Mengenal Mgr. Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek
ASKARA - Mgr. Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek, S.V.D. (Lay Tjong Sie) adalah Seorang Imam dan juga Uskup Indonesia. Beliau menjadi Uskup Pribumi Kedua di Indonesia setelah Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J.
Beliau menjabat sebagai Uskup Larantuka sebelum kemudian menjadi Uskup Agung Ende, hingga ia mengundurkan diri dan menjadi Uskup Agung Emeritus.
Lahir pada 18 Agustus 1913, dan meninggal pada 30 November 1989. Gabriel Manek dilahirkan sebagai anak laki-laki bungsu dari pasangan Lay Phiang Sie dan Lioe Kioe Moy yang berdarah campuran Tionghoa.
Pada keesokan hari setelah kelahirannya, ia dipermandikan dengan nama Gabriel Yohanes Wilhelmus Manek oleh R.P. Arnold Verstraelen, SVD.
Pada tahun 1920, Gabriel mulai menjalani pendidikan dasar (normalschool) di Halilulik, Standard School di Ndona dan dilanjutkan di schakelschool Ndao, Ende, Flores, lalu di Seminari Sikka tahun 1927.
Ia kemudian pindah ke Seminari Todabelu, Matoloko, Flores pada Juli 1928. Ia masuk novisiat S.V.D. pada 16 Oktober 1932 (ada yang menulis tahun 1933) dan sejak 17 Januari 1937 (ada juga yang menulis tahun 1936) ia berkuliah di Seminari Tinggi Ledalero, dan lulus sebagai angkatan pertama setelah mengucapkan kaul pertamanya.
Pada 15 Agustus 1940, ia mengucapkan kaul kekal sebagai anggota SVD di Seminari Tinggi SVD. Tepat satu bulan kemudian pada 15 September 1940, ia menerima tahbisan diakonat. Ia ditahbiskan sebagai imam pada 28 Januari 1941 oleh Mgr. Hendrikus Leven di Gereja Nita, Maumere.
Ia menjadi imam pribumi pertama di Nusa Tenggara Timur bersama dengan R.P. Karolus Kale Bale, SVD.
Kunci yang menjadi pokok perhatiannya adalah menyapa setiap umat secara personal, mengenal mereka; memperhatikan persoalan yang sedang dihadapi dan mencari upaya untuk meningkatkan kualitas iman umat.
Sebagai pastor pribumi pertama di Nusa Tenggara itu, Manek dikenal dermawan dan penuh perhatian kepada kaum papa. Dia kerap menggunakan sampan kecil untuk menyeberang ke pulau-pulau di luar Larantuka guna menyapa umatnya.
Dari Flores, ia kembali ke Timor dengan tugas khusus membuka dan memimpin Seminari Menengah St Maria Immakulata Lalian pada tahun 1950 bersama dengan Pastor Heinrich Janssen S.V.D.
Pada 8 Maret 1951 bersamaan dengan pendirian Vikariat Apostolik Larantuka, ia ditunjuk sebagai Vikaris Apostolik Larantuka dengan gelar Uskup Tituler Alinda. Hal ini membuat Manek sebagai uskup pribumi kedua setelah Albertus Soegijapranata, S.J. yang menjadi Vikaris Apostolik Semarang bergelar Uskup Tituler Danaba.
Ia ditahbiskan sebagai uskup pada 25 April 1951 oleh Penahbis Utama Mgr. Henricus Leven, Vikaris Apostolik Emeritus Kepulauan Sunda Kecil bergelar Uskup Tituler Arca di Armenia. Jacques Franciscus Maria Pessers, S.V.D. yang merupakan Vikaris Apostolik Atambua bergelar Uskup Tituler Candyba bersama dengan Soegijapranata, S.J. yang merupakan Vikaris Apostolik Semarang bergelar Uskup Tituler Danaba menjadi Uskup Penahbis Pendamping.
Pada 1954, Mgr. Gabriel Manek SVD mengadakan upacara penyerahan Keuskupan Larantuka kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda. Pada 15 Agustus 1958, ia mendirikan Tarekat Puteri Reinha Rosari (PRR), bersama dengan Sr. Anfrida SSpS. Pada 4 Juni 1959 bersama dengan Isabella Diaz Gonzales, Manek menjajaki kemungkinan berdirinya Rumah Sakit Kusta Lewoleba di Lembata, Nusa Tenggara Timur.
Hal ini disusul dengan ditempatinya rumah Bernardus Weka Lejab yang dijadikan poliklinik sekaligus Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) empat hari berselang. Rumah Sakit tersebut kini dikenal sebagai Rumah Sakit Lepra Beato Damian Lewoleba.
Bersamaan dengan dipromulgasikannya Konstitusi Apostolik Qoud Christus Adorandus tentang berdirinya Hierarki Gereja Katolik di Indonesia secara mandiri oleh Paus Yohanes XXIII, ia "bertukar posisi" dengan Mgr. Antonius Hubertus Thijssen, S.V.D., di mana ia menjadi Uskup Agung Endeh, sementara Mgr. Thijssen menjadi Uskup Larantuka. Manek menghadiri tiga sesi pertama Konsili Vatikan II.
Mgr. Gabriel Manek SVD meninggal pada 30 November 1989 di RS Sint John, Lakewood, Denver, Amerika Serikat. Jenazahnya dimakamkan di Techny, Amerika Serikat pada 6 Desember 1989.
Upaya pengambilan Jenazah Almarhum Mgr. Gabriel Manek SVD telah dilakukan sejak 2005, dengan melakukan pendekatan kepada berbagai pihak terkait.
Makamnya kemudian digali kembali sejak 10 April 2007. Penggalian sempat dihentikan hingga akhirnya peti diangkat dan dibuka pada 14 April 2007. Jenazah dan juga peti matinya masih utuh meski sudah dikubur selama 17 tahun, walaupun tubuhnya tidak diawetkan.
(Dari berbagai sumber)

Komentar