Senin, 08 Juni 2026 | 03:42
MILITER

Mengenal KRI Irian: Kebanggaan TNI AL pada Era 1960-an

Mengenal KRI Irian: Kebanggaan TNI AL pada Era 1960-an
KRI Irian, kebanggaan TNI AL pada Era 1960-an (Dok Youtube)

ASKARA - Pada dekade 1960-an, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) memiliki sebuah kapal penjelajah yang menjadi kebanggaan bangsa, yaitu KRI Irian. Kapal ini adalah salah satu dari kapal penjelajah kelas Sverdlov yang dibuat oleh Angkatan Laut Uni Soviet. Dibangun pada era pasca-Perang Dunia II, KRI Irian merupakan simbol kekuatan dan keunggulan maritim Indonesia pada masa itu.

Kapal penjelajah kelas Sverdlov, termasuk KRI Irian, merupakan kapal penjelajah konvensional terakhir yang dibuat oleh Uni Soviet. Total ada 14 kapal dari kelas ini yang berhasil diselesaikan sebelum program tersebut dihentikan oleh pemimpin Soviet, Nikita Khrushchev. Alasan penghentian program ini adalah karena kemunculan teknologi rudal yang menjadikan kapal penjelajah konvensional dianggap kuno dan kurang efektif di medan perang modern.

KRI Irian sendiri memiliki sejarah yang menarik. Kapal ini didatangkan ke Indonesia pada tahun 1962 sebagai bagian dari upaya memperkuat armada laut TNI AL. Dengan panjang sekitar 210 meter dan dilengkapi dengan persenjataan berat, KRI Irian adalah kapal penjelajah terbesar yang pernah dimiliki oleh TNI AL. Kapal ini dilengkapi dengan berbagai senjata, termasuk meriam kaliber besar, dan mampu membawa pesawat pengintai, menjadikannya salah satu kapal paling canggih di Asia Tenggara pada zamannya.

Namun, kebanggaan atas KRI Irian tidak hanya terletak pada ukuran dan persenjataannya. Kapal ini juga memiliki nilai strategis yang tinggi. Pada masa itu, situasi politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara sangat dinamis, dan kehadiran KRI Irian di armada TNI AL memberikan Indonesia kekuatan tambahan dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk konfrontasi dengan Belanda terkait masalah Papua.

Sayangnya, usia layanan KRI Irian tidak berlangsung lama. Pada tahun 1972, setelah sekitar satu dekade beroperasi, kapal ini akhirnya dipensiunkan. Meskipun demikian, kehadirannya selama dekade 1960-an telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah maritim Indonesia. KRI Irian menjadi simbol dari ambisi dan kekuatan militer Indonesia pada masa itu.

Dengan kemajuan teknologi militer yang semakin pesat, kapal-kapal penjelajah konvensional seperti KRI Irian kini telah digantikan oleh kapal perang yang lebih modern dan efisien. Namun, kenangan akan KRI Irian tetap hidup sebagai bagian penting dari sejarah maritim Indonesia, mengingatkan kita akan masa ketika Indonesia berusaha keras untuk menjadi kekuatan maritim terdepan di kawasan.

 

 

Komentar