Rabu, 20 Oktober 2021 | 07:01
COMMUNITY

Muhasabah Diri Bersimpuh Ke Hadirat Ilahi Rabbi

KH Mohamad Hidayat: Waktu Pasti Berlalu, Maka Bertaubatlah

KH Mohamad Hidayat: Waktu Pasti Berlalu, Maka Bertaubatlah
KH. DR. Mohamad Hidayat, MBA, MH.

ASKARA - Dunia ini adalah tempat transit menuju akhirat. Dunia ini semacam rest area. Ibarat perjalanan dari Jakarta menuju Cirebon, lalu berhenti di rest area. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan akhir anda. Anda ingin ke Cirebon mungkin sebentar ke rest area, tapi pasti anda akan melanjutkan menuju tujuan akhir.

“Jadi, dunia ini bukan tujuan. Ini tempat transit sebentar menuju akhirat. Maka janganlah kita lupa bahwa kita ini sedang transit sebentar. Jangan disini kita habiskan segalanya , apalagi di dunia ini kita bebas sebebasnya. Masih ada waktu untuk kita kembali kepada Allah. Umar bin Khatab ra mengingatkan, hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal,” ujar Pengasuh PP Al Washiyyah, KH. DR. Mohamad Hidayat, MBA, MH.

Untuk itu, Kiai Hidayat mengingatkan berupaya menuju keselamatan yang hakiki. Langkah-langkah apa yang harus kita lakukan, yang harus dimulai untuk menuju tahapan dalam rangka meraih keselamatan hakiki. Langkah pertama, mari kita pulang kepada Allah. Taubat kepada Allah. Jadikan Allah sebagai Tuhan yang sebenar-benarnya. Karena Allah lah yang menciptakan kita. Yang memberi kehidupan kepada kita, yang nanti akan meminta pertanggungjawaban kita.

“Langkah kedua, setelah taubat sama-sama melakukan muahadah. Ingatlah perjanjian kita kepada Allah. Dalam QS Al Araf ayat 182, kita sudah berjanji bahwa Allah sebagai Tuhanku. Dalam shalat kita sudah bekomitmen bahwa shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku karena Allah. Tentulah kita ingat janji kita kepada Allah maka lakukanlah muhasabah (intropeksi),” sebut Kiai Hidayat.

Dalam proses manajemen kita kenal fase ketiga. Setelah planning, executing maka fase yang penting adalah controlling. Anda melakukan perencanaan, kemudian anda mengeksekusi, melaksanakan perencanaan itu, tapi agar anda lakukan tidak menyimpang maka harus dikontrol, di evaluasi.

Agar langkah hidup kita tidak keliru, terlalu jauh. Baik tauhid kita, ketakwaan kita, ibadah kita agar tidak menyimpang maka harus dievaluasi. Harus melakukan muhasabah. Jangan kita merasa bahwa kita sudah berada di jalan yang benar. Kebiasaan-kebiasaan kita yang sebetulnya banyak perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah, justru kita terus melakukan.

Muhasabah ini penting dengan diawal mengetahui ilmunya. Maka penting adanya kajian, bertanya kepada orang-orang yang berilmu. Karena parameter dari muhasabah itu syariat Allah, Alquran. Bukan parameter yang kita buat sendiri.

Berikutnya, lanjut Kiai Hidayat, kita merasa terus diawasi Allah. Jadi, kalau kita merasa diawasi oleh Allah, Insya Allah kita akan merasa menjadi orang berhari-hati. Kita tidak ingin melakukan kesalahan dan kejahatan.

“Saya sering memberi contoh ini ketika orang yang berniat mencuri sebuah supermarket disuatu malam disaat pengunjung sepi, yang ada hanya kasir yang sedang istirahat. Dia sudah siapkan kantongnya. Tapi ketika dia ingin melihat di berbagai sudut ada cctv maka pasti dia akan mengurungkan niatnya. Dan kita harus merasa bahwa Allah memiliki cctv yang selalu berada di hadapan kita, dimana saja, di rumah, di jalan, di kantor, di kendaraan bahkan di dalam toilet, Allah mengawasi kita,” paparnya.

Tahap berikutnya, adalah Muaqabah. Kalau kita berbuat keliru kita memberi sanksi kepada diri kita. Seperti contoh para sahabat ketika ia ketinggalan shalat Ashar bersama Rasulullah karena asyik menikmati kebunnya. Maka  dia memberikan sanksi kepada dirinya. Selain itu banyak cerita dari para sahabat bagaimana dia memberi sanksi ketika dirinya tidak melakukan kebaikan atau ia melakukan dosa.

