Kamis, 04 Juni 2026 | 04:42
COMMUNITY

Peringati Peristiwa Mei 98, PINTI Harap Tercatat Dalam Buku Sejarah Indonesia

Peringati Peristiwa Mei 98, PINTI Harap Tercatat Dalam Buku Sejarah Indonesia
Foto bersama acara PINTI peringati Peristiwa Mei 98

ASKARA - Dalam kegiatan napak reformasi untuk peringatan ke 26 peristiwa mencekam Mei 98, PINTI menerima kunjungan Komnas Perempuan pada, Minggu (12/05), di VOC Galangan Sunda Kelapa Jakarta. Adapun tema tahun ini "Pelanggaran HAM di Masa Lalu di Persimpangan Jalan".

Turut hadir, Nancy Wijaya Pembina PINTI Pusat, Dr Metta Agustina MARS Ketua PINTI Pusat, Yenny Rosa, SH, MH Sekretaris PINTI Pusat, Dr Widyawati MM Ketua PINTI DKI,
Lindawaty Humas PINTI Pusat, Siu Lie Seni dan Budaya Pinti Pusat, Andy Yentriyani Ketua Komnas Perempuan, Mariana Amirudin Komisioner Komnas Perempuan, Veryanto Sitohang Komisioner Komnas Perempuan, Komunitas Ngopi Jakarta, Komunitas Aman Jakarta.

"Salam kebangsaan kita semua merupakan suatu kehormatan baginya menyambut kehadiran bapak ibu saudara, teman-teman sekalian dalam rangka napak tilas reformasi ke 26 di Galangan VOC," kata dr Widyawati selaku Ketua PINTI DKI Jakarta.

Dijelaskannya, sejarah berdiri Komnas Perempuan diprakarsai oleh Prof Saparina Sadeli, dr. G Melly Tan , Prof Tuti Herati dan diakui oleh Presiden Habibie dengan keluarnya Kepres no 181 tanggal 9 Oktober 1998. PINTI adalah Perempuan Perhimpunan Indonesia Tionghoa yang merupakan sayap organisasi dari INTI ( Indonesia Tionghoa). PINTI berdiri pada tahun  2004 dengan surat keputusan yang dikeluarkan oleh Alm. Eddy Lembong ( Ketua INTI Pusat Pertama).

Masih menurut Widyawati, saat ini PINTI sudah mempunyai 10 Pengurus Daerah dan 16 Pengurus Kota yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Salah satu visi misi PINTI adalah keberagaman antar etnis," katanya.

Lebih lanjut dikatakan Widyawati, kegiatan PINTI banyak di bidang kebudayaan, sosial, kesehatan khususnya Ibu dan anak. Beberapa kegiatan antara lain baksos ke berbagai tempat yang sedang terjadi bencana, semisal di Sumatera Utara PINTI membuat sumur bor untuk mengatasi bencana kekeringan di Pulau Samosir.

"Kemudian di Jawa Barat PINTI membuat seminar tentang TPKS dengan KEMENPPA. Di Bali bersama KEMENPPA Ibu Bintang Puspayoga bersama-sama menyelenggarakan  peringatan  hari ibu ke 92 tahun 2023 dan juga mengunjungi ibu-ibu veteran yang berada di Bali untuk mengenang jasa-jasa beliau," urainya.

Ia juga menyebut setiap tahun PINTI juga berkesempatan  melakukan kegiatan berbuka puasa bersama di berbagai pesantren, salah satunya dengan menyelenggarakan acara berbuka puasa bersama dengan Ibu Sinta Nuriah. 

"Tahun ini kita menyelenggarakan di dua tempat, Jakarta dan Bogor dan di bulan Ramadan tahun ini pula Kami mengadakan pertunjukan seni dan budaya serta memperkenalkan makanan khas Muslim Tionghoa di Baywalk mall pluit," katanya.

Tak ketinggalan, tambah Widyawati, sebelum tahun 2004, pada waktu terjadi tragedi Mei 98
PINTI telah banyak membantu melakukan pendampingan kepada keluarga korban tragedi peristiwa Mei.

Saat itu Komnas perempuan selalu bergandengan tangan dengan PINTI untuk bersama menuntaskan peristiwa tragedi Mei 98.

"Tahun 2009  Ibu Hartati ( Dewan Pembina PINTI ) mendesain selendang persahabatan PINTI yang  bercorak batik dengan ragam hias dan simbol-simbol yang penuh makna," ungkapnya.

Namun demikian, menurut Widyawati, selendang persahabatan itu menjadi bagian dari upaya merawat ingatan publik terhadap peristiwa Mei 1998. 

"Sesuai namanya, selendang itu diharapkan memperkukuh persahabatan umat manusia di Bumi Pertiwi tercinta ini," tegasnya.

Dia juga mengapresiasi pernyataan dari Presiden Jokowi atas nama Negara Republik Indonesia yang dengan tulus telah mengakui dan menyatakan penyesalan telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia berat dalam peristiwa Mei 98. 

"Kami PINTI mewakili komunitas etnis Tionghoa, membuka pintu maaf selebar-lebarnya kepada para pelaku tindak kekerasan saat itu," ungkapnya.

Menurutnya, memaafkan bukan berarti, melupakan. Kita tidak boleh mengabaikan luka-luka para korban, kita tidak boleh melupakan peristiwa kelam ini.

Untuk itu, Widyawati  mengharapkan dan menyarankan agar peristiwa Mei dijadikan bagian dari sejarah bangsa ini . 

"Kami meminta agar peristiwa Tragedi Mei 98 tercatat dalam buku pelajaran sejarah di sekolah untuk mencegah agar peristiwa ini tidak terulang dimasa depan," ucapnya.

"Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa memberikan perlindungan dan rahmat kepada Bangsa Indonesia dan Negara Republik Indonesia," tandasnya.

Komentar