat sebelum krisis bahkan pada tahun 2030. 

Selain kematian yang disebabkan oleh kurangnya akses terhadap layanan kesehatan, kemiskinan juga membunuh banyak orang karena kelaparan. Kematian akibat kelaparan telah menjadi dampak signifikan dari kemiskinan selama beberapa dekade. Kelaparan membunuh setidaknya 5.773 orang setiap hari (Oxfam, 2022).

Dan yang lebih memprihatinkan adalah bahwa keserakahan manusia dan orientasi keuntungan sebesar-besarnya sebagai prinsip dasar Kapitalisme telah mendorong eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan pelepasan limbah dan GRK (Gas Rumah Kaca) ke lingkungan secara berlebihan yang mengakibatkan tiga krisis ekologi: Global Perubahan Iklim, Hilangnya Keanekaragaman Hayati, dan Polusi.

'Krisis rangkap tiga ekologi ini jika tidak ditangani dengan baik dan cepat akan mengancam tidak hanya pembangunan ekonomi namun juga kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri," kata Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas Bremen, Jerman itu.

Selain itu, sambungnya, pengangguran, kemiskinan, kelaparan, kesenjangan ekonomi yang semakin melebar, dan ketidakadilan telah menjadi akar penyebab radikalisme, kerusuhan, dan terorisme (Armstrong, 2010; Yunus, 2016; Oxfarm International, 2021).

Maka, untuk  perikanan sebagai pengubah  dunia yang lebih baik, sejahtera, dan berkelanjutan, antara lain:

1. Populasi dunia dan pendapatannya (daya beli) yang semakin meningkat  permintaan manusia terhadap pangan, energi, produk farmasi, mineral, dan komoditas lainnya (sumber daya alam) dan produk lainnya meningkat secara signifikan.  

Selain itu, semakin meningkatnya kesadaran masyarakat bahwa ikan dan makanan laut lebih sehat dan lebih baik NUTRISInya dibandingkan daging merah  membuat permintaan terhadap ikan dan makanan laut juga semakin meningkat.

2. Dalam konteks sektor penghasil pangan (pertanian, peternakan, budidaya perikanan, dan perikanan tangkap); Hanya perikanan budidaya yang masih mempunyai ruang besar untuk memperluas produksinya.  

Sederhananya, karena 72% permukaan bumi ditutupi oleh lautan dan samudera, dan sekitar 20% daratannya merupakan ekosistem air tawar (sungai, danau, dan waduk).  

Selain itu, tingkat pemanfaatan (produksi) budidaya perikanan, khususnya di lingkungan perairan (marikultur) dan pesisir (budidaya air payau), masih jauh lebih rendah dibandingkan total potensi produksinya.  

Sementara itu, produksi perikanan tangkap global relatif stagnan sejak akhir tahun 1980an, berfluktuasi antara 86 juta ton hingga 94 juta ton per tahun dengan puncaknya sebesar 96 juta ton pada tahun 2018. (FAO, 2024).  

Dan, pengembangan peternakan dan pertanian juga terhambat oleh konversi lahan pertanian menjadi penggunaan lahan lain, polusi, degradasi lingkungan ekosistem darat, dan konflik sosial. 

3. Akuakultur bukanlah sebuah ilmu roket dan bukan bisnis padat modal sehingga akuakultur pada dasarnya adalah bisnis yang dapat dijalankan oleh kebanyakan orang  Baik untuk mengatasi pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan ekonomi yang semakin meningkat.

4. Secara umum, investasi dan bisnis perikanan budidaya menguntungkan dan terbarukan, sebagian besar berlokasi di wilayah laut, pesisir, pulau-pulau kecil, dan pedesaan.  

Baik untuk mengentaskan kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi kesenjangan pembangunan regional antara wilayah perkotaan dan pedesaan.  Kalau kasus Indonesia adalah antara Pulau Jawa vs Pulau Luar.

5. Produksi perikanan tangkap global relatif stabil sejak akhir tahun 1980an, berfluktuasi antara 86 juta ton dan 94 juta ton per tahun dengan puncaknya sebesar 96 juta ton pada tahun 2018. 

Sementara itu, produksi perikanan budidaya global terus mengalami tren peningkatan pada tahun 2020, 2021 , dan tahun 2022 tidak terganggu oleh pandemi COVID-19.  

