Dilema Lulusan Komunikasi, Sulitnya Mahasiswa Komunikasi Mencari Pekerjaan?
Oleh: Yoga Maulana Pramudita
Mahasiswa dari Sekolah Vokasi IPB University Program Studi Komunikasi Digital dan Media
ASKARA - Persentase pengangguran diploma I, II, dan III mengalami penurunan. Ironisnya, di tengah tren penurunan ini, tingkat pengangguran lulusan universitas justru meningkat dari 5,34% menjadi 6,22%. Fakta ini bagaikan tamparan keras bagi dunia pendidikan dan realitas pahit bagi generasi muda. Di saat negara membutuhkan talenta-talenta terdidik untuk membangun bangsa, banyak sarjana yang justru terhambat dalam memasuki dunia kerja.
Akar permasalahan ini terletak pada kesenjangan antara keahlian yang diperoleh di bangku kuliah dan kebutuhan industri. Kurikulum pendidikan yang kaku dan minim praktik tak mampu membekali mahasiswa dengan skillset yang dibutuhkan dunia kerja. Akibatnya, banyak sarjana yang gagap dalam praktik dan tak memiliki pengalaman kerja yang mumpuni. Hal ini membuat mereka kalah bersaing dengan pelamar lain, bahkan dari jenjang pendidikan yang lebih rendah.
Jurusan Ilmu Komunikasi selalu menjadi primadona di kalangan calon mahasiswa. Impian menjadi jurnalis, humas, atau pembawa acara menarik minat banyak orang. Bayangan bekerja di industri kreatif, penuh dengan ide dan gemerlap, menjadi daya tarik utama. Namun, realitas di lapangan tak seindah ekspektasi. Banyak lulusan komunikasi yang justru mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan.
Ironisnya, kesulitan ini tak lepas dari kurangnya pemanfaatan ilmu dan praktik yang didapat selama perkuliahan. Kurikulum Ilmu Komunikasi umumnya kaya akan teori dan konsep. Mahasiswa dibekali ilmu public relations, jurnalistik, advertising, dan broadcasting. Namun, porsi praktik seringkali minim, sehingga mahasiswa kurang terpapar dengan realitas dunia kerja.
Kurikulum Ilmu Komunikasi dirancang untuk memberikan landasan pengetahuan yang kuat bagi mahasiswa. Mereka dibekali dengan berbagai teori dan konsep komunikasi, mulai dari komunikasi interpersonal hingga komunikasi massa. Tak hanya itu, mahasiswa juga diajarkan berbagai teknik komunikasi, seperti public speaking, negosiasi, dan presentasi.
Namun, porsi praktik dalam kurikulum Ilmu Komunikasi seringkali minim. Mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu di kelas untuk mendengarkan teori dan mengerjakan tugas-tugas akademis. Praktikum, yang seharusnya menjadi ajang untuk mengasah skill dan membangun portofolio, justru disia-siakan.
Akibatnya, ketika memasuki dunia kerja, banyak lulusan komunikasi yang kaget dengan tuntutan dan ekspektasi industri. Mereka handal dalam teori, tapi gagap dalam praktik. Kemampuan komunikasi yang baik pun tak cukup jika tak dibarengi dengan skillset yang spesifik dan pengalaman kerja yang mumpuni.
Salah satu faktor utama yang menyebabkan kesulitan lulusan komunikasi dalam mencari pekerjaan adalah kegagalan mereka dalam memanfaatkan ajaran praktikum. Praktikum yang seharusnya menjadi ajang untuk mengasah skill dan membangun portofolio, justru disia-siakan. Banyak mahasiswa yang menganggap praktikum sebagai beban dan formalitas.
Mereka tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dan mengembangkan skill mereka. Tak jarang, mereka hanya mengerjakan tugas praktikum asal-asalan dan tidak berusaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Akibatnya, ketika memasuki dunia kerja, mereka tidak memiliki skill yang dibutuhkan oleh industri. Mereka tidak memiliki pengalaman kerja yang mumpuni dan portofolio yang menarik. Hal ini membuat mereka kesulitan dalam bersaing dengan pelamar lain.
Ilmu komunikasi sebenarnya membuka banyak peluang bagi para lulusannya. Dengan skill komunikasi yang baik, mereka dapat bekerja di berbagai bidang, seperti public relations, jurnalistik, advertising, dan broadcasting. Tak hanya itu, mereka juga dapat menjadi content creator, social media specialist, atau freelance writer. Banyak alumni komunikasi yang sukses membangun usaha mereka sendiri. Mereka memanfaatkan skill komunikasi mereka untuk membangun brand dan memasarkan produk mereka. Tak jarang, mereka juga menjadi influencer dan motivator yang inspiratif.
Membangun Jembatan antara Teori dan Praktik Untuk mengatasi kesulitan lulusan komunikasi dalam mencari pekerjaan, perlu ada upaya untuk membangun jembatan antara teori dan praktik. Kampus perlu memperkuat porsi praktik dalam kurikulum Ilmu Komunikasi. Mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan skill mereka melalui praktikum yang terstruktur dan terarah. Tak hanya itu, mahasiswa juga perlu didorong untuk proaktif dalam mencari pengalaman kerja. Mereka dapat mengikuti magang, volunteering, atau freelance project. Hal ini akan membantu mereka dalam membangun portofolio dan mendapatkan pengalaman kerja yang mumpuni.
Menanamkan Entrepreneurial Mindset Di era digital ini, lulusan komunikasi tidak boleh hanya bergantung pada pekerjaan kantoran. Mereka perlu memiliki entrepreneurial mindset dan berani untuk membuka usaha sendiri. Dengan skill komunikasi yang baik, mereka dapat membangun brand dan memasarkan produk mereka dengan efektif. Kampus perlu memberikan edukasi dan pelatihan tentang entrepreneurship kepada para mahasiswa komunikasi. Hal ini akan membantu mereka dalam membangun mindset dan skill yang dibutuhkan untuk menjadi entrepreneur yang sukses.

Komentar