Kamis, 04 Juni 2026 | 05:22
NEWS

Artikel Vaksin Nusantara Terbit di Jurnal Internasional, Peneliti: Kualitasnya Tak Perlu Diragukan karena Di-review Para Ahli Dunia

Artikel Vaksin Nusantara Terbit di Jurnal Internasional, Peneliti: Kualitasnya Tak Perlu Diragukan karena Di-review Para Ahli Dunia
Ilustrasi Vaksin Nusantara (Dok Istimewa)

ASKARA - Jurnal mengenai Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto baru saja terbit di Expert Review of Vaccine, Kamis (26/5) kemarin. 

Peneliti utama vaksin Nusantara, Kolonel Jonny mengatakan, jurnal tersebut dipublikasikan dengan tingkat Q1. 

Artinya, kata dia, merupakan jurnal yang mempunyai impact tinggi dan diterbitkan dengan seleksi yang ketat. 

"Ini menunjukkan bahwa artikel mengenai Vaksin Nusantara dengan judul “Dendritic cell vaccine as a potential strategy to end the COVID-19 pandemic. Why should it be Ex Vivo?” ini kualitasnya tidak perlu diragukan karena sudah direview oleh para ahli dari berbagai negara di dunia," ujarnya, kepada Askara, Jumat (27/5).  

Diketahui, jurnal tentang Vaksin Nusanatra itu terbit dengan judul 'Dendritic cell vaccine as a potential strategy to end the COVID-19 pandemic. Why should it be Ex Vivo?'

"Artikel ini juga akan menjawab semua keraguan dan pendapat miring terhadap Vaksin Nusantara yang selama ini terjadi," ungkap Kolonel Jonny. 

Dalam jurnal itu disebutkan, sel dendritik sebagai basis Vaksin Nusantara berpotensi besar menciptakan imunitas yang mungkin terganggu imbas infeksi virus Corona.

Dituliskan, sel dendritik merupakan komponen seluler penting dalam respon imun bawaan yang memiliki kemampuan fagositosis, menghasilkan mediator inflamasi, dan menyajikan antigen.

"Sel dendritik memainkan peran penting dalam imunitas bawaan dan adaptif. SARS-CoV-2 dapat menginfeksi sel dendritik yang mengakibatkan gangguan kekebalan bawaan dan adaptif. Vaksin sel dendritik dengan pendekatan ex vivo dapat menghasilkan luaran klinis yang lebih baik," tulis artikel dalam jurnal itu.

Artikel tersebut dapat dibaca dengan lengkap di link: https://bit.ly/3MOAgTx atau https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/14760584.2022.2080658

Menurutnya, vaksinasi berbasis sel dendritik dapat dilakukan melalui pemuatan ex vivo. Artinya, antigen diekspos di luar tubuh ke sel dendritik yang diisolasi dari sel monosit darah perifer, kemudian disuntikkan kembali ke dalam tubuh. Walhasi, vaksin berbasis sel dendritik bersifat spesifik dan individual.

Meski masih eksperimental, vaksin ini tengah dikembangkan sebagai vaksinasi SARS-CoV-2. Peneliti meyakini, metode ex vivo menjadi pilihan utama dalam pengembangan vaksin berbasis sel dendritik.

Juga disebutkan, biaya produksi pendekatan tersebut cukup tinggi. Walhasil, produksi vaksin dengan metode tersebut membutuhkan fasilitas khusus yang tidak memungkinkan didistribusikan secara luas dan praktis. Namun lantaran induksi kekebalan bisa terjadi dalam jangka waktu panjang, metode ini bisa menggantikan kebutuhan suntikan booster berkala sehingga menjadi lebih minim ongkos dibandingkan vaksin konvensional.

"Produksi di titik perawatan seperti rumah sakit dan laboratorium medis, dapat menjadi solusi untuk keterbatasan praktis dari pendekatan ini. Kesimpulannya, pendekatan ini sesuai untuk vaksin COVID-19 dan profil keamanan dari pendekatan ini membutuhkan studi klinis untuk dilanjutkan," tulisnya.

Komentar