Tahun 2022 merupakan tahun pertama dalam sejarah dimana produksi akuakultur global untuk spesies hewan (ikan, krustasea, dan moluska) diperkirakan mencapai 94,4 juta ton (51%) melampaui produksi perikanan tangkap global yang berjumlah 91 juta ton (49%).  

Faktanya, angka pada tahun 2022 sebesar 94,4 juta ton hewan akuakultur (budidaya) lebih tinggi dibandingkan produksi perikanan tangkap tahunan setiap tahunnya sejak tahun 1950, kecuali pada tahun 2018 ketika 96,5 juta ton hewan akuatik diproduksi (ditangkap) melalui perikanan tangkap ( FAO, 2024). 

"Dalam empat dekade terakhir akuakultur merupakan industri pangan dengan pertumbuhan tercepat dibandingkan dengan sektor penghasil pangan lainnya termasuk pertanian, peternakan, dan perikanan tangkap," sebut Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara)itu.

6. Berdasarkan definisinya, budidaya perikanan tidak hanya menghasilkan ikan bersirip, krustasea, moluska, dan rumput laut; tetapi juga invertebrata, serta flora dan fauna lainnya (FAO, 1998).  

Oleh karena itu, budidaya perikanan sebenarnya merupakan sektor pembangunan yang tidak hanya menghasilkan komoditas pangan sebagai sumber protein hewani (misalnya ikan bersirip, krustasea, dan moluska), tetapi juga: (1) komoditas pangan sebagai sumber mineral, vitamin, dan karbohidrat (beras). dan tanaman pangan); 

(2) komoditas (misalnya invertebrata, mikroalga, dan makroalga) sebagai sumber bahan baku (senyawa bioaktif) makanan dan minuman fungsional, industri farmasi, lukisan, dan industri lainnya; (3) komoditas sebagai sumber biofuel (misalnya mikro alga); (4) komoditi perhiasan; dan komoditas lainnya untuk berbagai kegunaan lainnya. 

7. Budidaya mikroalga, makroalga (rumput laut), tumbuhan air, dan organisme lain yang dapat menyerap CO2 dan Gas Rumah Kaca (GRK) lainnya dapat menjadi penyerap (sequestrian) GRK tersebut secara signifikan untuk memitigasi (menghentikan) Iklim Global Perubahan (Pemanasan Global).

Mengutip Parker, 1998, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan, engertian Akuakultur bahwa “Akuakultur adalah budidaya (produksi) ikan bersirip, krustasea, moluska, invertebrata, alga, tumbuhan, dan organisme lain melalui penetasan dan/atau pemeliharaan di ekosistem perairan”."

Ekspor Rumput Laut

Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia masih mendominasi ekspor rumput laut kering. Produk ekspor rumput laut Indonesia sebesar 66,61% didominasi rumput laut kering, sedangkan rumput laut olahan (karagenan dan agar-agar) masih sebesar 33,39%. 

Pada tahun 2023, Indonesia memproduksi 10,7 juta ton rumput laut basah. Pemanfaatan olahan rumput laut selama ini paling banyak dimanfaatkan untuk produk makanan dan minuman sebesar 77%, sedangkan untuk obat-obatan, kosmetik, dan lainnya baru sebesar 23%. Industri ini perlu lebih adaptif terhadap perubahan dan perkembangan pasar.

"Singkatnya, bila ditempatkan dan dikelola dengan baik, budidaya perikanan berpotensi menjadi ‘obat mujarab’ bagi banyak masalah dan tantangan pembangunan ekonomi dan peradaban manusia di abad ke-21," kata Prof. Rokhmin Dahuri.

Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri menerangkan, Indonesia mendominasi produksi rumput laut, namun sebagian besar menggunakannya untuk dalam negeri (59%). 15% digunakan untuk produksi agar dan karagenan. 26% diekspor (senilai $400 juta, peringkat ke-5 dalam ekspor perikanan nasional). 

"Namun, terdapat pasar global yang besar untuk pangan fungsional berbasis rumput laut, yang diperkirakan akan mencapai 35 juta ton pada tahun 2050," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia 2001 - 2004.

Potensi hilirisasi rumput laut untuk industri pakan bernilai 1,078 juta dollar AS, industri feed additive 1,122 juta dollar AS, dan industri biostimulan 1,876 juta dollar AS.

