OPINI
Al Hikam 85: Menghadapi Kelapangan dan Kesempitan dalam Kehidupan
Oleh: Rahmat Mulyana
ASKARA -“Ada kalanya Allah memberimu dunia dan kesenangan lalu Allah mencegahmu (dari taufiq dan hidayah-Nya), dan ada kalanya Allah mencegahmu dari condong kepada keinginan dunia dan kesenangannya, tetapi sebenarnya Allah memberimu
anugerah yang melimpah.”
Dalam perjalanan hidup ini, kita seringkali dihadapkan pada situasi kelapangan dan kesempitan. Ada saat-saat di mana kita merasa diberkahi dengan dunia dan kesenangan yang melimpah, namun ada pula momen ketika kehidupan terasa sempit dan penuh tantangan. Dalam Al Hikam 85, dijelaskan bagaimana sikap mental yang benar dapat membantu kita menghadapi segala situasi tersebut dengan bijaksana.
Allah memberikan rejeki dan kenikmatan kepada hamba-Nya dengan karunia-Nya yang tak terhingga. Namun, ada kalanya Allah juga mencegah kita dari cenderung kepada dunia dan kesenangan. Terkadang, kelapangan dan berlimpahnya pemberian dapat menahan kita dari mendapatkan taufik (petunjuk dari-Nya) dan hidayah (cahaya petunjuk-Nya).
Sebaliknya, ada saat-saat di mana kesempitan dan keterbatasan yang kita alami justru menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Allah memberi jalan kepada ketaqwaan melalui cobaan dan tantangan yang mengajarkan kita kesabaran, ketekunan, dan keteguhan iman.
1. Surat Al-Baqarah (2:216):
"Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu, padahal menurut Allah baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu, padahal buruk bagimu. Allah Maha Tahu, sedang kita tidak tahu."
Ayat ini mengajarkan bahwa apa pun yang kita hadapi, baik kesukaan atau ketidaknyamanan, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita. Kita harus berserah diri dan percaya bahwa rencana-Nya adalah yang terbaik.
2. Surat Al-Fajr (89:15-16):
"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: 'Tuhanku telah memuliakanku'. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: 'Tuhanku menghinakanku'."
Ayat ini menggambarkan dua sikap manusia saat diuji oleh Allah. Ketika diberi kelapangan dan kesenangan, seseorang cenderung merasa dimuliakan. Namun, ketika menghadapi kesempitan dan keterbatasan, seseorang mungkin merasa dihinakan. Kita harus belajar menerima segala situasi dengan rasa syukur dan kesabaran.
Dalam hadist, Nabi Muhammad SAW juga telah memberikan petunjuk tentang menghadapi kelapangan dan kesempitan. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Tidaklah seorang Muslim ditimpa oleh kesulitan, kepenatan, kegundahan, kesedihan, kesusahan, atau kepedihan, melainkan Allah menghapus sebagian dari dosa-dosanya dengannya."
Hadist ini mengingatkan kita bahwa setiap ujian yang kita alami dalam kehidupan dapat menjadi penyucian bagi jiwa kita. Allah menghapus dosa-dosa kita dan mengangkat derajat kita melalui kesulitan yang kita hadapi.
Dalam pandangan Islam, semua cobaan dalam kehidupan dianggap sebagai ujian dan anugerah dari Allah. Sikap mental yang benar dalam menghadapinya adalah menerima dengan lapang dada dan percaya bahwa Allah memiliki rencana yang lebih besar untuk kita. Kita tidak bisa memahami sepenuhnya hikmah di balik setiap ujian, tetapi kita dapat memperkuat iman dan kesabaran kita dengan menjalani setiap situasi dengan penuh syukur dan sabar.
Mengenali Hakikat Kehidupan dan Rezeki
Pandangan yang seimbang terhadap dunia dan kesenangan adalah mengenali hakikat kehidupan ini sebagai ujian dan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hidup adalah perjalanan spiritual di mana kita menghadapi berbagai rintangan dan cobaan untuk tumbuh dan berkembang.
Dalam menghadapi kelapangan dan kesempitan, kita perlu menyadari bahwa Allah memiliki rencana yang lebih besar untuk kita. Setiap peristiwa dalam hidup memiliki hikmahnya sendiri, meskipun pada awalnya mungkin sulit dipahami.
Menghadapi segala situasi dalam hidup, sikap syukur dan sabar sangatlah penting. Syukur membangkitkan rasa bersyukur terhadap apa yang telah diberikan Allah, sementara sabar membantu kita tetap tegar dan tabah menghadapi tantangan.
Pemimpin, baik dalam konteks keluarga, masyarakat, maupun negara, memiliki tanggung jawab untuk membentuk mental utama manusia. Pendidikan dan bimbingan yang benar sangat penting dalam membentuk generasi yang memiliki pandangan yang seimbang terhadap dunia.
Mengapa Kita Sering Salah Paham Tentang Allah?
Ada sifat manusia yang dalam ilmu social disebut cognitive bias, atau prasangka kognitif, adalah kecenderungan pikiran manusia untuk mengambil keputusan dan menarik kesimpulan berdasarkan pandangan subjektif dan terpengaruh oleh berbagai faktor emosional dan sosial. Dalam menghadapi kelapangan dan kesempitan, kita harus berusaha sebisa mungkin untuk mengatasi cognitive bias agar tidak parah.
Dalam Al-Quran, Allah menyadarkan manusia tentang adanya cognitive bias dalam pandangan mereka. Manusia seringkali lalai dari hakikat kehidupan dan tersesat dalam prasangka dan kesalahan penilaian. Namun, Allah berjanji bahwa pada saat-saat tertentu, hijab penglihatan itu akan dibuka, dan penglihatan kita menjadi tajam.
Salah satu ayat yang mengingatkan kita tentang pentingnya mengenali cognitive bias dan mencari kebenaran adalah Surat Qaf ayat 22:
"Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam."
Ayat ini mengajarkan bahwa dengan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari perjalanan hidup, manusia akan menjadi lebih bijaksana dan memiliki penglihatan yang lebih tajam dalam melihat hakikat kehidupan.
Kesimpulan
Dalam menghadapi kelapangan dan kesempitan dalam kehidupan, kita perlu mengenali bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari rencana Allah. Sikap mental yang benar akan membantu kita menerima setiap ujian dan karunia-Nya dengan syukur dan kesabaran.
Cognitive bias dalam pandangan tentang Allah dan ciptaan-Nya bisa membatasi pemahaman kita. Oleh karena itu, kita harus selalu terbuka untuk memperoleh pengetahuan baru tentang Allah melalui berbagai cara, seperti membaca Al-Quran, berdoa, dan belajar dari orang lain.
Semoga dengan memahami hakikat kehidupan dan membangun sikap mental yang benar, kita dapat menghadapi segala tantangan dengan bijaksana dan mencapai kesuksesan yang sejati, yaitu mendekatkan diri kepada Allah.

Komentar