Selasa, 30 November 2021 | 13:02
NEWS

Bagaimana Latar Belakang Sel Dendritik? Ini Penjelasan Tim Peneliti Vaksin Nusantara

Bagaimana Latar Belakang Sel Dendritik? Ini Penjelasan Tim Peneliti Vaksin Nusantara
Mayor Jenderal TNI (Purn) dr Daniel Tjen Sp.S (Dok IStimewa)

ASKARA - Anggota tim peneliti Vaksin Nusantara, Mayor Jenderal TNI (Purn) dr Daniel Tjen Sp.S menjelaskan terkait cara kerja Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto.

"Yang kita kerjakan adalah mengambil darah seseorang, kemudian kita maturasi sel dendritik yang dilakukan kurang lebih lima hari. Tujuannya, kita memperbanyak dan memperbaiki fungsi sel dentritik tersebut," ujar kata dr Daniel, dalam webinar yang digelar Beranda Ruang Diskusi dan dipandu Chelsia Chan, Dosen Hukum Media Unika Atma Jaya, pada Rabu (6/10). 

Selanjutnya, setelah lima hari sel yang telah diperbanyak dan diperkuat itu dikenalkan dengan antigen yang berasal dari virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

"Antigen yang kita gunakan berasal dari sub unit protein dari Varian Alfa dan Delta," kata dr Daniel. 

Kemudian, proses memperkenalkan antigen yang berasal dari sub unit Varian Alfa dan Delta tersebut memakan waktu kurang lebih 2 hari. 

"Jadi ada 2 periode. Yang pertama adalah lima hari dengan tujuan melakukan pematangan sel dendritik sekaligus memperbanyak dan memberi solusi sel dendritik pada seseorang, 2 hari kemudian kita kenalkan dengan antigen. Kemudian setelah hari ketujuh bisa kita panen," jelasnya.

Dr Daniel menjelaskan lebih lanjut, sel dendritik yang sudah dikenalkan dengan antigen disuntikkan ke tubuh seseorang pada hari ke delapan. 

"Antigennya sudah dimakan sel dendritik itu sendiri. Sehingga yang disuntikkan tidak ada unsur antigen lagi. Justru sel dendritik yang sudah mengenal komponen virus. Nah, virus dendritik yang sudah dikenalkan dengan antigen setelah disuntikkan pada seseorang maka itu akan merangsang Sel Beta dan Sel Limfosit T," jelasnya.

Sehingga, kata dr Daniel, apabila seseorang terpapar Covod-19 maka waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi zat anti oleh Sel B dan Sel T jauh lebih singkat dibandingkan mereka belum diberikan sel dendritik yang sudah dikenalkan dengan antigen. 

"Seperti diketahui, pada mereka yang mengalami infeksi alamiah maupun yang vaksinasi melalui platform vaksinasi konvensional itu memakan waktu dua minggu baru terbentuk zat anti dalam tubuh yang bersangkutan untuk melawan virus SARS-CoV-2," terang dr Daniel.

Namun, mereka yang sudah mendapatkan sel dendritik dan dikenalkan dengan antigen cukup membutuhkan waktu dua hari untuk memproduksi antibodi. Pasalnya, masa kritis pada penderita pasien Covid-19 terjadi pada seminggu pertama. 

Kelebihan lainnya, mereka yang sudah mendapatkan suntikan sel dendritik dapat membooster, memperkuat imunitas dan itu akan mengalami percepatan waktu untuk memproduksi antibodi. 

"Sel dendritik yang sudah dikenalkan dengan antigen tersebut juga akan merangsang Sel T sehingga berfungsi sebagai stimulus adaptip jangka panjang, memiliki memori yang bertahan lama," tutur dr Daniel.

Dengan demikian, apabila seseorang terpapar lagi maka sel itu akan mengenal virus sehingga akan merangsang lagi Sel B untuk menghasilkan antibodi dan sel T untuk imunitas selulernya memberikan perlindungan. 

"Jadi ini lah sedikit banyak latar belakang tentang sel dendritik yang kita gunakan untuk memperjuat sistem imunitas tersebut," kata dr Daniel.

Dr Daniel mengatakan, sel dendritik yang dikenalkan dengan antigen tersebut pada awalnya ditujukan pada kelompok-kelompok rentan, yang oleh sesuatu dan lain hal tidak bisa mendapatkan vaksin konvensional saat ini. 

"Katakanlah mereka yang saat ini mengalami gangguan dan memerlukan obat yang sifatnya menekan pemberian imunitas, kemudian pada penderita keganasan, kemudian pada kelainan autoimun dan sebagainya," tambahnya. 

Orang yang rentan tersebut, apabila terpapar Covid-19 akan mengalami gejala berat dan keberadaan sel dendritik tersebut untuk mengisi ruang tersebut. Karena kita ketahui bahwa ada kelompok masyarakat yang rentan dan belum dapat perlindungan dari vaksin yang ada saat ini," imbuhnya.

Teknologi Vaksin Nusantara, lanjut dr Daniel, sedang dan terus dikembangkan. Uji klinis fase 2 sudah dilakukan dan saat ini menunggu hasil uji klinis fase 2. Jika hasilnya diketahui, akan dilanjutkan uji klinis ke fase 3.  

"Saat ini tim peneliti sedang mempelajari protokol sehingga kita yakin bahwa kita bekerja sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah, sesuai dengan Good Clinical Practice, good library practice dan good medical practice. 

"Jadi pada saat ini kemajuannya adalah kita sedang menunggu publikasi dari uji klinis fase 2 dan itu apabila selesai kemudian kita akan lanjut (ke fase 3). Pada intinya kami siap melanjutkan uji klinis fase 3," pungkasnya.

Komentar