Bincang Buku Melukis Kenangan Bersama Ayah Sukses Digelar di Museum Bahari
ASKARA - Setelah sukses meluncurkan buku antologi kedua, Melukis Kenangan Bersama Ayah (MKBA), sebagai kelanjutan dari antologi Perempuan Itu Ibuku (PII), dan peluncuran komunitas RUANGMENULIS.ID yang digagas Graece Tanus, hari Sabtu tanggal 9 Desember 2023, digelar acara bincang buku.
Acara dilaksanakan di Museum Bahari, Jakarta Utara menghadirkan dua narasumber, Rianto Nurhadi dan Stebby Julionatan, dengan pemandu acara, Riama Silitonga, penyiar Radio Heartline FM, yang banyak mendukung kegiatan literasi.
Acara bincang buku tersebut tidak saja menarik karena lokasi yang dipilih adalah gedung bersejarah dengan arsitektur mengagumkan, tetapi juga narasumber yang dihadirkan memberikan perspektif yang menarik terhadap topik maupun isi buku MKBA dari sudut pandang masing-masing.
Dalam sambutannya, Graece Tanus sebagai penggagas sekaligus penulis buku MKBA mengajak lintas generasi untuk dapat terus melakukan kegiatan literasi lewat komunitas RUANGMENULIS.ID. Inti terpenting dari kegiatan literasi adalah adanya kemauan atau keinginan untuk menulis dan selanjutnya menghasilkan karya.
"Ketika kita membaca buku kita bisa mengenal dunia dan ketika kita menulis buku kita akan dikenal dunia," tegas Graece.
Narasumber pertama, Stebby Julionatan, seorang penulis yang menjadi nominator Ubud Writers & Readers 2021, sebuah festival sastra tahunan berskala internasional yang diadakan di Ubud, Bali. Stebby berkisah, ia telah membaca tuntas buku MKBA. Menurutnya, membaca MKBA mendorongnya untuk merefleksikan kenangannya bersama sang ayah. Ia menyoroti usia penulis yang berjumlah 23 orang, rata-rata di atas 40 tahun, sehingga kebanyakan sosok ayah yang ditulis oleh para penulis, telah tiada. Karena itu, Stebby mengungkapkan bahwa kesempatan bersama orang tua itu sangat berharga untuk dinikmati, sehingga menjadi kesempatan juga untuk mengukir kenangan bersama orang tua.
"Dari segi penulisan, secara umum isi buku MKBA amat kaya perspektif karena ada keterwakilan dari sisi gender, usia, suku, bahkan status sosial. Dengan kata lain, secara umum buku MKBA merangkum berbagai identitas," kata Stebby.
Narasumber kedua, Rianto Nurhadi yang akrab disapa Riri, putra pertama salah satu Pahlawan Revolusi, MT Haryono. Riri berkisah tentang ayah yang sangat ia sayangi dan kagumi. Sosok ayah yang sangat mencintai dan melindungi keluarga, yang mengalami kekerasan di mata keluarganya, bahkan di mata Riri yang saat itu masih kanak-kanak berusia 9 tahun. Peristiwa itu masih melekat erat dalam ingatan Riri. Sang ayah yang dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi yang turut gugur di Lubang Buaya dalam peristiwa G30S PKI, bagi Riri adalah Pahlawan Keluarga yang meninggalkan begitu banyak teladan baginya.
"Alangkah beruntungnya para penulis buku MKBA yang memiliki kesempatan panjang bersama para ayah mereka. Karena itu, buku MKBA dapat menjadi pengingat agar kita jangan sampai kehilangan momentum berharga bersama orang tua," kata Riri.
Pemaparan kedua narasumber menjadi menarik dan mengena karena Riama sebagai pemandu acara sangat baik dalam mengarahkan narasumber untuk memberikan refleksi dan perspektif yang menggugah ketertarikan para undangan yang hadir. Setelah narasumber memberikan paparannya, hadirin diberi kesempatan untuk bertanya. Kepada tiga orang penanya diberikan apresiasi berupa lukisan hasil karya salah seorang penulis, Aruni Basuki Yusuf.
Acara yang berlangsung selama 2 jam tersebut ditutup dengan foto bersama. Sebelumnya, Riama juga mengajak para undangan yang hadir untuk mem-follow IG RUANGMENULIS.ID supaya dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh komunitas tersebut.
Oleh : Rumanti Y Sinaga

Komentar