Selasa, 09 Juni 2026 | 09:04
COMMUNITY

Bersilaturahim Dengan KH. Abdul Basith, Prof. Rokhmin Dahuri Kagumi Ajaran Ponpes Bina Insan Qurani

Bersilaturahim Dengan KH. Abdul Basith, Prof. Rokhmin Dahuri Kagumi Ajaran Ponpes Bina Insan Qurani
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, HS saat bersilaturahim dengan KH. Abdul Basith, LC (Fok Askara)

ASKARA - Sebagai seorang muslim harus yakin apa yang ada di dalam Alquran dan hadits shohih pasti ada benarnya. Kalau kita bersilaturahim akan memperpanjang umur, Insya Allah juga memperbanyak rezeki.

Demikian dikatakan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, HS saat bersilaturahim dengan KH. Abdul Basith, LC, pimpinan Ponpes Tahfidz Bina Insan Qurani (BIQ), Jl. Pesantren No.01 Desa Susukan Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon , Sabtu (19/8) petang.

“Dan itulah kenapa saya senang bersilaturahim sebagai motivasi, dan itu secara logika memang bisa dijelaskan. Kalau kita tidak silaturahim kalau ada masalah seolah terasa sesak di dada. Sebaliknya kalau kita ketemu bisa bertukar informasi , pengalaman hidup, saling menyenangkan. Orang yang tadinya frustasi menjadi terhibur,” ujar Guru Besar FPIK IPB University itu.

Kedua, misalnya ada orang mempunyai sebuah produk lalu bertemu dengan salah rekannya yang menawarkan untuk menjadi marketingnya. “Itulah bukti apa-apa yang difirmankan oleh Allah dan disabdakan oleh Rasulullah, itu pasti benar. Cuma kadang-kadang kita diberi godaan, kita sudah baik, sudah soleh seolah-olah susah,” tuturnya.

Selanjutnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong tersebut membeberkan, dalam ikhtiarnya sebelum diberi amanah sebagai Caleg PDI-P Dapil Cirebon-Indramayu itu sudah sering sekali ke pesantren-pesantren di daerah Cirebon. Seperti Ponpes Buntet, An-Nashuha, dll.

“Setiap saya ke Cirebon selalu ada acara ke pesantren. Karena kita harus yakin kemenangan itu dari pesantren, terutama doa dari pada Kiai,” kata Ketua Dewan Pakar Himpunan Pengusaha Nahdliyyin itu.

Disisi lain, Prof. Rokhmin Dahuri juga mengagumi ajaran dari Ponpes Tahfidz Bina Insan Qurani bagaimana para santri menghormati para tamu, seperti ketika memasuki ponpes para santri berbaris menyambut kedatangannya beserta rombongan.

Menurutnya, itu merupakan ajaran Islam sebagai interaksi antara Nabi Ibrahim As dengan Nabi Ismail As sangat dialogis ketika menceritakan sebuah mimpi. “Bapak dengan anak bisa saja langsung intruksi, tapi beliau minta pendapat dulu dari anaknya. Bahkan Nabi Ibrahim kepada ayahnya yang kafir dalam koridor kemanusiaan sangat santun, tidak berbicara kasar. Artinya yang muda menghormati yang tua, sebaliknya yang tua menghargai yang muda,” terang Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Gotong Royong itu.

Prof. Rokhmin Dahuri menyayangkan pemerintah memanfaatkan pesantren hanya mencatat pesantren generasi unggul, generasi emas. Karena jika berbicara generasi unggul bukan hanya kompetensi. “Yang lebih penting lagi soal akhlak, sayangnya umat Islam tidak menggunakan petunjuk dari Allah untuk melaksanakan perkara dunia termasuk memilih pemimpin,” kata Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia.

Untuk itu, Prof. Rokhmin Dahuri berharap generasi muda yang akan datang memiliki iman dan takwa, kompentsi dunia mumpuni dan akhlaknya mulia. “Pasti kalau iman dan takwanya punya kompetensi  pasti akhlaknya mulia,”ujar Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan itu.

Dahulukan Akhlak Daripada Ilmu

Sementara itu, Kiai Abdul Basith sependapat dengan Prof. Rokhmin Dahuri bagaimana santri menghormati ustadznya. Hal ini, katanya, karena banyak para santri ingin menghapal Alquran maka pihaknya memilih tempat yang kondusif tidak bercampur dengan umum.

“Artinya orang yang menghapal Alquran harus punya waktu khusus, tidak boleh bercampur dengan orang yang tidak menghapal Alquran, karena sangat berpengaruh. Ketika semangat menghapal malah bergurau, ini pasti tidak jadi. Berbeda dengan satu komunitas mereka akan menyesal kalau tidak bsia menghapal, itu merupakan sebagai pemicu. Untuk santri putri menghapal sudah dijadikan sistem, jika melihat kawannya rajin dia langsung mengambil Alquran,” tandasnya.

Lalu, Kiai Abdul Basith menekankan ada satu kalimat Al Adab (Akhlak). Dijelaskan, etika itu didahulukan daripada ilmu. Itu merupakan mengapa kemudian ilmu itu bisa bermanfaat, bisa barokah karena ada etika mengagungkan guru, mengagungkan ilmu. “Sehingga Allah memberikan keberkahan kepada para santri ketika berkiprah ke masyarakatnya,” terangnya.

Kiai Abdul Basith menjelaskan, banyak sekali orang-orang yang pandai tetapi karena kurang adab, maka kurang mengenal gurunya meskipun otaknya cemerlang. Tetapi ketika berinterasi dengan yang lain itu kurang beretika, maka orang menyayangkan tidak pakai etika. “Berbeda dengan yang penampilannya bersahaja, bagus akhlaknya, maka belum sampai guru mengeluarkan kalimat itu sangat hormat. Inilah yang kami tekankan, siapapun siswa disini begitu ada pengasuh, guru lewat pasti memberikan penghormatan terlehih dahulu,” kata Kiai Abdu Basith.

Dalam kesempatan itu, Kiai Abdul Basith menjelaskan, bahwa sangat menghormati kedatangan Prof. Rokhmin Dahuri ke pesantrennya. “Kami disini sebagai pengasuh pesantren Bina Insan Qurani selalu welcome, jangan sesama muslim yang non muslim juga kami terima untuk bersilaturahim, bahkan ada non muslim dari Gunung Kidul datang kemari,” ucap Kiai Abdul Basith, lalu menceritakan pembangunan pesantren ini dimulai pada tahun 2008.

Komentar