Jumat, 28 Agustus 2026 | 04:38
OPINI

Memoar Seorang Playboy

Memoar Seorang Playboy
Mang Ucup, Memoar Seorang Playboy
Oleh: Mang Ucup *)
 
Saya pernah membaca buku “Memoar dari seorang Geisha” - Arthur Golden, sehingga terbesit pikiran untuk menulis buku “Memoar Dari Seorang Playboy”. Namun sebelumnya saya melangkah untuk menulis buku, lebih baik saya icip-ici dahulu dengan menulis artikel ini.
 
Saya pernah diperiksa oleh seorang psikiater; apakah gejala sebagai seorang playboy ini merupakan penyakit jiwa ataukah sekedar sexmaniak atau sekedar penyakit gatelan githu?
 
Mereka menilai hasrat untuk menjadi seorang playboy bukanlah hanya didorong oleh nafsu birahi saja, karena sebagai seorang playboy – sex bukanlah hal yang paling diutamakan.
 
Saya pernah menjalin hubungan berbulan-bulan dengan seorang perempuan tanpa sex sekalipun juga, bahkan saya jatuh cinta edan eling kepada perempuan tsb.
 
Syarat utama bagi seorang Playboy harus memiliki watak dansy alias pesolek. Sifat pesolek ini sudah saya rasakan sejak kelas SD misalnya ingin memakai pomade Byrlcreem dari England.
 
Pakai baju dan sepatu disainer yang mahal-mahal, karena saya dimanja oleh bunda Mak Anie sehingga keinginan ini pun selalu terkabulkan pokone harus tampil beda dan jauh lebih menawan daripada rekan usia sebaya saya. Untung saja saya tidak jadi bencong!
 
Saya sudah mulai jatuh cinta sejak kelas 4 SD dengan cara mulai mengirimkan surat cinta maupun rayuan gombal yang pertama. Sejak usia tersebut sudah sering dan senang di foto pasfoto untuk dibagikan kepada teman-teman perempuan lainnya mirip seorang selebritis.
 
Bahkan sudah berani mengajak teman perempuan tersebut bukan hanya sekedar nonton bioskop saja bahkan jalan-jalan pergi keluar kota Lembang berduaan saja pakai angkot, padahal usia saya baru saja 12 tahun.
 
Ketika usia 13 tahun sudah mulai memberikan bunga mawar kepada sang gadis yang saya senangi. Hal itu juga yang mendorong saya untuk belajar les dansa agar bisa memeluk putri dari guru les dansa saya seorang Belanda.
 
Walaupun saya senang dansa Rock n Roll namun disisi lain lebih senang dansa Cheek to Cheek = alias Pipi ditempelkan ke-pipi dari teman dansa saya.
 
Dansa itu hobby yang mahal karena pakaian harus perlente terus, pergi kebagai macam pesta dansa HUT dimana wajib bawa kado kalau tidak malu.
 
Saya hijrah ke Jerman ketika berusia 18 tahun. Di Jerman saya merasa seperti buaya yang dilepas dari kandang dengan adanya pergaulan bebas di Jerman.
 
Kata setia saat itu merupakan kata yang belum ada di dalam kamus kehidupan saya, bahkan terkadang saya menjalin hubungan dengan tiga sampai lima orang gadis lainnya pada saat yang sama.
 
Walaupun demikian sebagai seorang Gentleman saya harus berani bertanggung jawab atas perbuatan saya. Ketika pacar Jerman saya hamil, saya telah menikahinya secara resmi gadis tersebut. Dari istri pertama tersebut kami mendapatkan dua orang putera dan seorang putri.
 
Kode etik dari seorang Playboy ialah tidak pernah mau membayar untuk mendapatkan cinta, bahkan dengan seorang pramuria sekalipun juga. 
 
Masalahnya ini menyangkut harga diri, apabila harus bayar apa bedanya dengan pergi ke tempat pelacuran dimana setiap orang pun bisa dan dengan mudah mendapatkan dan melakukannya.
 
Hal yang paling saya sesalkan pada saat ini dimana saya merasa berdosa berat, karena telah menyakiti begitu banyak perasaan perempuan yang tidak bisa saya perbaiki lagi.
 
*) Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar