Rabu, 17 Juni 2026 | 22:45
SELEBRITAS

Single “Leungiteun” dan Album “Semua Dalam Satu” Inovasi Bunda Ratu Padukan Etnis dan Modern

Single “Leungiteun” dan Album “Semua Dalam Satu” Inovasi Bunda Ratu Padukan Etnis dan Modern
Ratu Ratna Dewi Kartika dan Prabudi Dharma (Dok. Askara)

ASKARA – Sekarang ini sudah banyak sekali kesenian dan budaya dari luar yang masuk ke Negara kita. Nampaknya generasi muda sudah mulai terpengaruh menyukai kesenian itu. Padahal kekayaan kita sangat luar biasa. Satu daerah saja keseniannya luar biasa banyaknya, bagaimana dengan seluruh Indonesia.

Ratu Ratna Dewi Kartika putri dari seorang tokoh seni dan budaya Jawa Barat, Tubagus Tatang Kartiwa (Trah Kesultanan Banten & Kerajaan Galuh Sukapura). Bunda Ratu sapaan akrab merupakan Ketua Umum Gentra Lestari Budaya (GLB).

Ratu Ratna banyak sekali mendapatkan penghargaan, salah satunya Women Inspiring Awards Bidang Kebudayaan dari Indonesia Prestasi.

Ratu Ratna menuturkan, lagu “Leungiteun” itu terinspirasi dari seniman-seniman dan ribuan generasi muda yang tergabung di dalam GLB yang berbeda suku, adat istiadat, dan agama.

“Kita ingin berkarya, memberikan kontribusi dalam seni dan budaya. Gayung bersambut ayah Prabudi Dharma punya lagu, prosesnya cepat dan singkat. Pelajari beberapa hari langsung rekaman,” ujar Ratu Ratna yang berkarir di dunia nyanyi sejak tahun 1981 itu. Dari festival ke festival, Ratu Ratna menjuarai bintang radio, pop tingkat nasional, lagu pilihanku hingga festival lagu keroncong.

Prabudi Dharma mengungkapkan, setelah vakum lama akibat pandemi ada kerinduan. Akhirnya bertemu dengan Ratu Ratna yang banyak pengalaman disemua lini genre. “ Kebetulan saya ada lagu-lagu, lalu membikin sesuatu yang baru. Melalui lagu Leungiteun (Kehilangan) akhirnya tercipta lagu single,” kata Ayah Dharma sapaan akrabnya.

Begitu juga dengan album “Semua Dalam Satu”, Prabudi Dharma menjelaskan, kebetulan di GLB terdiri dari berbagai bangsa dan suku. “Lewat album Semua Dalam Satu kita mencintai budaya kita. Itu yang menjadikan kita bersama dan kuat,” jelasnya.

Dia mengungkapkan diluncurkannya single dan album ini secara bersamaan sebagai test market. “Jika single nya bagus maka album keluar. Tapi Single mewakili budaya, album mewakili modern dan elektronik berisi lagu-lagu lama yang di update,” ungkapnya.

Bunda Ratu berharap dengan diluncurkannya single dan album perdana ini bisa membangkitkan jiwa nasionalisme anak-anak muda.

Uniknya, bukan sekadar single biasa tapi ada unsur seni budaya yang sekarang sudah hampir ditinggalkan oleh anak-anak muda zaman sekarang. “Ada yang membuat kekhawatiran banyak orang yang sudah kehilangan jati diri sebagai bangsa yang berbudaya.

Lewat single dan album ini kita memotivasi untuk bangkit lagi seperti zaman kejayaan leluhur kita,” kata Ratu Ratna. Selain itu, lanjutnya, terinspirasi melihat musik daerah sedang lesu. Tapi bagaimana kita mengemasnya agar generasi muda bisa menikmati.

Lagu “Leungiteun” diciptakan dan diaransemen oleh Dwiki Darmawan & Prabudi Dharma dari Krakatau Band dengan lirik berbahasa Sunda yang dinyanyikan oleh Ratu Ratna Dewi Kartika.

Musik lagu ini merupakan “cross-over” antara music pop dan musik Sunda, dengan makna lirik mendalam tentang budaya tradisional yang mulai terkikis modernitas, lagu ini membangkitkan jati diri bangsa berdasarkan budaya luhur yang adiluhung.

Sedangkan Album “Semua Dalam Satu” diciptakan dan diaransemen secara electronic digital oleh Prabudi Dharma & Uki Basoeki. Selaras dengan kemajuan teknologi, album ini bisa dikategorikan sebagai album bernuansa Elektronik dengan sentuhan musik POP yang kuat ditambah 2 lagu karya Dian Pramana Putra “Biru” dan Chris Manusama berjudul “Kidung” yang pernah menjadi lagu hit di era 80-an.

Album ini dapat dikategorikan ke dalam beberapa genre musik seperti: POP, RnB dan EDM (Electronic Dance Music) yang sedang digemari kaum milenial masa kini.

Komentar