Minggu, 14 Juli 2024 | 09:32
COMMUNITY

Festival Bulan Mengambang Tampilkan Wayang Wong di Keraton Mbah Anang Johor

Festival Bulan Mengambang Tampilkan Wayang Wong di Keraton Mbah Anang Johor
Wayang Wong di Keraton Mbah Anang Johor (Dok Wayang Wong)

ASKARA - Puluhan seniman tari dari IKAASI (Ikatan Alumni ASKI STSI ISI di Jakarta), meramaikan Festival Bulan Mengambang di Kraton Mbah Anang, Muar, Johor, Malaysia, Sabtu, (2/3).

Daerah Muar  adalah daerah yang perkampungannya banyak dihuni masyarakat Jawa. Tak heran jika  menyusuri kawasan itu, dapat dilihat cara hidup dari pertuturan, makanan hingga kepada adat budayanya yang masih kental. 

Di festival yang selalu dilaksanakan pada saat bulan purnama (mengambang), kerap menampilkan budaya Jawa mulai dari Reog, Wayang Kulit, Wayang Wong dan seni tradisional lainnya. 

"Pementasan ini tujuannya untuk memelihara ikatan budaya bagi imigran Jawa yang sudah beranak-pinak dan menjadi warga negara Malaysia. Silahturahmi budaya saya pikir menjadi jalinan penting kedua bangsa Indonesia-Malaysia, " kata Dwino Hermantoro, sutradara dan penulis naskah Wayang Wong.

Dalam pementasan ini diberi judul 'Hilangnya Ajimat Kalimosodho'. Ini cerita mengambil latar belakang dari kisah klasik pewayangan dimana ajimat sakti  itu hanya dimiliki oleh Prabu Puntadewa (alias Yudistira), pemimpin para Pandawa. Pusaka ini berwujud kitab, dan merupakan benda yang sangat dikeramatkan dalam Kerajaan Amarta. Para Kurawa dengan berbagai cara berusaha mencuri Ajimat itu, untuk mengantisipasi perang yang akan berlangsung. 

"Inspirasinya cerita ini dari kisah Mahabharata, " ungkap Umi Khulsum,  M.Ak., PhD, penari Drupadi yang anggun. 

Wayang Wong ini diperankan antara lain oleh, Agus Ary Tjahjadi (Bumiloka), Sujatmiko, S.Sn (Gatutkaca), Fety Fatimah,S.Sn (Prajurit), Dwi Hastuti, S.Sn (Prajurit), Martini, S.Sn (Srikandi), Umi Khulsum,  M.Ak., PhD (Drupadi), Susamsi, S.Sn (Cakil), Reni Tri Hastuti (Prajurit), Fathnuraini Priyahita Iskandar (Prajurit), Enti Wahyuningtias (Prajurit), Heri Rahadiyanto (Begawan Kolo Pujonggo), Hanura Siwi, S.Sn.(Prajurit), Ilham Mujiriyanto.(Priyambodo), Sendang Wangi, S.Psi
(penari Golek Ayun Ayun). 

Ketua Persatuan Jawa Parit Bugis (PERJAWA) Johar bin Paimin, menjelaskan pementasan Wayang Wong sebenarnya tak terpikirkan juga bisa dimainkan di kawasan perkampungan Jawa di Johor. 

"Tadinya kami pikir siapa yang mau datang ke kampung dan menonton pementasan ini, namun kami senang dibantu Seniman Indonesia mimpi pementasan Wayang Wong bisa terlaksana, "jelas Johar. 

Para penonton generasi muda yang sebagian besar bertutur Melayu antusias dengan pertunjukan tarian Wayang Wong, sembari berbicara bahasa Jawa, dengan gerakan tari yang luwes dan kostum yang menarik. 

Konjen RI di Johor  Sigit Suryantoro Widiyantosangat menyambut baik pementasan budaya Indonesia di Malaysia. Budaya adalah alat pemersatu bangsa-bangsa serumpun, karena banyak sekali keturunan Jawa yang tinggal di Malaysia. 

"Budaya menembus negara, budaya menjalin persahabatan antar bangsa. Budaya Jawa adalah way of life sebagian besar penduduk Indonesia, " katanya. 

Selama pementasan Wayang Wong, diiringi Gending Karawitan mahasiswa Aswara (Akademi Seni Warisan) Kuala Lumpur. 

Lokasi Festival Bulan Mengambang secara rutin dilangsungkan di Parit Bugis. Para pemukim Jawa ini bahkan membangun replika Keraton Jawa. Rumah kayu besar berhias ukiran kudus ini, berada di tengah-tengah kebun sawit mahaluas. Jaraknya 150 km, dari Ibukota Johor Bahru. 

Pintu gerbang Kraton Mbah Anang ini meniru candi zaman Majapahit dengan struktur bata merah Wringinlawang. 

Panorama kediaman Keraton Mbah Anang, rumah kayu tiang empat dan atap berbumbung tiga tingkat didiami keluarga besar Allahyarham Mingan Sakimin, salah satu perintis pemukim Jawa tiga generasi lalu. 

 

Komentar