Jumat, 14 Juni 2024 | 00:14
NEWS

DPR Sebut Food Loss dan Food Waste Dapat Dimanfaatkan Jadi Pupuk Organik

DPR Sebut Food Loss dan Food Waste Dapat Dimanfaatkan Jadi Pupuk Organik
Anggota Komisi IV DPR RI Yessy Melania (foto alfi/askara)

ASKARA - Anggota Komisi IV DPR RI Yessy Melania menyoroti mengenai isu food loss dan food waste yang tengah menjadi perhatian publik bahkan dunia. Indonesia menjadi salah satu negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia selain Arab Saudi dengan jumlah sampah makanan terbuang mencapai 23-48 juta ton per tahun.

"Berkaitan dengan kondisi kita secara nasional dan global, kita saat ini di satu sisi tengah berjibaku dengan ketahanan pangan kita sendiri. Kemudian juga secara global kita diancam krisis pangan, itu sudah di mana-mana berita. Tapi di satu sisi data yang kita terima kemudian artikel-artikel juga yang kita baca itu membuat paradoks gitu, jadi bertentangan,” kata Yessy dalam Rapat Kerja antara Komisi IV dengan Menteri Pertanian di Gedung Nusantara, DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (30/8).

Food loss merupakan makanan yang mengalami penurunan kualitas yang disebabkan oleh berbagai faktor selama proses rantai pasokan makanan sebelum menjadi produk akhir dan biasanya terjadi pada tahap produksi, pasca panen, pemrosesan hingga distribusi. Sementera food waste biasanya merupakan makanan sisa berkualitas baik dan layak konsumsi namun kemudian dibuang atau telah kadaluarsa.

Lanjutnya, melihat besarnya jumlah timbunan sampah makanan terutama dari food loss menjadi salah satu indikator belum maksimalnya rantai pangan Indonesia. Untuk itu, perlu menjadi perhatian bagi Lembaga yang memiliki wewenang dalam hal ketahanan pangan.

“Nah ini saya berpikir simple, kita juga dengan persoalan pupuk saat ini, pupuk langka, pupuk langka itu terus. Ketika pulang ke dapil juga semua anggota akan diserang dengan pertanyaan itu. Kenapa kita tidak mencoba gitu mengajak kawan-kawan muda yang punya potensi mengolah food loss dan food waste ini dijadikan pupuk organik? ini kan punya potensi besar, sudah berapa kita bisa membantu meminimalisir persoalan pupuk,” tuturnya.

Namun, Politisi Fraksi NasDem itu juga mengakui bahwa saat ini sumber daya manusia di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Lantaran saat ini masih sangat minim kontribusi petani-petani muda. Bahkan banyak masyarakat yang bergelar Sarjana Pertanian tidak berprofesi sesuai gelar akademisnya tetapi malah bekerja di perbankan dan perusahaan-perusahaan besar.

“Nah mungkin kita bisa maksimalkan potensi anak-anak muda ini, apalagi di Kementerian Pertanian ada program kalau tidak salah juga wirausaha muda, kemudian petani magang di Jepang juga ada mungkin apakah masih ada sampai sekarang? Saya pikir mereka yang sudah lulus dari kuliah, dari magang di luar dengan ilmu pengetahuan teknologi yang jauh lebih canggih di Indonesia mereka bisa di-challenge ketika pulang ke Indonesia. Jadi apa yang bisa mereka kontribusikan untuk ketahanan pangan kita?” tandasnya.

Pemerintah pun diharapkan untuk lebih memperhatikan kurangnya sumber daya manusia di sektor pertanian ini terutama pada usia muda. Diketahui saat ini data petani di Indonesia rata-rata berusia di atas 50 tahun dan ketertarikan anak muda yang bekerja di sektor pertanian hanya 4 persen. Sementara melihat kondisi saat ini, petani diperlukan dan dipacu untuk menghasilkan produktivitas dengan mutu dan kualitas baik untuk menjamin ketahanan pangan. 

“Bukan kita menganggap petani-petani senior ini tidak berkontribusi maksimal, tidak. Tapi melihat urgensinya sekarang sektor pertanian dan melihat target-target nasional dan global kita ini perlu dipacu lebih. Kalau yang senior yang tua ini kan perlu kalau kita ajak berlari kenceng mereka tentu juga keteteran, dengan sumber daya manusia yang sangat terbatas. Nah ini saya pikir juga menjadi persoalan serius untuk negara kita,” pungkasnya.

Komentar