Program Quantum Wakaf Repro Allisya Jadikan Wakaf Sebagai Lifestyle
ASKARA - Wakaf adalah salah satu ibadah yang mengalirkan pahala walaupun wakif sudah meninggal dunia. Siapapun bisa berwakaf lebih mudah dengan uang yang dimiliki dan tidak ada batas minimal untuk berwakaf.
Banyak orang yang masih berpikir bahwa untuk berwakaf harus dengan tanah atau bangunan, sementara harga tanah dan bangunan saat ini semakin hari kian mahal. Jadi sampai kapan kita bisa berwakaf dengan kondisi tersebut?
“Wakaf tanah di Indonesia banyak sekali, tapi 90 persen terbengkalai. Total ada 440 ribu titik tanah di seluruh Indonesia dengan luas 57.263,69 Hektar (sumber : Kemenag). Penyebabnya minimnya pendanaan. Selain itu kurangnya literasi dan edukasi” ujar Duta Wakaf Allianz Syariah, Ira Novriana di Jakarta, Sabtu (6/1).
Lalu, Ira Novriana memberikan narasi tentang perwakafan. Melalui Quantum Wakaf ini beramal jariyah berharap jannah ada tiga misi. Pertama, memberikan literasi dan edukasi tentang perwakafan. Kedua, membantu setiap keluarga untuk mempunyai wakaf yang besar. Ketiga, membantu setiap Yayasan untuk memiliki dana abadi umat.
“Quantum wakaf itu berwakaf dengan cara mudah, optimal dan amanah. Mudah dan optimal karena disesuaikan dengan kemampuan wakif namun dapat memiliki nominal wakaf yang besar. Amanah karena Nadzir Wakaf yang bekerjasama dengan Allianz Syariah adalah lembaga-lembaga yang amanah. Misalnya Al Azhar, Dompet Duafa, Yakesma, Inisiatif Wakaf, Ikadi dll. Sebagai duta Quantum Wakaf membantu setiap yayasan mempunyai dana abadi umat, contohnya Al Azhar ketika pendirinya sudah tidak ada tapi tetap berdiri karena punya dana abadi umat dari wakaf,” kata Ira Novriana.

Duta Wakaf Allianz Syariah, Ira Novriana
Karena banyak sekali yang belum tahu tentang wakaf. Dia menyebut bahwa wakaf itu satu-satunya amalan Jariyah yang bisa menambah timbangan amal kebaikan ketika kita sudah meninggal.
Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).
“Sekarang ada cara alternatif yang lebih mudah dan terjangkau untuk bisa berwakaf yaitu dengan memiliki Polis Asuransi Jiwa Syariah,” terangnya.
Melalui Polis Asuransi Jiwa Allianz Syariah, semua orang bisa berwakaf besar dengan cicilan yang ringan. Misalnya ingin berwakaf 1 Miliar untuk membangun masjid dan pesantren.
“Contoh: bapak Wakif di usia 38 tahun ikut program rekening proteksi Allianz Syariah dengan kontribusi 1.5 juta setiap bulan. Qodarullah di bulan keempat meninggal dunia. Kalau kita menabung cara biasa artinya baru 4.5 juta yang terkumpul. Melalui Repro Allianz Syariah Quantum Wakaf langsung ada dana waris dan dana wakaf. Dana waris 1.250 miliar, dan dana wakafnya 1 miliar,” paparnya.
Uang santunannya dari mana? Ira menjelaskan ketika wakif ada 100 ribu orang. Artinya untuk mengumpulkan Rp. 2.,250 Miliar. Setiap nasabah atau wakif hanya menyumbang Rp. 22.500 . Disini ada Dewan Syariah MUI yang memberikan batasan, untuk wakaf itu maksimal 45 persen dan dana warisnya 55 persen. Artinya ketika kita ingin berwakaf, ahli waris harus mendapatkan warisan, jangan sampai ditinggalkan dalam keadaan susah.
“Program Quantum Wakaf ini hanya ada di instrumen asuransi syariah,” terangnya.
Ira menyampaikan syarat-syarat Orang yang Berwakaf (Al-Waqif): a. Memiliki secara penuh harta itu, artinya dia merdeka untuk mewakafkan harta itu kepada siapa yang ia kehendaki, b. Berakal. Tidak sah wakaf orang bodoh, orang gila, atau orang yang sedang mabuk, c. Berusia balig dan bisa bertransaksi, d. Mampu bertindak secara hukum (rasyid).
Sedangkan untuk menjadi Nadzir Wakaf Allianz, persyaratan diantaranya: Kelengkapan dokumen yayasan pada umumnya, akte berdiri kemenhumham, dll dan ada sertifikasi BWI
Wakaf dan Sedekah
Wakaf dan sedekah adalah amalan yang sangat dicintai Allah Ta’ala. Pahala yang tak terkira akan menghampiri orang yang melakukannya.
Wakaf dan sedekah memiliki tujuan yang sama yaitu membantu orang lain dan memudahkan urusan mereka. Allah menjanjikan pahala berlipat bagi mereka yang bersedekah atau mewakafkan hartanya. Berikut perbedaan antara wakaf dan sedekah.
Jika persamaannya sama-sama memberi kebaikan antara wakaf dan sedekah, namun dalam arti secara rinci keduanya berbeda. Waqaf adalah ibadah amaliyah yang spesifik. Berasal dari kata wa-qa-fa yang artinya tetap.” Artinya bahwa seseorang menyerahkan harta yang tetap ada wujudnya. Namun, selalu memberikan manfaat dari waktu ke waktu tanpa kehilangan benda aslinya tersebut,” terangnya.
Sedangkan pengertian sedekah yaitu saat seseorang memberikan hartanya, maka harta itu langsung habis manfaatnya saat itu juga. Sebagai contoh, seseorang bersedekah memberikan 30 anak yatim makanan berbuka puasa.
Saat makanan sudah dilahap dan habis, maka orang tersebut dapat pahala. Tetapi tidak ada pahala lainnya setelah itu, sebab pokok sedekah itu sudah selesai dan berhenti manfaatnya.
Sementara wakaf, seseorang bersedekah dengan harta yang pokoknya tetap ada. Harta itu tetap menghasilkan pemasukan yang sifatnya terus menerus dan juga rutin.
“Contohnya, seseorang mewakafkan ladang perkebunan tomat untuk fakir miskin. Ladang perkebunan itu dipelihara oleh orang yang ahli dalam pekerjaannya. Yang diambil manfaatnya adalah hasil panen dari tomat tersebut. Tomat tersebut misalnya boleh dibagikan kepada fakir miskin, atau dijual yang hasilnya untuk kaum fakir miskin,” papar Ira.
Wakaf Bukan Ibadah Eksklusif
Dulu ibadah wakaf lekat dengan orang-orang kaya. Hanya orang berada yang bisa mengamalkannya. Karena pemahaman wakaf hanya sebatas masjid, madrasah, tanah, ataupun makam.
Saat ini setiap Muslim bisa mewakafkan uang. Jadi tidak ada alasan untuk tidak berwakaf. Sebagaimana perkataan K.H Ma'ruf Amin, "Tidak ada batas minimal untuk besaran wakaf, yang terpenting uang itu milik sendiri dan halal"
Wakaf bukan ibadah eksklusif, tapi pahala berwakaf sangatlah luar biasa. Semua orang bisa berwakaf. Tunggu apalagi? “Yuk, segera berwakaf melalui program Quantum Wakaf Allianz Syariah. Wakaf Anda akan dikelola secara amanah, profesional, dan tepat sasaran,” pungkas Ira.

Komentar