Selasa, 02 Maret 2021 | 10:54
NEWS

BPBD Jelaskan soal Data Banjir yang Diunggah di Media Sosial

BPBD Jelaskan soal Data Banjir yang Diunggah di Media Sosial
Banjir Jakarta (Dok Dispen Kormar)

ASKARA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) menyatakan data banjir yang diunggah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di media sosial berdasarkan kejadian yang terjadi di Ibu Kota. 

BPDN menyebut tidak ada yang ditutup-tutupi dari data yang dipublikasikan itu.

"Data yang ditampilkan adalah data yang merepresentasikan kejadian banjir besar di Jakarta," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD DKI Jakarta, Sabdo Kurnianto dalam keterangannya, Selasa (23/2).

Sabdo menjelaskan, curah hujan di Jabodetabek pada Sabtu 20 Februari 2021 dini hari, tercatat di atas 150 mm/hari. Sedangkan untuk wilayah Jakarta, curah hujan sudah masuk kategori ekstrem yakni, sampai 226 mm/hari.

BPBD DKI telah membuat rekap data penanganan kejadian banjir besar dari tahun ke tahun yang merujuk pada intensitas curah hujan tinggi atau ekstrem.

Data itulah yang dicantumkan dan menjadi pembanding data banjir pada akhir Februari 2021 ini. "Seperti yang terjadi pada tahun lalu dengan curah hujan 377 mm/hari," beber Sabdo.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria membantah pihaknya tidak transparan dalam menyampaikan data terkait banjir selama beberapa tahun silam.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul data banjir yang disampaikan Pemprov DKI melalui media sosial hanya menampilkan data tahun 2002, 2007, 2013, 2015, 2020, dan 2021.

Menurutnya semua yang disampaikan pihaknya tentang banjir merupakan sebuah fakta. Pemprov DKI memastikan tidak menyembunyikan data apapun.

"Ini fakta dan data. Tidak ada data yang disembunyikan. Semuanya sesuai data dan fakta. Tidak mungkin setiap tahun dipaparkan," kata Ahmad Riza di Jakarta, Senin (22/2) malam. 

Berdasarkan data tersebut, jumlah RW yang dilanda banjir paling banyak terjadi pada 2007. Pada tahun tersebut, tepat tanggal 2 Februari, sebanyak 955 RW terendam banjir. 

Luas area yang kebanjiran kala itu adalah 455 km persegi. Banjir kala itu surut dalam 10 hari.

Banjir dengan jumlah RW paling banyak terendam kedua terjadi pada 11 Februari 2015. Ketika itu, sebanyak 702 RW terkena dampak banjir dengan area yang tergenang seluas 281 km persegi, dan waktu surutnya selama 7 hari.

Sementara pada 20 Februari 2021 kemarin, Pemprov DKI mencatat sebanyak 113 RW dilanda banjir. Luas area yang tergenang, yakni 4 km persegi.

Komentar