Minggu, 07 Juni 2026 | 07:45
NEWS

Suka Duka Para Dokter Mengabdi di Pelosok Indonesia

Suka Duka Para Dokter Mengabdi di Pelosok Indonesia
Iluni FKUI menggelar talkshow virtual bertema Membangun Ketahanan Kesehatan Indonesia Menuju 2045.

ASKARA - Pengabdian mulia seorang dokter tidak ternilai harganya. Mereka memberi andil dalam pembangunan bangsa terutama di bidang kesehatan. 

Misi kesehatan dan kemanusiaan menjadi tanggung jawab yang dipikul setiap dokter. Berbekal ilmu pengetahuan serta niat tulus, seorang dokter mengabdikan dirinya bagi kesehatan masyarakat. 

Di manapun mereka ditempatkan, di kota, desa atau di daerah pedalaman sekalipun misi kemanusiaan akan tetap dipegang teguh. Seperti pengalaman para dokter di Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (Iluni FKUI).

Salah satunya dr. Farida Chrisfina Siagian merupakan satu-satunya Iluni 96 yang masih bertahan di wilayah Indonesia Timur tepatnya di Kota Sorong. Menurutnya, banyak hal medis yang masih tertinggal dengan wilayah lain. 

"Kami tertinggal duapuluh lima tahun dibanding Indonesia bagian barat, pengembangan keilmuan, pengetahuan dan teknologi. Juga dalam infrastruktur dan peralatan kesehatan," katanya dalam talkshow virtual bertema "Membangun Ketahanan Kesehatan Indonesia Menuju 2045," Rabu (24/3).

Dokter Farida memberikan suntikan semangat kepada para mahasiswa calon dokter untuk membulatkan tekad agar mampu memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat. 

"Keterbatasan ini harus dilihat sebagai peluang berinvestasi, investasi insfrastruktur, peralatan kesehatan farmasi. Dan bagi adik-adik mahasiswa FKUI, ini investasi pengabdian," jelasnya. 

Sorong merupakan bagian integral dari wilayah Provinsi Papua Barat yang terdiri dari 12 kabupaten dan satu kota. Juga kota terbesar di Papua Barat serta kota terbesar kedua di Tanah Papua setelah Jayapura.

Posisi Sorong terletak di bawah garis khatulistiwa antara 131º-51\'BT dan 0º-54\'LS dengan luas 1105 kilometer persegi. Namun masalah kesehatan menjadi salah satu prioritas yang harus dibenahi di kota ini.

"Terdapat satu kabupaten yang belum memiliki rumah sakit dan ada yang sudah memiliki rumah sakit tapi belum beroperasi," kata Dokter Farida yang telah mengabdi selama 25 tahun.

Selama di Papua, Dokter Farida lebih banyak menghabiskan waktu di puskesmas melakukan kegiatan promotif maupun preventif yang banyak dilakukan seperti membentuk posyandu, pos lansia dan lainnya. 

"Tahun 2010 kita ada kegiatan mobile clinic. Kita melakukan pelacakan ibu hamil, imunisasi, banyaknya gizi buruk dan tetap melakukan skrining malaria," jelasnya. 

Sementara dr. Manaek P. Sihotang bertugas sebagai dokter spesialis di RSUD di Kalimantan Timur sejak tahun 2012. Dia menceritakan sulitnya akses menuju layanan kesehatan di wilayah Penajam.

"Misalnya perlu rumah sakit rujukan itu mau kirim ke rumah sakit Balikpapan barangkali itu perlu waktu empat-lima jam karena masih perlu persiapan," bebernya. 

Selain itu, insfrastruktur kesehatan juga bermasalah karena tidak memiliki alat yang spesifik. Terlebih, adanya birokrasi perizinan kepada pemerintah sehingga membutuhkan waktu cukup lama

"Saya datang ke sana tahun 2012-2014 itu tidak punya alat sama sekali. Kita tahu birokrasi di daerah itu bisa berbelit-belit panjang urusannya. Belum tentu bisa karena harus nunggu dulu," keluh Dokter Manaek.

Maka itu, Dokter Manaek bersama dokter lainnya membeli peralatan kesehatan sendiri tanpa bantuan dari siapapun. 

"Jadi, yang sering terjadi kita belikan sendiri alat kita. Ibarat petani kita bawa cangkul saja daripada kita tidak bisa kerja," kata Dokter Manaek. 

Upaya yang harus dilakukan adalah aktif berkoordinasi dengan pemerintah setempat, meski hal itu tidak mudah dijalankan. Kendati demikian, Dokter Manaek tetap semangat melakukan misi kemanusiaan. 

"Kadang-kadang kan orang mengadu tidak paham masalahnya apa, kadang-kadang kita harus menjelaskan sendiri ke mereka. Mari kita bangun Indonesia dari pinggiran," tutup Dokter Manaek.

Komentar