Kamis, 04 Juni 2026 | 09:56
TRAVELLING

Mahamenteri SPA Tedjowulan Ibu Ratu Emas Nyadran Di Pesarehan Sunan Kalijogo, Kiageng Selo, Sinuhun Amangkurat 1

Mahamenteri SPA Tedjowulan Ibu Ratu Emas  Nyadran Di Pesarehan Sunan Kalijogo, Kiageng Selo, Sinuhun Amangkurat 1

ASKARA - Rombongan Mahamenteri SPA Tedjowulan, beserta Ibu Ratu Emas, kerabat, abdidalem berangkat dari solo menuju Kota Demak ke makam Sunan Kalijaga ( Raden Sahid ) untuk melakukan ziarah kubur dan berdoa bersama, di lanjutkan kemakam Ki Ageng Selo, dan ke  makam Sinuhun Amangkurat I.

Agenda ziarah ke makam makam Raja Mataram dan Walisongo ini adalah agenda tahunan kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang di wakili oleh Mahamenteri SPA Tedjowulan beserta Ibu Ratu dan rombongan nya.

Di jelaskan Mbah Kangjeng Pangeran Mudinghasto ketua Rombongan, kegiatan ini sudah turun temurun nyekar ke makam Raja Mataram,agar kita ingat mengingat beliaunya,bagian sejarah kerajaan atau keraton di mataram ini, biar anakcucu kita kedepanmasih ingat dan tahu ada nya sejarah RajaMataramdan seterusnya.

Makam Sunan Kalijaga demak yang merupakan ikon destinasi wisata religi kabupaten Demak, Salah satu anggota Wali Songo yang mendapat penerimaan luas di masyarakat adalah Sunan Kalijaga. Dia keturunan Adipati Tuban, dan memiliki nama asli Raden Said. Sunan Kalijaga alias Raden Said lahir tahun 1450.

Ayahnya adalah Adipati Tuban bernama Tumenggung Wilatikta dan ibunya bernama Dewi Nawang Arum. Nama Kalijaga berarti seseorang yang pernah menjaga kali atau sungai. Nama ini disematkan setelah Raden Said bertapa di tepian sungai sebagai syarat untuk diterima menjadi murid Sunan Bonang.

Sebelum menjadi seorang sunan yang mendakwahkan Islam, Sunan Kalijaga pernah menjalani kehidupan sebagai seorang preman dengan nama samaran Brandal Lokajaya. Namun, hasil rampasan Sunan Kalijaga itu tidak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, melainkan diberikan kepada masyarakat yang kekurangan secara ekonomi.

Tinggal di lingkungan kadipaten dan serba berkecukupan tidak membuat Raden Said acuh terhadap kondisi rakyat. Sebaliknya, Raden Said merasa iba melihat rakyat yang menderita akibat pajak tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah Majapahit melalui Kadipaten Tuban. Raden Said tidak tinggal diam. Dia berulangkali menyampaikan kritik kepada ayahnya. Namun sang ayah juga tidak bisa berbuat banyak, karena penentuan pajak bukan wewenang adipati.

Raden Said lantas melakukan aksi mencuri bahan makanan dari gudang kadipaten. Hasil curian itu dibagikan secara diam-diam kepada masyarakat. Namun, lambat laun tindakan Raden Said itu ketahuan. Dia tertangkap basah saat sedang menjalankan aksinya.

Raden Sahid lantas diusir dari istana Kadipaten Tuban. Sejak itu Raden Said berkelana dari hutan ke hutan. Dia membuang identitas aslinya, dan memperkenalkan diri sebagai Brandal Lokajaya. Masih seperti dulu, hasil rampasan yang didapat dibagikan kepada rakyat jelata yang kesusahan.

Mengenal Sosok KiAgeng Selo

Dikenal sebagai orang bijaksana dengan ilmu kanuragan yang tinggi, Ki Ageng Selo tak pernah tinggi hati. Ia menjadi pendengar yang baik dan mau membantu kesulitan yang dihadapi para petani. , suatu ketika keresahan petani muncul disebabkan lahan bertani menjadi lokasi sambaran petir. Akibatnya, hasil panen padi berkurang dan petani merasa was-was mengolah lahannya.

Suatu hari, saat sedang menggarap lahan sawahnya, cuaca mendung dan turun hujan. Lalu, petir menyambar Ki Ageng Selo. Dengan ilmu kanuragannya, Ki Ageng Selo menangkap petir yang berwujud naga, kemudian diikat pada pohon Gandrik di sekitar lahan sawahnya.

Ketika dibawa ke rumah, wujud naga itu disimpan dalam lemari yang kini bisa dilihat di area belakang pondok makam.