Umar bin Khattab ra setiap malam sebelum tidur dia merenungkan apa kesalahannya dihari ini. Maka seringkali dia memukul kakinya dengan kayu  ketika dia mengingat bahwa dia telah melangkah ke tempat yang aib. Tangannya memungkinkan telah melakukan dosa.

Kemudian tahap selanjutnya adalah mujahadah, menjadi orang yang bersungguh-sungguh secara kontinyu melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, melawan hawa nafsunya.  “Hartamu itu milik orang lain baik yang meminta atau yang tidak meminta,” imbuhnya.

Setiap kita pasti ingin melampiaskan segala keinginan, ingin marah tanpa batas. Tapi Alquran meminta untuk mengendalikan nafsu untuk tidak mengumbar emosi dan amarah kepada kita bahwa kepada orang-orang yang sebetulnya lemah dihadapan kita.

Kita tidak marah bukan berarti kita takut kepada orang yang melakukan suatu kesalahan kepada kita . kita tidak marah bukan berarti kita tidak tahu bahwa yang bersangkutan telah melakukan sesuatu yang bersifat menghina, merendahkan, atau mungkin hipokrit dihadapan kita. Tapi itu tidak kita lakukan. Kita menahan hawa nafsu kita.

“Mari kita kembali kepada Allah, pulang kepada Allah. Mari kita ingat janji kita kepada Allah. Mari kita terus melakukan intropeksi. Ingat bahwa Allah mengawasi kita. Mari berikan sanksi kita masing-masing atas diri kita terhadap kesalahan yang kita lakukan, tanpa diketahui orang lain. Paling tidak setelah kesalahan kita lakukan berbuat amal yang baik untuk menghapus kesalahan itu. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu, dia menghapuskan dosa-dosa.Kemudian, kita melakukan mujahadah. Terus kita melakukan latihan, training ketakwaan mengendalikan nafsu dan lain-lain. Insya Allah kita menjadi manusia yang bahagia dan selamat dunia akhirat,” tuturnya.

BACA JUGA: https://www.askara.co/read/2021/08/10/20707/kh-mohamad-hidayat:-kita-akan-semakin-dekat-bertemu-dengan-allah-swt

Kiai Hidayat menegaskan, taubat itu adalah menghentikan segala dosa dan maksiat, menyesal atas segala dosa yang lalu. Dan berkomitmen untuk tidak kembali melakukan dosa tersebut pada masa yang akan datang.

Ustadz Tajudin Hilali, seorang profesor ahli syariah mengatakan, bahwa taubat itu pulang kembali kepada Allah. Sebagaimana seorang anak yang telah lari dari rumahnya, meninggalkan kedua orang tuanya bertahun-tahun lamanya di perantuan tanpa ada kabar. Mungkin dia bebas melakukan apapun, dia lupa pada ayah ibunya yang telah melahirkan dan mendidiknya. Tapi suatu ketika dia sadar ingat ayah ibunya, dia pulang kembali, dia bersimpuh meminta ampun dan dia ingin menjadi orang yang baik, anak yang baik bagi ayah ibunya.

“Itulah gambaran hamba yang taubat kepada Allah. Pulang kembali kepada Allah. Jadi, kalau dikatakan seorang itu taubat kepada Allah, maka maksudnya adalah kembali kepada Allah SWT setelah ia menyimpang dari jalan Allah yang lurus. Mestinya tauhidnya kepada Allah tapi ada unsur-unsur musyrik yang dia lakukan. Mestinya dia beribadah kepada Allah tapi dia mengabdi kepada selain Allah,” jelas Kiai Hidayat.

Selanjutnya, Kiai Hidayat menerangkan, bahwa tidaklah bertaubat itu kecuali orang yang telah melakukan dosa. Maka untuk itu ada syarat-syaratnya untuk sahnya taubat. Agar taubat itu diterima oleh Allah ada beberapa syarat. Pertama, memahami, mengenali dosa yang telah dilakukan. Jadi orang yang bertaubat itu harus mengingat dosa apa yang telah dia lakukan. Mungkin secara umum dia telah meminta ampunan segala dosa. Kemudian dia menghindarinya, dia memutuskan untuk tidak melakukannya lagi.

Syarat berikutnya ada penyesalan atas perbuatannya. Ciri utama orang yang bertaubat itu adalah menyesal  karena tanpa menyesal dia akan mengulanginya lagi. Seorang anak yang sudah melakukan perbuatan yang buruk yang sudah diberikan nasihat oleh orang tua, dia lalu minta ampun tapi dia tidak menyesal apa yang dilakukannya. Maka pasti dia akan melakukannya kembali.

“Kemudian dia memohon ampun dari dosa itu, lalu berkomitmen untuk tidak kembali kepada dosa itu selamanya, sekuat tenaganya, semampunya untuk tidak melakukan dosa itu. Inilah pengertian dari taubat itu,” jelas Kiai Hidayat.