Untuk memanfaatkan potensi ini, Indonesia bertujuan untuk meningkatkan produksi melalui praktik pertanian yang lebih baik, teknologi maju, dan proyek budidaya skala besar di Teluk Awang, Lombok, NTB.

Masalah Dan Tantangan Bidang Perikanan Berkelanjutan 

Meskipun memiliki peran dan fungsi yang sangat penting, pengembangan dan usaha budidaya perikanan selama ini masih dihadapkan pada berbagai permasalahan dan tantangan baik pada subsistem on-farm, subsistem hulu, subsistem hilir maupun subsistem pendukung antara lain penataan ruang, infrastruktur, logistik, investasi iklim, dan subsistem pendukung. kebijakan politik-ekonomi.

Permasalahan dan permasalahan ini telah membuat produktivitas, efisiensi, daya saing, dan keberlanjutan sebagian besar usaha budidaya perikanan, terutama yang tradisional, menjadi tidak pasti dan terhambat.

Selain itu, sebagian besar operasi budidaya perikanan, terutama usaha budidaya perikanan skala besar dan modern, telah disalahkan (dituduh) menyebabkan pencemaran air, degradasi ekosistem alami (misalnya hutan bakau, danau, dan sungai), invasi spesies asing, dan emisi gas ramah lingkungan. Gas Rumah Tangga (GRK).

Permasalahan pada Subsistem On-farm, antara lain: 

1. Wabah penyakit seperti EMS dan AHPND (Penyakit Nercosis Hepato Pankreas Akut) pada budidaya udang.

2. Meningkatnya harga pakan yang berkualitas.

3. Ketersediaan induk dan benih (larva) berkualitas terbatas.

4. Mayoritas pembudi daya ikan (akuakultur), khususnya unit usaha tradisional dan skala kecil, belum menerapkan BAP (Best Aquaculutre Practices) yang meliputi: (1) bibit atau larva kualitas terbaik (SPF, SPR, dan fast growing) ; (2) pakan bermutu tinggi serta penggunaannya yang tepat dan benar; (3) pengendalian hama dan penyakit; (4) pengelolaan kualitas air; (5) rekayasa tambak; dan (6) biosekuriti.
Pencemaran danau, sungai, dan laut sebagai media atau sumber air produksi budidaya perikanan.

Permasalahan pada Subsistem Hulu

1. Pemilihan lokasi yang tidak tepat.

2. Posisi tawar budidaya perikanan dalam Rencana Tata Ruang Kota, Kabupaten, Provinsi, dan Negara relatif lebih lemah (lebih rendah) dibandingkan sektor pembangunan lainnya  Akibatnya, lahan budidaya perikanan (perairan) mudah diubah menjadi kawasan industri, pertambangan, pariwisata , infrastruktur, dan penggunaan lahan (air) lainnya.

3. Ketersediaan tepung ikan sebagai sumber protein utama pakan ikan/udang mengalami stagnasi bahkan penurunan yang mengakibatkan harga pakan ikan/udang semakin meningkat.  Padahal, sekitar 60% total biaya produksi budidaya perikanan adalah untuk pakan.

4. Kekurangan listrik, roda pedal, pengumpan otomatis, dan sarana produksi lainnya.

Permasalahan pada Subsistem Hilir

1. Industri pengolahan komoditas perikanan budidaya untuk menghasilkan produk bernilai tambah di banyak negara produsen perikanan budidaya, khususnya di negara berkembang, masih tertinggal.

2. Meningkatnya persaingan di pasar global (ekspor) terhadap beberapa komoditas dan produk perikanan budidaya.

3. Di banyak negara penghasil perikanan budidaya, konsumsi ikan (seafood) per kapita rendah sehingga mengakibatkan rendahnya pasar dalam negeri.

4. Kurangnya kerjasama win-win antara produsen budidaya perikanan (pembudidaya ikan) dengan industri pengolahan  Akibatnya kelangsungan pasokan bahan baku (komoditas budidaya perikanan) ke industri pengolahan tidak terjamin, dan harga komoditas budidaya perikanan yang diterima produsen tidak terjamin. (pembudidaya ikan) juga sangat fluktuatif.

