Senin, 08 Juni 2026 | 08:07
OPINI

Sengkuni dan Klaim Tidak Bersalah

Sengkuni dan Klaim Tidak Bersalah
Wayang kulit Sengkuni

Catatan akhir pekan....
Oleh: M Kabul Budiono

"Kulo tiang sae….kulo tiang sae."
Ketika ajal sudah hampir tiba, karena badannya dirobek-robek  oleh Bima, Sangkuni terus saja merintih dan mengatakan "Saya orang baik, saya orang baik."

Dalam dunia pewayangan dan sebagaimana dikisahkan dalam Mahabharata, Sengkuni memang merupakan tokoh yang selalu jahat dan menjahati keluarga Pandawa. Sejak ia menjadi Mahapatih di Astina, dengan menyingkirkan Gandamana dengan cara licik, Sengkuni selalu berusaha menghabisi Puntadewa dan adik-adiknya.

Tujuannya? Agar Kerajaan Hastina tetap di tangan Duryudana dan 99 adik-adiknya dapat hidup senang. Pun ia akan tetap menjadi Patih. Karena itu saat sekarat, ia masih saja merasa perbuatan-perbuatannya bukanlah kejahatan.

Dale Carnegie, dalam buku klasik yang terbit tahun 1936, menuturkan kisah-kisah para gangster atau penjahat kelas kakap di Amerika Serikat. Salah satunya adalah Crawley, sang pembunuh polisi. Penjahat paling dicari di New York itu, saat akan diserbu polisi, dan sebelum ajalnya melayang lantaran tubuhnya dirobek-robek peluru menulis pesannya pada secarik kertas "di balik kulitku, di dalam dagingku, dan dalam aliran darahku, ada rasa kemanusiaan yang tinggi."

Crawley the Two Guns, menurut Dale Carnegie dalam buku "How to Win Friends and Influence People," tidak pernah merasa bersalah. Mengapa ia membunuh polisi, karena ia membela diri.

Rasa tidak bersalah juga ada di dalam pikiran Al Capone dan para gangster Amerika lainnya, demikian tulis Dale Carnegie. Ini berbeda dengan ungkapan Mario Puzzo dalam novel Godfather mengenai Boss Mafia yang akhirnya mati dalam sunyi dan merasa bersalah atas tindakannya kepada keluarganya.

Kembali pada diri manusia, atau kepada diri kita ya teman-teman. Apakah kita seperti halnya Sengkuni, Crawley two Guns, Al Capone? Dalam keseharian kita mengenal peribahasa "Gajah di seberang lautan tampak, kuman dipelupuk mata tidak kelihatan." Kita, boleh jadi lebih mudah melihat kesalahan orang lain. Bahkan saat sedang benci atau sakit hati, kesalahan orang lain kita cari-cari.

Almarhum Prof Hamka dalam bukunya Tasauf Modern kurang lebih  menulis kiasan bahwa "..banyak orang yang suka berkaca dan menyisiri rambutnya, namun jarang yang mau menyisiri hati dan membersihkan jiwanya."

Agama mengajarkan kita untuk senantiasa melakukan introspeksi atas apa yang kita pikirkan dan kemudian dilakukan. Rasulullah SAW mengajarkan agar selalu menyadari kekurangan diri dan berusaha berbuat baik kepada sesama manusia.

Dalam Musnad Anas ibn Malik RA, Nabi SAW bersabda, "Beruntunglah orang yang sibuk melihat aib dirinya sehingga tidak sibuk dengan aib orang lain."

Semoga kita tidak menjadi seperti Sengkuni, dan Crawley atau yang lainnya, yang sampai ajal datang tak hendak merasa berbuat salah dalam tindakan dan mengklaim dirinya berbuat baik, walau dengan menyakiti orang lain.

Wallahu a'lam bissawab

 

Komentar