Kamis, 04 Juni 2026 | 06:48
COMMUNITY

Belajar Najis Dari Seekor Anjing

Belajar Najis Dari Seekor Anjing
Ilustrasi Abu Yazid al-Busthami

ASKARA - Suatu malam Abu Yazid al-Busthami sedang berjalan menembus malam. Di tengah perjalan melihat seekor anjing yang berjalan ke arahnya.

Saat anjing itu sudah hampir mendekat, Abu Yazid al-Busthami mengangkat jubahnya sebab khawatir tersentuh anjing.

Melihat tindakan Abu Yazid al-Busthami yang mengangkat jubah, si anjing berhenti dan berkata, “Hai Syekh tubuhku kering. Tidak akan menyebabkan najis padamu. Seandainya pun engkau merasa terkena najis, tinggal basuh 7 kali dengan air bercampur tanah, maka najis itu akan hilang.”

“Tapi jika engkau mengangkat jubahmu karena menganggap dirimu yang berbaju dan berbadan manusia merasa lebih mulia dan menganggapku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis yang menempel di hatimu tidak akan bisa bersih walaupun engkau membasuhnya dengan 7 samudera,” kata si anjing, dikutip akun @BincangSyariah, Selasa (11/7).

Mendengar itu, Abu Yazid al-Busthami tersentak dan terdiam lama. Ia segera meminta maaf pada anjing tersebut. Sebagai tanda permohonan maaf, ia mengajak si anjing untuk berjalan bersama menembus dingin malam.

Sayang si anjing menolaknya. Tak mau memenuhi ajakan sufi besar itu, sembari berkata, “Engkau tidak patut berjalan denganku. Sebab manusia memuliakanmu karena engkau seorang sufi, sedangkan kalau engkau berjalan bersamaku, mereka akan mencemohmu dan melempari aku dengan batu.”

“Aku tidak tahu mengapa manusia menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada sang pencipta dengan wujudku ini. Aku tidak menyimpan sebuah tulang yang aku makan, sedangkan engkau (dan manusia lain) masih menyimpan sekarung gandum sebagai persiapan,” kata si anjing.

Setelah itu si anjing melanjutkan perjalanan meninggalkan Abu Yazid al-Busthami yang masih bingung dan terpana.

Abu Yazid al-Busthami masih terhentak dan terdiam dalam sepi. Dalam keadaan itu ia bertutur, “Wahai Allah, untuk beriringan dengan seekor anjing saja aku tidak layak, bagaimana aku merasa layak berjalan bersama dengan-Mu, ampunilah aku dan sucikan hatiku dari pada najis ini.”

Sejak peristiwa itu, Abu Yazid tersadar. Ia menjadi orang yang memuliakan segala makhluk. Tanpa pandang bulu. Mengasihi yang ada di bumi, tanpa terkecuali.

 

Komentar