Hingga kini masyarakat Jawa percaya bila hujan turun dan muncul petir, mereka akan terhindar dari sambaran petir bila berucap “Gandrik anak putune Ki Ageng Selo (Gandrik anak cucunya Ki Ageng Selo)”. Saat dibawa ke Sultan Demak, petir berupa naga berubah wujud menjadi seorang kakek, yang dikerangkeng dan ditempatkan di alun-alun.

 Seorang nenek mendekati kerangkeng dan menyemburkan air dari kendi yang dibawanya ke arah si kakek. Petir menggelegar, wujud kakek dan nenek itu menghilang tiba-tiba. Letak makam Ki Ageng Selo berada di area belakang masjid.

Peziarah harus melewati jalan di samping masjid, menyusuri jalan selasar yang berujung pada pondok yang didominasi warna hijau. Dalam pondok itulah makam Ki Ageng Selo tersimpan. peziarah yang datang haruslah menjaga ketenangan, agar tidak mengganggu peziarah lain yang sedang melantunkan ayat-ayat doa dengan khusyuk.

Sosok Sinuhun Amangkurat I

Bernama asli Raden Mas Sayidin, ia diangkat menjadi raja pada tahun 1645 menggantikan ayahnya sultan Agung dan dinobatkan secara resmi pada tahun 1646 dan bergelar Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung dan sering disebut Amangkurat I.

Komplek Makam Tegal Arum terletak di Dusun Pakuncen, Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal Propinsi Jawa Tengah. Adapun dusun Pakuncen ini sebelah timur berbatasan dengan Dusun Lemah Dhuwur, sebelah barat Dusun Klemben, sebelah selatan dusun Kanjen (termasuk kelurahan Pakuncen) dan sebelah utara desa Kajen kecamatan Talang.

Area situs ini dapat ditempuh melalui Slawi – Tegal. Setelah mencapai pada km 7 mengambil arah barat melalui jalan Amangkurat. Komplek Makam Tegal Arum berada kurang lebih 700 meter dari Jalan Raya Slawi-Tegal.

Komplek Makam Tegal Arum kabupaten Tegal merupakan makam Amangkurat I atau Sri Susuhunan Amangkurat Agung yang merupakan raja Kesultanan Mataram yang memerintah tahun 1646-1677. Ia adalah anak dari Sultan Agung Hanyokrokusumo. Ibunya bergelar Ratu Wetan, yaitu putri Tumenggung Upasanta bupati Batang (keturunan Ki Juru Martani).

Amangkurat I memiliki dua orang permaisuri. Putri Pangeran Pekik dari Surabaya menjadi Ratu Kulon yang melahirkan Raden Mas Rahmat, kelak menjadi Amangkurat II. Sedangkan putri keluarga Kajoran menjadi Ratu Wetan yang melahirkan Raden Mas Drajat, kelak menjadi Pakubuwana I.

Bernama asli Raden Mas Sayidin, ia diangkat menjadi raja pada tahun 1645 menggantikan ayahnya sultan Agung dan dinobatkan secara resmi pada tahun 1646 dan bergelar Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat Agung dan sering disebut Amangkurat I.

Amangku berarti memangku sedangkan Rat berarti Bumi. Dapat diartikan secara harafiah Amangkurat berati memangku Bumi. Kemudian Ia menjadi raja yang menguasai bumi Mataram yang luas warisan dari Ayahnya. Pada acara penobatannya Amangkurat I juga menyumpah semua anggota kerajaan untuk selalu mengabdi dan setia kepada rajanya.

Daerah kekuasaan Mataram pada saat itu sangatlah luas. Semua kegiatan dipusatkan pada ibu kota kerajaan Mataram. Selain makam utama pada komplek makam Tegal Arum juga terdapat makam-makam lain yang antara lain:

Makam Ratu Klenthing Kuning (berada di sudut halaman teras I)

Makam pengawal (berada ditengah halaman V sisi timur)

Makam para bupati tegal dan istrinya (berada disebelah dalam pagar selatan halaman V)

Makam keturunan Amangkurat dan Bupati (makam baru berada dihalaman V sisi timur dan Barat)

Larangan memetik tanaman yang ada dalam wilayah makam, juga harus dipatuhi peziarah. Terutama pohon Gandrik yang terdapat di sekitar pondok makam. peziarah bisa melihat tujuh pepali (larangan) Ki Ageng Selo, yang dinarasikan dalam sekar macapat, Dandanggula. Tertulis “Pepali-ku hargailah, (supaya) memberkahi, lagi pula selamat serta sehat”.

Laporan KRH Gus Ripno Waluyo, SE, SP.d, S.H, C.NSP, C.CL, C.MP  (Pengawal Prajurit Mahamenteri SPA Tedjowulan )

Komentar