Rabu, 16 Juni 2021 | 21:43
TRAVELLING

Cuaca Ekstrem di Ketinggian, Salah Satu Sebab Pendaki Meninggal Dunia di Gunung

Cuaca Ekstrem di Ketinggian, Salah Satu Sebab Pendaki Meninggal Dunia di Gunung
Ilustrasi Mendaki Gunung (AsiaQuest Indonesia)

ASKARA - Kecelakaan yang menimpa para pendaki di gunung kerap terjadi. Tak jarang, pendaki yang mengalami kecelakaan saat menyalurkan hobinya itu berujung nahas hingga meninggal dunia.

Seperti yang menimpa seorang pendaki gunung asal DKI Jakarta bernama Basuki Surahman (53). Dia ditemukan tewas saat mendaki Gunung Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (2/6) lalu.

Berdasarkan keterangan dari Danpos Basarnas Palopo, Maikel, Basuki tewas karena terjatuh ke jurang yang berada di antara pos 2 dan 3 jalur pendakian Gunung Latimojong. 

Terbaru, kecelakaan di saat mendaki gunung juga terjadi yang menimpa seorang perempuan bernama Bau Arifah (25) yang biasa disapa Eva di Gunung Abbo Maros, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (6/6) kemarin.

Eva diketahui meminta izin buang air di balik batu atau bukit yang jaraknya tak jauh dari perkemahan dan lokasi rapat. Namun, dia tak kunjung kembali hingga dilakukan pencarian dan tidak ditemukan.

Penyebab kerap terjadinya kecelakaan tersebut diungkapkan Agus Winulyo, seorang pendaki gunung yang tergabung dalam Pencinta Alam 17 Agustus atau Pataga 17. Menurut Agus, cuaca yang cenderung ekstrem saat ini menjadi salah satu penyebab kecelakaan para pendaki di gunung. 

"Pada bulan-bulan ini kerap terjadi badai ditambah lagi dengan gerhana, jadi ada perubahan iklim," ujar Agus yang karip disapa Jabrik kepada Askara, Senin (7/6).

Agus yang sudah mendaki hampir seluruh gunung di Indonesia itu mengungkapkan, baru-baru ini anak tertuanya mendaki ke Gunung Sumbing. Di gunung itu, anaknya yang mendaki bersama teman-temannya juga menempuh badai dan tak bisa dihubungi.

"Anak sempat saya dihantam badai. Dan hampir semua gunung saat ini sedang ada badai," katanya.

Apa yang menimpa Eva dan Basuki, kata Agus, juga tak lepas dari kondisi cuaca tersebut. Menurutnya, saat ada badai diduga kedua pendaki tersebut terpeleset sehingga terjatuh dan meninggal dunia.

"Gunung yang medannya bagus itu pun kalau ada badai sudah pasti tertutup jalanannya. Para pendaki akan sulit melihat, kabut dan sebagainya itu bahaya," terangnya.

Ditambahkan Agus dengan nomor anggota 1601 di Pataga 17 itu, cuaca di atas ketinggian 1.800-1800 Meter di Atas Permukaan Laut (Mdpl) agak ekstrem. Sehingga para pendaki harus ekstra hati-hati dan waspada.

"Sebaiknya dalam berkegiatan di alam bebas terutama untuk hal penting seperti kebutuhan buang air dan lainnya tidak dilakukan sendiri apalagi di cuaca yang sedang ekstrem. Jadi ada kontrol dari temannya," tandasnya. 

Komentar