Minggu, 07 Juni 2026 | 03:35
OPINI

Bagaimana Gangguan Sensorik Mempengaruhi Pembelajaran pada Orang Autistik

Bagaimana Gangguan Sensorik Mempengaruhi Pembelajaran pada Orang Autistik
Ilustrasi gangguan sensorik (Dok Atiqa)

 

Oleh: Atqiya Salimah Purwosunu
Mahasiswa Psikologi Unair

ASKARA - Autisme kini menjadi topik yang semakin umum dibicarakan, terutama di kalangan generasi muda. Dengan adanya media sosial, penyandang autisme dapat berbagi perjuangan mereka sehari-hari, yang membantu mengurangi stigma yang melekat. Penting untuk membicarakan pengalaman penyandang autisme guna menghilangkan stigma tersebut. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana autisme, khususnya masalah sensorik pada penderita autisme, mempengaruhi kemampuan belajar. Diharapkan, artikel ini dapat memberikan pemahaman baru dan berguna bagi pembaca.

Gangguan spektrum autisme (ASD) adalah kelainan neurologis dan perkembangan yang mempengaruhi cara orang berinteraksi, berkomunikasi, belajar, dan berperilaku. Meskipun autisme dapat didiagnosis pada usia berapa pun, gejala biasanya muncul dalam dua tahun pertama kehidupan. Salah satu gejala autisme adalah gangguan sensorik, yang meliputi hipersensitivitas (meningkatnya kepekaan terhadap rangsangan sensorik), hiposensitivitas (berkurangnya kepekaan terhadap masukan sensorik), kesulitan integrasi sensorik (bagaimana otak memproses dan mengatur berbagai jenis masukan sensorik), dan pencarian sensorik (mencari rangsangan sensorik untuk mengkompensasi kurangnya kesadaran terhadap rangsangan). Setiap orang autis memiliki kebutuhan sensorik yang berbeda; satu mungkin hipersensitif sementara yang lain mungkin hiposensitif, dan keduanya dapat mengalami masalah sensorik dalam spektrum yang berbeda.

Masalah sensorik dapat dipicu oleh hal-hal kecil yang mungkin dianggap sedikit mengganggu oleh orang non-autis, tetapi dapat menyebabkan kelebihan sensorik dan meltdown pada orang autis. Hal-hal seperti tekstur makanan yang tidak konsisten, lampu yang menyala-nyala, suara dengung kecil, bahan pakaian yang berbeda, dan lingkungan kelas yang bising dapat menjadi pemicu. Di ruang kelas, siswa perlu memenuhi semua tuntutan sensorik mereka, mulai dari sentuhan, visual, pendengaran hingga perhatian. Disfungsi sensorik juga dikaitkan dengan perilaku menantang yang mengganggu pembelajaran dan interaksi sosial. Banyak penelitian menunjukkan korelasi antara kesulitan sensorik dan perilaku berulang dan terbatas (RRB). Oleh karena itu, penting untuk menyediakan lingkungan sensorik yang dapat diakses guna mengurangi perilaku RRB yang mengganggu pembelajaran dan interaksi sosial di kelas.

Langkah awal untuk memfasilitasi penyandang autisme adalah dengan mengidentifikasi kebutuhan sensorik individu. Bagi anak autis, sulit berkomunikasi secara langsung sehingga orang tua perlu membantu menyediakan kebutuhan anaknya. Bagi remaja atau orang dewasa autis, mereka sebaiknya diberikan ruang untuk menyuarakan kebutuhan mereka di sekolah atau lingkungan belajar. Meski tidak realistis untuk memenuhi kebutuhan spesifik setiap orang autis, kita dapat menyesuaikan kebutuhan yang umum, seperti pencahayaan, kebisingan, dan bau yang mungkin mengganggu.

Orang tua dan guru melaporkan bahwa alat terapi okupasi membantu anak-anak dalam pembelajaran, seperti pelindung telinga, selimut berbobot, pembatas, penghalang pop-up, dan tempat kerja individu. Diet sensorik dan istirahat sensorik juga dapat diterapkan, begitu pula program desensitisasi secara bertahap.

Menjaga komunikasi terbuka penting untuk memfasilitasi kebutuhan orang autis. Kita harus mendengarkan dan memfasilitasi kebutuhan mereka. Orang autis memiliki hak untuk belajar dan berkembang seperti rekan-rekan mereka. Memberikan mereka hak pilihan adalah langkah kecil menuju pembebasan disabilitas. Masih banyak yang perlu dilakukan, terutama dalam penelitian mengenai orang dewasa autis. Memperluas penelitian sangat penting, karena belajar lebih banyak tentang autisme dan dampaknya masih merupakan proses yang berkelanjutan. Dengan pikiran dan hati yang terbuka, perjalanan kita mungkin masih panjang, tetapi kita bisa memulainya lebih cepat daripada terlambat.

 

 

Komentar