Minggu, 07 Juni 2026 | 13:48
OPINI

Al Hikam: Hikmah 87, Hidup Dalam Kesejatian Menjaga Esensi Kehidupan

Al Hikam: Hikmah 87, Hidup Dalam Kesejatian Menjaga Esensi Kehidupan
Rahmat Mulyana
Pensyarah: Dr Ir Rahmat Mulyana MM, Dosen IAI Tazkia
 
ASKARA - Worldly outer appearances have their attraction, but inwardly they contain meanings. While the self looks at their outer appearances, the heart looks at their inner meanings (and the lessons from them).
 
“Aspek lahir alam dunia adalah ilusi, sedangkan aspek batinnya mengandung realitas yang lebih hakiki. Karena itu, nafsu akan terperdaya oleh tampilan lahiriah, namun mata hati akan mampu menangkap substansi yang sebenarnya”
 
"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al-Hadîd: 20).
 
Mungkin beberapa dari kita merasa bahwa hal ini boring, klise, atau bahkan dianggap tidak penting. Namun, kita perlu menyadari bahwa hal ini sudah endemic, meluas, mendalam dan mengurat akar. Misalnya, kecenderungan untuk mengejar kekayaan dan popularitas tanpa henti, korupsi yang semakin marak, gaya hidup hedonistik, tindakan pamer, masyarakat yang terbelit utang demi menjalani gaya hidupnya. Berikut ini sedikit daftar akibat perilaku akibat tipuan dunia dan terlupakannya esensi sejati dari kehidupan dari pribadi maupun masyarakat dan bangsa.
 
• 80% PNS di sebuah Kabupaten terperangkap utang rentenir disebabkan tuntutan gaya hidup
• Di sebuah negara kepemimpinan diserahkan kepada seseorang hanya karena faktor popularitas
• Kepala Negara yang dihasilkan dari pencintraan tersebut kemudian membangun sebuah sebuah kota dengan dana pajak ribuan triliun padahal 20 juta rakyatnya miskin
 
Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an, kita sering terpesona oleh kehidupan alam dunia yang penuh ilusi sehingga melupakan kesejatian hidup. Ini tentang kehidupan kita saat ini, tentang ilusi yang memenuhinya dan memperdaya manusia pada umumnya sehingga hidup penuh dengan kepalsuan dan terlupa akan hal-hal yang paling esensi.
 
Di Indonesia, kita sekarang ini sedang mengalami fenomena penyebaran kerusakan moral yang telah mencapai tingkat yang meresahkan. Oleh karena itu, kita perlu bersama-sama melakukan introspeksi dan berusaha untuk memahami hakikat sejati dari kehidupan. Perilaku-perilaku tersebut jika telah meluas di masyarakat, memiliki beberapa dampak. Dari sisi ekonomi, dapat terjadi ketidakstabilan, penurunan investasi, dan munculnya kesenjangan sosial ekonomi yang semakin lebar. Sedangkan dari sisi sosial, terjadi pergeseran nilai-nilai moral, hilangnya kepercayaan publik, dan berkurangnya rasa solidaritas dan empati dalam masyarakat.
 
Hidup dalam ilusi atau kepalsuan adalah masalah yang mewabah dan berdampak negatif pada individu dan masyarakat. Pada tingkat individu, hidup dalam ilusi dapat menyebabkan ketidakpuasan, stres mental, dan pengambilan keputusan yang buruk. Pada tingkat masyarakat dan bangsa, hidup dalam ilusi dapat menyebabkan ketidakstabilan sosial dan politik, korupsi, dan ketidakadilan.
 
Di level pribadi, banyak orang yang hidup dalam kepalsuan dengan bergaya hidup tinggi padahal dengan gali lubang tutup lubang. Mereka mengejar fatamorgana, pengejaran dunia dan melupakan hal esensi: kebahagiaan hakiki, kehidupan yang sehat, hubungan yang bermakna. Akibatnya keluarga retak, ekonomi keluarga berantakan terlilit utang.
 
Untuk mengikis kepalsuan di level pribadi, kita perlu menyadari bahwa hidup ini bukan hanya tentang materi dan kesenangan semata. Kita perlu menemukan tujuan hidup yang lebih tinggi dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kita perlu mengembangkan diri dengan meningkatkan ilmu dan kompetensi yang sesuai dengan minat dan bakat kita. Kita perlu menjaga kesehatan fisik dan mental dengan pola hidup sehat dan positif. Kita perlu menjalin hubungan yang harmonis dan saling mendukung dengan keluarga, teman, dan masyarakat.
 