Kita menjadi hamba Allah yang diberikan keselamatan dan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat agar langkah jalan kehidupan kita ini menuju shirotol mustaqim adalah mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs). Secara etimologi berarti ikhtiar atau pembersihan jiwa atau nafs manusia.  Apa yang kita sucikan? Yaitu sifat-sifat yang buruk dan tercela kita bersihkan seperti kufur, nifak, riya, hasad atau takabur, sombong, pemarah, rakus dsb.

Kedua, kita hiasi jiwa yang bersih dengan sifat-sifat yang baik. Ikhlas, jujur, tidak terjebak pada dunia, tawakal, cinta dan kasih sayang kepada manusia, penuh syukur, sabar, ridha, dsb. Saat ini merupakan sifat-sifat yang diperlukan, ketika menghadapi kehidupan yang sangat berat. “Tapi Insya Allah dibalik musibah yang besar ini ada hikmah. Dan musibah ini pasti akan berakhir dengan kebahagiaan ketika kita menghadapinya dengan sikap-sikap yang benar. Maka Alquran meminta kita menjaga kesucian jiwa kita sehingga akan beruntung. Kalau kita mengotori jiwa kita pada jalan keburukan, maka kita akan rugi dunia dan akhirat,” tuturnya.

Untuk mensucikan jiwa, Kiia Hidayat memberikan 10 pedoman tazkiyatun nafsi. Pertama, kita mengenali hakikat jiwa. Pada saat ini jiwa kita pada posisi apa? Sifat yang bagaimana?

Kedua, memurnikan keimanan kita kepada Allah. Bersihkan tauhid kita kepada Allah sehingga jadikan Rasulullah sebagai uswah hasanah. Bacalah buku tentang Rasulullah, baca hadits-hadits Rasulullah. “Janganlah kita mengkultuskan seseorang melebihi kemuliaan Rasulullah SAW. Jadikan Alquran sebagai sumber mata air kesucian kita,” tegasnya.

Kemudian, sambungnya, lakukanlah langkah membersihkan kekotoran jiwa. Lalu menghiasi jiwa yang sudah bersih itu dengan sifat-sifat yang mulia. Lalu menutup pintu yang menjerumuskan lewat bisikan-bisikan setan atau ada orang-orang yang mempengaruhi kita menjerumuskan kita dari keimanan, ibadah, ketakwaan, kebaikan. Bershabatlah dengan orang yang baik, yang soleh. Karena sahabat ini sebagai cermin kita. Ingatlah suatu saat kita berjumpa dengan Allah. Jauhkan sifat takabur dan ujub, sombong lagi merasa dirinya paling mulia.

Lalu sinambungkan zikir dan doa untuk ingat terus kepada Allah. Mohonlah pertolonganNya. Secara garis besar, Alquran memberikan identifikasi terhadap jenis jiwa atau nafsu manusia. Pertama, disebut mutmainah, satu jenis jiwa yang mulia, jiwa yang tenang. Kalau orang memiliki jiwa ini, kata Alquran, maka dia senang Allah pun ridha kepadanya.

Didalam Alquran surat Arradu ayat 28, Allah mengatakan, orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.  Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenteram. Ada orang yang memiliki jiwa atau hati, atau nafsunya sangat mutmainnah, tenteram, tenang sekali.  Dan orang seperti ini dalam Surat Al Fajr ayat 27-28, Allah mengatakan, wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha, yang senang, yang tenteram lagi diridhai oleh Allah SWT.

“Sifat dari hari ini diwujudkan dalam bentuk amalan-amalan kebaikan Seorang yang beriman, seorang yang ikhlas, seorang yang penuh amalan-amalan kebaikan dan berbuat baik pada manusia. Ini jiwa yang tenang,” sebutnya.

Yang kedua, terangnya, disebut adalam Alquran adalah nafsu lawwamah (mencela). Disebut nafsu lawwamah karena sering mencela pribadi atau manusia, melakukan dosa-dosa besar, meninggalkan perintah Allah dan menjauhkan anjuran-anjuran juga memiliki sifat-sifat yang tidak baik. Dalam surat Al qiyamah, Allah berfirman, dan Aku bersumpah dengan menyebut nafsu allawwamah. “Mudah-mudahan kita tidak memiliki nafsu ini. Kalau ada kita harus merubahnya ,” imbuhnya.

