Kamis, 04 Juni 2026 | 07:50
OPINI

Solusi Generasi Muda Mengatasi Sampah di Bantar Gebang

Solusi Generasi Muda Mengatasi Sampah di Bantar Gebang
Gerakan Donasi Sampah (Dok HAAK K7)

Oleh: Fathiya Khoirunisa *

ASKARA - Bantar Gebang merupakan salah satu tempat pembuangan akhir sampah yang terbesar di Indonesia, saat ini menghadapi masalah serius akibat volume tumpukan sampah yang terus meningkat setiap harinya. Tulisan ini akan membahas dampak dan tantangan dari masalah tumpukan sampah di Bantar Gebang serta upaya yang diperlukan untuk mengelola sampah secara berkelanjutan. 

Penumpukan Sampah di Bantargebang

Tumpukan sampah di Bantar Gebang bukan hanya menciptakan masalah lingkungan, seperti yang kita ketahui juga menimbulkan dampak sosial dan kesehatan yang serius bagi masyarakat sekitar. Bau busuk, polusi udara, dan risiko penyakit menjadi ancaman nyata bagi kesejahteraan penduduk lokal. Selain itu, tumpukan sampah yang semakin besar juga mengancam keberlanjutan lingkungan sekitar, termasuk pencemaran air tanah dan sungai serta kerusakan ekosistem.

TPS Bantar Gebang sudah mulai beroperasi sejak 1989. Mengutip dari Portal Resmi Unit Pengelola Sampah Terpadu Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, TPST Bantar  Gebang memiliki lahan seluas 10,3 Ha terdiri dari: Luas efektif TPST 81,91 % dan sisanya 18,09% untuk prasarana seperti jalan masuk.

Saat melewati TPS (tempat pembuangan sampah) kita dapat melihat potret gunung sampah tertinggi dan terbesar di Indonesia. Hal ini menjadi sangat miris dan tidak pantas untuk dijadikan bahan lelucon karena masuk kedalam masalah serius yang membutuhkan penanganan segera. Ada berbagai jenis alat berat yang digunakan dalam mengelola sampah di TPS, seperti bulldozer, excavator, wheel loader dan long arm. Pengurangan volume sampah diawali dengan pemilihan jenis sampah yang bisa diurai dan sampah yang bisa diterapkan sistem sanitary landfill kemudian dikombinasikan dengan sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle), composting, dan waste to energy.

Salah satu tantangan utama dalam mengatasi masalah sampah di Bantar Gebang adalah kurangnya infrastruktur dan teknologi pengelolaan sampah yang memadai. Selain itu, masalah regulasi, pengawasan, dan partisipasi masyarakat juga menjadi hambatan dalam implementasi solusi yang efektif. 

Upaya untuk mengatasi masalah sampah di Bantar Gebang harus melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, dan masyarakat lokal. Langkah-langkah konkret seperti investasi dalam infrastruktur pengelolaan sampah modern, kampanye penyadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik, serta peningkatan pengawasan terhadap praktik ilegal seperti pembuangan sampah liar, menjadi kunci dalam menangani masalah ini. 

Melalui tindakan upaya penyelesaian yang dilaksanakan secara bersama serta komitmen yang kuat dari berbagai pihak, terkait mengenai masalah tumpukan sampah di Bantar Gebang bisa segera diatasi secara bertahap menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan dan juga ramah lingkungan. 
   
Efektivitas Startup Pengelola Daur Ulang Sampah

Sampah memang dinilai sebagai hal rendah yang mengganggu dan tidak bermanfaat. Namun bagi orang tertentu yang selalu melihat peluang, pengelolaan sampah bisa menjadi ide bisnis yang kemudian berdampak positif bagi lingkungan sekitar. Ibarat sambal nyelam minum air, aktivitas tersebut dapat menjaga alam lebih baik namun bagi pengusaha bisa menghasilkan nilai dari segi finansial yang menguntungkan. 

Startup pengelola sampah banyak didirikan oleh para generasi muda yang sadar akan pentingnya pengelolaan sampah dilakukan melalui cara modern menyesuaikan perkembangan zaman. Melalui startup pengelola sampah, kini penanganan sampah dapat terlaksana lebih baik mulai dari memberikanjasa angkut sampah, pemilahan, sampai pengolahan sampah. 

Program dari Startup pengelola sampah ini cukup beragam, mulai dari penukaran sampah dengan uang atau istilahnya bank sampah, bisajuga disebut sebagai recycling platform untuk masyarakat mengolah sampah lebih baik. Startup pengelola sampah menggunakan waste solution hub melalui pemisahan jenis sampah yang kemudian diproses dengan teknis berbeda menyesuaikan jenisnya. 

Pendekatan yang holistik dan berkelanjutan perlu diterapkan dalam pengelolaan sampah di Bantar Gebang, termasuk penerapan prinsip-prinsip daur ulang, pengurangan sampah, dan pengelolaan limbah berbasis masyarakat. 

Efektivitas startup yang mengelola daur ulang sampah dapat diukur berdasarkan beberapa faktor, termasuk efisiensi dalam pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan sampah, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat lokal. Startup yang efektif mungkin memiliki teknologi canggih untuk memproses sampah, strategi pemasaran yang kuat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, dan kemitraan yang solid dengan pemerintah dan organisasi terkait. Evaluasi rutin terhadap metrik kinerja juga penting untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan startup tersebut.

Data dari sumber Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menyatakan bahwa pengelolaan sampah pada tahun 2023 cukup banyak didukung dari pihak startup pengelola sampah terutama dalam pengadaan bank sampah, composting, dan produk kreatif yang bisa efektif mengurangi jumlah sampah menjadi produk bermanfaat. Pengelolaan sampah akan jauh lebih efisien jika masyarakat bisa kompak untuk memisahkan jenis sampah mereka agar pengolahan sampah dapat dilakukan menyeluruh volume sampah, karena jenis sampah yang tercampur akan menyulitkan pihak pengelola sampah ketika proses recycling. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat dan generasi modern harus mulai sadar akan proses pemilahan jenis sampah dan penggunaan produk tidak sekali pakai agar bisa turut menjaga lingkungan sekitar. 
 

* Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

 

 

Komentar