Dari Kumbakarna hingga Karawang Bekasi
Catatan Kemerdekaan
M.Kabul Budiono
ASKARA - Kumbakarna, akhirnya pergi ke medan pertempuran antara pasukan Rahwana dan pasukan Rama Wijaya. Namun sebelum berangkat perang, ia berjanji kepada dirinya, bahwa apa yang ia lakukan bukan untuk membela Rahwana, tetapi karena tidak rela negaranya diintervensi pihak luar.
Sebagaimana dikisahkan dalam wiracarita Ramayana, yang kemudian menjelma menjadi lakon lakon wayang di Indonesia, Rahwana memulai memicu perang lantaran menculik Dewi Sinta istri Rama. Dibantu bala tentara yang fisiknya berbentuk kera, Rama berusaha menyelamatkan dan mengambil kembali istrinya.
Akhirnya Kumbakarna gugur di medan laga. Yang dilakukan Kumbakarna berbeda dengan Wibisana. Satu satunya saudara Rahwana yang parasnya bagus dan bukan berwujud raksasa, itu diusir dan bergabung ke pasukan Rama. Dan dalam beberapa bagian cerita ia membocorkan kelemahan saudara saudaranya, termasuk Rahwana. Wibisana juga yang meminta Rama mengakhiri hidup Kumbakarna, yang sudah terluka parah di medan laga.
Berbeda dengan Kumbakarna dan Wibisana, adalah Gatutkaca yang maju menjadi panglima perang Bratayuda melawan Karna. Ia sudah tahu bahwa dirinya akan tewas, tetapi ia tetapi maju. Tidak untuk membunuh Karna yang sesungguhnya masih ada hubungan darah dengan Pandawa, melainkan agar senjata sangat ampuh dari Karna dapat dilumpuhkan.
Dalam Sejarah Islam, dalam peperangan juga dikenal tokoh Salman Al Farisi, salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Salam meninggalkan Persia negerinya dan keluar dari paham Majusi untuk mencari Muhammad yang ia dapatkan informasinya dari seorang pendeta. Salman yang kemudian masuk Islam, terkenal dengan strategi perang Khandaq. Salman menyarankan kepada Nabi Muhammad SAW agar menghambat serangan kafir Quraisy, dengan membangun parit sekeliling Madinah. Kememangan atas pertolongan Allah berpihak pada kaum Anshar dan Muhajirin pimpinan Muhammad SAW.
Keputusan politik Kumbakarna dan Wibisana dan Gatutkaca hanya ada dalam epos Ramayana Mahabharata. Langkah Salman Al Farisi tercatat dan shirah Nabawiyah. Ke empatnya terkait dengan soal keyakinan dan membela negara.
Kemerdekaan negara Republik Indonesia, diperoleh berkat perjuangan para pendahulu berkat tekad, keyakinan perjuangan. Tidak seperti halnya Kumbakarna, Wibisana dan Salman Al Farisi, parapendahulu kita tidak harus meninggalkan saudara atau negeri tempat kelahiran untuk berjuang menegakkan kemerdekaan. Yang pasti, walau berasal dari pulau pulau berbeda, semua tekadnya sama ialah menjadi bangsa yang Merdeka dari kolonialist dan mempertahankannya.
Para founding fathers khususnya penyusun UUD 45, pada Alinea ke2 Pembukaan UUD menyatakan bahwa perjuangan kemerdekaan telah mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur.
Rasanya masih dapat menjadi pertanyaan menjelang peringatan Kemerdekaan RI ke 68, apakah pengorbanan para pahlawan kemerdekaan demi NKRI yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur telah benar mewujud dalam keseharian bangsa Indonesia.
Saya jadi ingat petikan puisi almarhum Chairil Anwar, Karawang Bekasi berikut ini...
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi kami adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi ada yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa
M.KabulBudiono
Jelang HUT ke 68 RI

Komentar