Yang ketiga, adalah ammarah bis suu. Nafsu yang selalu mengajak pemiliknya untuk berbuat dosa, bebuat yang haram. Memotivasi dari pemilik nafsu ini untuk melakukan perbuatan hina. Dalam surat Yusuf ayat 53, Allah sebutkan nafu yang menyuruh kepada kejahatan. “Semoga kita pun terhindar dari nafsu yang ketiga ini. Sering melakukan kejahatan, kadang-kadang melakukan kebaikan. Jika kita memiliki nafsu mutmainah kita jaga baik-baik, kalau memilik nafsu lawwamah perlu perbaikan terus menerus. Kalau seandaianya nafsu bis suu, nauzubillah, kita harus segera total melakukan hijrah, agar hidup kita ini tidak diakhiri dengan suul khotimah,” ujarnya.

Kiai Hidayat juga mengimbau untuk memurnikan tauhid kita. Alquran mengingatkan kita dalam surat Al Baqarah ayat 163, bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tiada Tuhan kecuali Dia (Allah). Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah itu Esa, Allah itu Ahad. Dan  sifat seorang hamba yang mengakui ada kekuatan lain selain Allah, maka musyrik namanya, dosa yang tidak bisa diampuni. Kecuali hamba Allah itu bertaubat dan tidak melakukannya lagi. Menghilangkan hal itu menggantinya dengan tauhid. Beberapa ayat bagimana kita diminta menjauhi sifat musyrik, karena kemusyrikan itu akan mencelakakan kita.

Selanjutkan, kita jadikan Rasulullah sebagai panutan. Kita membaca hadits-hadits beliau, kita membaca biografi belua, membaca shalawat dan amalan-amalan baik agar Rasul menjadi panutan utama kita.

Keempat, jadikan Alquran sebagai sumber mata air kesucian kita. Sebagai sumber pelajaran, sebagai syifa (penyembuh). Alquran juga menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berimana. Allah menjamin bagi yang mengikuti Alquran dia tidak akan tersesat didunia dan celaka di akhirat.

Kelima, langkah yang penting kita lakukan setelah kita memahami jiwa kita mulai melakukan pembersihan dan kita hiasi jiwa kita dengan kebaikan-kebaikan (Attakhliyyah wat tahliyyah). Hati-hati dari bisikan yang menggelincir, tutup rapat pintu-pintu yang bisa menggelincirkan kita. Sebuah hadits menyebut, kalau kita tidak berhati-hati maka kita bisa tergelincir. Sedikit kisah orang-orang yang alim karena tergelincir bisikan-bisikan sesat.

Keenam, bergaullah dengan orang-orang yang alim, apalagi dengan usia kita yang sudah mulai senja. Dekatlah kepada alim ulama, dekatlah kepada masjid, dekatlah pada Alquran, dekatlah pada orang-orang yang baik, yang kita bisa mencontoh sifat-sifat baiknya.

Ketujuh, hindari perbuatan yang buruk. Karen sebentar lagi kita akan berjumpa Allah. Kita lupa bahwa persiapan dan bekal kita harus cukup ketika kita berjumpa dengan Allah.

Kedelapan, jauhkan sifat sombong dan takjub pada diri sendiri. Jangan mengatakan kita ini paling suci, paling baik, paling benar. Kita harus berusaha untuk lebih baik dan benar tapi tentunya Allah yang akan menilainya.

Kemudian kesembilan, banyaklah ingat kepada kematian. Dengan mengingat kematian akan menghancurkan kenikmatan-kenikmatan kita. Ketika kita sakitpun, diuji oleh Allah ketika mengalami Covid-19 rasanya hilanglah kenikmatan dunia. Semua yang kita miliki sepertinya sudah tidak ada lagi makna dan artinya, kecuali Allah berikan kita kesehatan kembali. Dengan mengingat kematian sesungguhnya menjadi nasihat yang penting bagi kehidupan kita.

Dan yang terakhir, kita memohon kepada Allah SWT. Alquran mengingatkan kita berdoalah kepada Allah, dan Tuhanmu Allah berfirman bedoalah kepadaku, mintalah kepadaku (Allah). Walaupun wasilahnya kalau sehat itu dengan dokter, menghindari makanan dan minuman yang dilarang, memakai masker, melakukan social distancing, itu bagian dari ikhtiar. Bagian dari cara kita memohon agar Allah mengabulkan permintaan kita. Karena itu semua adalah bagian dari ikhtiar dan syariat Allah yang harus kita jalankan. Tetapi Alquran meminta jangan kita sombong. Karena kalau sombong maka kita akan masuk ke neraka jahanam dalam keadaan yang hina dina.

‘Dengan zikir dan doa hakikatnya kita menampakan kelemahan, kefakiran dan kerendahan diri kita, jati yang luluh, mengakui kekuasaan Allah, kekakayaan Allah, dan kebesaran Allah. Doa dan zikir adalah solusi utama atas keputusasaan kita. Doa dan zikir harapan kita, puncak dan kekasih wali Allah yang mulia,” pungkasnya.

Komentar