Senin, 08 Juni 2026 | 02:56
OPINI

Bobby Nasution Terapkan Collaborative Leadership

Bobby Nasution Terapkan Collaborative Leadership
Bobby Nasution ketika bertemu warga Kota Medan (Dok IG Bobby)

Oleh: Shierlyta Maharani Buchari

ASKARA - Pengelolaan sampah di Kota Medan merupakan masalah serius yang sudah lama menjadi keluhan masyarakat. Kesan jorok dan bau sempat melekat pada kota ini karena banyaknya tumpukan sampah di pinggir jalan yang merusak pemandangan dan menimbulkan bau tak sedap. Masalah tersebut akhirnya menjadi isu penanganan prioritas di era kepemimpinan Wali Kota Bobby Nasution. 

Untuk mencapai upaya maksimal, Wali Kota yang resmi dilantik pada 26 Februari 2021 lalu, menerapkan collaborative leadership dan pengambilan keputusan merakyat dengan metode ‘blusukan’. Bagi seorang pemimpin, pengambilan keputusan merupakan suatu hal yang krusial, apalagi jika menyangkut kepentingan publik. 

Seorang pemimpin yang baik adalah orang yang tidak melaksanakan sendiri tindakan-tindakan yang bersifat operasional, tetapi mengambil keputusan, menentukan kebijaksanaan dengan menggunakan orang lain untuk melaksanakan keputusan yang telah diambil sesuai dengan kebijaksanaan yang telah digariskan” (Siagian, 1986).

Bobby Nasution dikenal sebagai pemimpin yang senang ‘blusukan,’ terjun langsung menemui masyarakat untuk berdialog dan mengetahui persoalan yang terjadi, salah satunya adalah masalah penanganan sampah yang sudah lama menjadi persoalan di kota ini. Selain itu, dia juga sering melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada beberapa objek yang menjadi keluhan masyarakat seperti masalah pelayanan publik yang lambat. Dengan melihat fakta yang terjadi di lapangan, dia dapat mengambil keputusan matang dalam rangka menentukan kebijakan yang efektif guna mengatasi berbagai persoalan di Kota Medan.

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Menurut Prof. Dr. Sondang. P. Siagian (1986), pengambilan keputusan merupakan suatu pendekatan sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. Singkatnya, pengambilan keputusan dilakukan untuk membuat pilihan dari berbagai alternatif yang ada. 

Dalam membuat sebuah keputusan, sedikitnya ada 3 tahap yang perlu dilakukan menurut Herbert A. Simon (1960). Tahap pertama adalah Intelligence Activity, yaitu proses pengenalan masalah dengan melakukan penelusuran terkait akar masalah yang dihadapi. Dalam mengatasi masalah pengelolaan sampah di Kota Medan, Bobby Nasution telah melakukan blusukan ke beberapa titik lokasi pembuangan sampah berserakan untuk menganalisis akar permasalahan dan menentukan strategi yang tepat.
 
Selanjutnya adalah Design Activity, yaitu tahap merumuskan alternatif kebijakan dengan mengembangkan pemahaman bersama dengan tim untuk menyelesaikan permasalahan. Pada tahap ini, Bobby Nasution melakukan rapat bersama untuk merumuskan beberapa kebijakan yang sekiranya dapat menangani masalah pengelolaan sampah. 

Adapun beberapa kebijakan yang dia rumuskan adalah: 
1. Melimpahkan kewenangan pengelolaan sampah yang semula ditangani oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan kepada Camat di Lingkungan Pemkot Medan dengan tujuan agar pengelolaannya lebih efektif karena Camat lebih mengetahui kondisi di wilayahnya. 
2. Membuat program kawasan bersih sebagai area percontohan kawasan bebas sampah.
3. Program bank sampah dan pengangkutan sampah terjadwal.
4. Mengubah sistem open dumping menjadi sanitary landfill di TPA Terjun. 

Tahap ketiga adalah Choice Activity, yang merupakan tahap pengambilan keputusan dari berbagai alternatif yang telah dirumuskan. Pada tahap ini, keputusan yang diambil dengan menerbitkan Peraturan Wali Kota Medan Nomor 18/2021, tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Pengelolaan Persampahan kepada Camat di Lingkungan Pemko Medan dan Surat Keputusan (SK) Wali Kota
Medan No. 658.5/31.K/VIII/2021 tentang Lokasi Percontohan Kawasan Bebas Sampah di Kota Medan Tahun 2021. 

Selain mengeluarkan surat keputusan, Bobby Nasution juga menerapkan program bank sampah dan mengubah sistem pengelolaan menjadi sanitary landfill.

COLLABORATIVE LEADERSHIP

Selain melakukan pengambilan keputusan dengan baik, Bobby Nasution juga menerapkan gaya kepemimpinan kolaboratif, yaitu keterampilan pemimpin yang selalu bekerja bersama-sama dengan melibatkan banyak stakeholder serta memfasilitasi dan memelihara interaksi yang telah terjalin. Kepemimpinan kolaboratif juga mengambil keputusan dan melakukan pekerjaan secara bersama-sama (Siagian, 2015). 

Gaya kepemimpinan ini terlihat dari kolaborasi antara Pemkot Medan dengan beberapa stakeholder, seperti kerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (Ditjen PSLB3) dalam mengelola sampah dengan membentuk pusat daur ulang sampah di Kota Medan dan bekerja sama dengan PLTU Pangkalan Susu untuk mengelola sampah di TPA Terjun.

Kesuksesan Bobby Nasution dan Pemkot Medan dalam mengatasi permasalahan sampah dibuktikan dengan meraih Sertifikat Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Februari 2023. Sertifikat tersebut merupakan penghargaan yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten yang berhasil dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Hal ini menunjukan bahwa kepemimpinannya dengan menerapkan pengambilan keputusan yang baik serta collaborative leadership terbukti efektif untuk mengatasi persoalan di masyarakat.

* Mahasiswa Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Administrasi

Komentar