Di level masyarakat dan negara, banyak kepalsuan yang terjadi seperti hoax, deception, penggiringan opini, memilih pemimpin dan wakil rakyat bukan karena kompetensi tapi hanya karena popularitas, korupsi merajalela, inefisiensi, ekonomi biaya tinggi, membangun hal-hal penting, mengabaikan hal-hal esensi.
Untuk mengikis kepalsuan di level masyarakat dan negara, kita perlu berperan aktif sebagai warga negara yang cerdas dan bertanggung jawab. Kita perlu mencari informasi yang akurat dan objektif dari sumber yang terpercaya dan kritis terhadap informasi yang tidak jelas atau menyesatkan. 
 
Kita perlu menggunakan hak pilih kita dengan bijak dan memilih pemimpin dan wakil rakyat yang memiliki integritas, visi, dan kinerja yang baik. Kita perlu mengawasi dan mengkritisi kinerja pemerintah dan aparat negara agar tidak melakukan korupsi atau penyalahgunaan wewenang. Kita perlu mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan yang memperhatikan kepentingan rakyat dan lingkungan.
 
Di level agama, banyak kepalsuan yang tampak seperti selebritisasi di bidang agama sehingga selebriti lebih banyak ditampilkan dibanding ulama sejati. Hampir dalam semua agama, ada orang-orang yang menyalahgunakan ajaran agama untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Ini bisa menciptakan konflik dan mengaburkan pesan asli ajaran agama yang mencintai perdamaian, toleransi, dan kasih sayang.
 
Orang yang mampu menghindari kehidupan semacam itu adalah orang yang bijaksana. Orang yang bijaksana tidak dipicu oleh peristiwa eksternal. Mereka tidak membiarkan emosi menguasai mereka, dan tidak membiarkan diri mereka dipengaruhi oleh pendapat orang lain. Mereka mampu tetap tenang dan fokus, bahkan dalam menghadapi kesulitan. Orang yang hidup dengan senantiasa melibatkan dan mengingat Allah dalam setiap aspek kehidupan akan membentuk diri menjadi lebih tenang, bijaksana, dan tidak bersifat impulsif. Mereka penuh kesadaran akan kehadiran-Nya, dan dengan rendah hati, mereka mencari petunjuk dari-Nya dalam segala hal. Setiap keputusan yang diambil, mereka selalu mengingat Allah dan memohon petunjuk-Nya. Mereka menyadari bahwa hidup ini adalah ujian, dan setiap langkahnya harus berdasarkan tuntunan-Nya agar mendapatkan keberkahan dan ridha-Nya. Hubungan antara pemahaman kesejatian diri dan pengenalan akan Tuhan  sudah sangat jelas sebagaimana disampaikan Ja’far as Shadiq ra, “Siapa saja yang telah mengenal dirinya, maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya.”
 
Berikut adalah beberapa tips untuk mendawamkan kebijaksanaan dengan senantiasa melibatkan dan mengingat Allah dalam kehidupan:
 
1. Luangkan waktu untuk berdzikir dan berdoa kepada Allah. Rengkuhlah momen-momen istimewa dalam ibadah dan komunikasi dengan-Nya khususnya dalam shalat dan membaca Al Quran.
2. Jangan biarkan emosi mengendalikan Anda, tetapi tenangkan hati dengan mengingat-Nya dan percayalah bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang ingat kepada-Nya. 
3. Jujurlah kepada diri sendiri tentang visi misi hidup anda dan bangunlah motivasi untuk mencapainya. Untuk setiap yang kita lakukan terutama hal-hal yang besar pertanyakan pada diri sendiri, "Apakah yang saya lakukan ini akan mendekatkan diri kepada Allah?" “Apakah yang saya perjuangkan ini adalah bagian dari misi yang diperintahkan Allah?” 
 
Ingatlah, salah satu makna Islam adalah “Submission to Allah”. Misi besar hidup kita adalah sejalan dengan misi Allah. Kita boleh mempunyai misi rincian yang spesifik, namun secara garis besar misi hidup kita adalam sebagaimana misi Allah. Itulah makna Islam yang hakiki.
 
Dengan senantiasa melibatkan dan mengingat Allah dalam kehidupan, kita akan merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati. Hidup akan menjadi lebih bermakna karena Allah adalah sumber segala kebaikan dan keberkahan. Semua langkah dan keputusan akan terarah kepada-Nya, dan itulah jalan menuju hidup yang lebih esensial dan jauh dari ilusi dunia dan membawa keselamatan sampai ke akhirat. Amin.

Komentar