Rabu, 17 Juni 2026 | 23:22
TRAVELLING

Utusan Mahamenteri Sinuhun Panembahan Agung Tedjowulan Nyadran di Pemakaman Imogiri

Utusan Mahamenteri Sinuhun Panembahan Agung Tedjowulan Nyadran di Pemakaman Imogiri
Pemakaman Imogiri

ASKARA - Rombongan Mahamenteri / Sinuhun Panembahan Agung Tedjowulan beserta kerabat,  Pengageng Parentah, Abdidalem nya berangkat dari Kota Solo menuju Kota Jogya untuk Nyadran di Pemakaman Imogiri sebagai jadwal rutin tahunan untuk kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Makam Imogiri dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Mataram III Prabu Hanyakrakusuma yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati Raja Mataram I. Makam ini terletak di atas perbukitan yang juga masih satu gugusan dengan Pegunungan Sewu.

Saat ini Kompleks Astana Imogiri (Makam Raja Raja Imogiri dan Masjid Pajimatan Imogiri) dikelola oleh Karaton Kasunanan Surakarta dan Kraton Yogyakarta sebagai pewaris resmi dari Kesultanan Mataram. Maka dari itu, kedua keraton menempatkan masing-masing perwakilannya, yakni abdi dalem golongan atas yang disebut Bupati.

Merupakan kompleks permakaman yang berlokasi di Desa Girirejo dan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (Enclave Surakarta Hadiningrat).

Permakaman ini dianggap suci dan kramat karena yang dimakamkan disini merupakan raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram. Dijelas kan oleh KPHAdipati Daryonagoro yang mendampingi Mahamenteri / Sinuhun Panembahan Agung,

Sebelum memasuki makam raja, terdapat banyak anak tangga yang lebarnya sekitar 4 meter dengan kemiringan 45 derajat yang menghubungkan permukiman dengan makam. Anak tangga di Permakaman Imogiri berjumlah 409 anak tangga.

Menurut mitos yang dipercayai oleh sebagian masyarakat, jika pengunjung berhasil menghitung jumlah anak tangga dengan benar, maka semua keinginannya akan terkabul. Sebagian anak tangga memiliki arti tertentu,

Anak tangga dari permukiman menuju daerah dekat masjid berjumlah 32 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun pada tahun 1632.

Anak tangga dari daerah dekat masjid menuju pekarangan masjid berjumlah 13 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung diangkat sebagai raja Mataram pada tahun 1613.

Anak tangga dari pekarangan masjid menuju tangga terpanjang berjumlah 45 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa Sultan Agung wafat pada tahun 1645.

Anak tangga terpanjang berjumlah 346 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan bahwa makam Imogiri dibangun selama 346 tahun.

Anak tangga di sekitar kolam berjumlah 9 anak tangga. Jumlah anak tangga ini melambangkan Walisongo. Sebelum memasuki areal permakaman terdapat Gapura Supit Urang, Pendopo Supit Urang, Tempat Juru Kunci dan 4 Tempayan Suci. Areal makam raja dibagi menjadi tiga daerah,

Sebelum memasuki makam Sultan Agung terdapat tiga gapura yang melambangkan tiga tahapan hidup manusia, yaitu: alam rahim, alam duniawi, dan alam kubur.

Gerbang pertama bercorak bangunan hindu yang terbuat dari susunan batu bata merah tanpa semen dengan bentuk Candi Bentar dan diberinama Gapura Supit Urang. Di bagian dalam gerbang pertama terdapat dua buah paseban yang berada di sisi Barat dan Timur gerbang.

Ada tata cara berpakaian tertentu yang harus dilakukan ketika ingin memasuki kompleks makam di bagian dalam. Jika tidak menaati aturan tersebut, maka pengunjung hanya diperbolehkan sampai pintu gerbang pertama.

Pengunjung wanita yang ingin memasuki makam di bagian dalam harus pakai pakaian tradisional Jawa (bebas gaya Yogyakarta atau Surakarta) atau mengenakan kain jarik, kemben, dan melepas jilbab serta semua perhiasan. Sementara itu, pengunjung pria yang ingin memasuki kompleks makam di bagian dalam harus mengenakan kain jarik, baju peranakan, dan blangkon.

Komentar