Permasalahan pada Subsistem Pendukung

1. Kurangnya infrastruktur (misalnya saluran irigasi, jaringan listrik, jalan, pelabuhan, serta jaringan telekomunikasi dan internet), dan konektivitas antara daerah penghasil budidaya perikanan dengan industri pengolahan dan lokasi pasar.

2. Industri pengolahan yang ceroboh (tidak ramah lingkungan), pertambangan, pertanian, pembangunan perkotaan, kegiatan domestik (rumah tangga), dan kegiatan pembangunan lainnya telah menimbulkan pencemaran yang parah terhadap danau, sungai, perairan pesisir dan laut sebagai media atau sumbernya. air untuk produksi budidaya perikanan.  

3. Kurangnya akses terhadap suku bunga yang relatif lebih rendah dan persyaratan Pinjaman Bank (Kredit) yang lebih lunak, khususnya untuk Badan Usaha Budidaya Perikanan Skala Mikro dan Kecil (pembudidaya ikan).

4. Belum siapnya langkah-langkah Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim Global, tsunami, badai, dan bencana alam lainnya.

Iklim Investasi yang Tidak Kondusif (misalnya perizinan, dan keamanan usaha), dan kebijakan Politik-Ekonomi (moneter, fiskal, ekspor – impor, dan stabilitas politik). 

Permasalahan dan tantangan yang dihadapi budidaya perikanan berkelanjutan diyakini sangat kuat dapat diatasi dengan menerapkan Teknologi Ekonomi Biru dan Industri 4.0.

Menurut FAO, 2022, Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan memaparkan, tujuan Ekonomi Biru (Transformasi Biru) dalam Budidaya Perairan, antara lain:

1. Meningkatkan pengembangan dan penerapan praktik budidaya perikanan berkelanjutan.

2. Untuk mengintegrasikan budidaya perikanan ke dalam strategi pembangunan dan kebijakan pangan nasional, regional, dan global.

3. Untuk memperluas, mengintensifkan, dan mendiversifikasi produksi akuakultur untuk memenuhi permintaan pangan akuatik yang terus meningkat dan meningkatkan mata pencaharian inklusif.

4. Meningkatkan kapasitas di semua tingkatan untuk mengembangkan dan mengadopsi teknologi inovatif dan praktik manajemen demi industri akuakultur yang lebih efisien dan tangguh.  

Kebijakan dan Program untuk Meningkatkan Produktivitas, Efisiensi (Profitabilitas), Daya Saing, dan Keberlanjutan Produksi Akuakultur On-farm
Untuk program ekspansi dan diversifikasi, lokasi setiap “unit usaha produksi budidaya perikanan” harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

2. Untuk program revitalisasi (intensifikasi), sepanjang lokasi “unit usaha produksi perikanan budi daya on-farm” tidak berada dalam kawasan lindung Rencana Tata Ruang Wilayah yang baru ditetapkan (seperti tambak udang di Taman Nasional Karimunjawa, Kabupaten Jepara , Provinsi Jawa Tengah), harus dipertahankan. 

2.Setiap “unit usaha produksi akuakultur di lahan pertanian” harus memenuhi skala ekonominya.  Yaitu besarnya suatu unit usaha yang menghasilkan laba bersih yang menyejahterakan pemilik dan pekerjanya, dengan pendapatan lebih besar dari US$ 480 (Rp 7,5 juta)/orang/bulan (Bank Dunia, 2023).

3. Penerapan Best Aquaculture Practices: (1) benih (larva, benih) kualitas terbaik yaitu SPF (Specific Pathogen Free), SPR (Specific Pathogen Resistance), Fast Growing, FCR lebih rendah (kalau bisa FCR = 1), dan Climate Ketahanan (toleransi suhu, toleransi salinitas, dll); (2) pakan dengan kualitas terbaik dan relatif lebih murah, serta pemberian pakan yang presisi dengan menggunakan pengumpan otomatis berbasis suara terkini; (3) pengendalian hama dan penyakit; (4) pengelolaan kualitas air untuk menjamin kualitas air pada kolam, keramba, akuarium, dan wadah media lainnya dalam kondisi baik – sangat baik; (5) rekayasa kolam yang baik yang meliputi tata letak, perancangan, dan konstruksi kolam, jaring keramba, dan wadah media lainnya; dan (6) biosekuriti.

4.Penerapan ISCMS (Integrated Supply Chain Management System): Subsistem Hulu, Subsistem On-farm, dan Subsistem Hilir. 

5. Penerapan teknologi produksi budidaya perikanan on-farm yang zero waste seperti bioflock; menggunakan lebih sedikit atau sama sekali tidak menggunakan bahan kimia anorganik; IMTA; menggunakan rumput laut dan kolam kerang sebagai “instalasi pengolahan air limbah biologis”; mendorong budidaya organisme seperti rumput laut tanpa diberi makan; kerang; dan ikan herbivora.

6. Menerapkan transisi energi, dari penggunaan bahan bakar fosil (batubara, minyak, dan gas) menjadi energi hijau dan terbarukan (matahari, hidrogen, gelombang, pasang surut, dan OTEC).

7. Memperkuat dan mengembangkan hatchery yang dapat menghasilkan induk, benih, larva, dan benih “spesies budidaya (komoditas)” dengan kualitas terbaik dan relatif lebih murah, terutama spesies prioritas utama (unggulan) yang dapat memenuhi permintaan seluruh “on-farm” unit usaha produksi budidaya perikanan” di seluruh tanah air (Indonesia) setiap saat secara berkelanjutan. 

8. Memperkuat dan mengembangkan industri pakan yang dapat menghasilkan pakan berkualitas tinggi dan relatif lebih murah untuk memenuhi permintaan semua hatchery dan “unit usaha produksi budidaya perikanan on-farm” di seluruh negeri setiap saat secara berkelanjutan.  Termasuk: penggunaan non-FIMO (Fishmeal and Fish Oil) sebagai sumber protein untuk produk pakan seperti ‘magot’, kedelai, protein sel tunggal (mikro alga), dan protein nabati.

Spesies (Komoditi) Akuakultur Prioritas Utama (Unggulan) di Indonesia, yaitu: Pertama, Budidaya Laut: Lobster (G), Kerapu, Ikan Barramundi, Ikan Pompano Perak, Kerang, Abalon, Tiram Mutiara, dan Rumput Laut (Euchema spp) (G).

Kedua, Budidaya Pesisir (Air Payau): Udang Vanammei (G), Udang Windu, Bandeng, Nila (Nila Salin) (G), Kepiting Bakau (Scylla Serata), dan Rumput Laut (Gracillaria spp) (G).

Ketiga, Budidaya Perairan Air Tawar: Ikan Nila (G), Ikan Mas, Ikan Gurami, Pangasius spp (Dori), Lele (Clarias spp), Belut, Udang Air Tawar Raksasa (Macrobrachium spp), dan Ikan Hias dan Tanaman Air.

9. Memperkuat dan mengembangkan produksi on-farm komoditas (spesies) non-konvensional sebagai bahan baku berbagai industri manufaktur termasuk makanan dan minuman fungsional, farmasi, kosmetik, bioplastik, biofuel, dan tanaman pangan.

10. Penguatan dan pengembangan industri manufaktur mesin dan peralatan budidaya perikanan seperti pedal wheel, automatic feeder berbasis suara, monitoring dan evaluasi kualitas air otomatis, serta prakiraan cuaca digital.

11. Pengendalian pencemaran untuk memastikan bahwa danau, waduk, sungai, perairan pesisir, dan laut sebagai sumber atau media “produk budidaya perikanan on-farm”

12. Konservasi keanekaragaman hayati pada tingkat genetik, spesies, dan ekosistem.

13. Langkah-langkah mitigasi dan adaptasi terhadap Perubahan Iklim Global (Global Boiling), tsunami, banjir, dan bencana alam lainnya.

14. Penerapan teknologi Blue Economy dan Industri 4.0 (Big Data, IoT, AI, Cloud Computing, Blockchain, Drone, Robotika, Bioteknologi, dan Nanoteknologi)

15. Penguatan dan pengembangan litbang inovasi teknologi dan nonteknologi terkait sistem usaha budidaya perikanan.

16. Peningkatan kapasitas petani ikan (akuakultur) melalui program upskilling dan reskilling.

17. Kebijakan politik ekonomi yang kondusif: moneter, fiskal, pinjaman perbankan (kredit), ekspor-impor, investasi iklim, dll.

 

Komentar