Wapres Ma'ruf Amin: Kalau Banjir Berulang Artinya Tidak Cerdas
ASKARA - Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin berharap banjir di Subang, Jawa Barat tidak terjadi lagi di masa-masa mendatang. Dia menegaskan kalau banjir terus berulang berarti tidak cerdas.
"Mudah-mudahan banjir tahunan di Subang tidak terus berulang-ulang. Kalau berulang artinya kita itu apa ya, tidak cerdas," kata Kiai Ma'ruf saat menyerahkan bantuan untuk korban banjir di Kantor Kecamatan Pamanukan, Jalan Pamanukan, Kabupaten Subang, Sabtu (13/2).
Kiai Ma'ruf mengatakan, dalam istilah Arab, jangan sampai orang mukmin atau beriman tersengat dua kali di satu lubang.
"Dua kali saja tidak boleh, berarti itu kita kurang cerdas. Apalagi berkali-kali (banjir)," ujarnya.
Kiai Ma'ruf mengajak semua pihak untuk mengatasi dan mengakhiri banjir yang terus berulang dengan bekerja keras bersama, baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah, masyarakat serta dunia usaha. Dia mengatakan, berdasarkan laporan yang diterima, banjir yang terjadi di Subang selain karena curah hujan juga dikarenakan kerusakan lingkungan di wilayah lain sekitar sana.
Menurutnya, ada dua aturan Allah yang tidak boleh dilanggar yakni tata aturan alam semesta dan tata aturan syariat.
"Dua-duanya tidak boleh dilanggar. Apabila dilanggar akan timbul kerusakan," katanya.
Dalam kesempatan itu, Kiai Ma'ruf disambut Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum dan Bupati Subang Ruhimat. Bantuan yang diserahkan wapres secara simbolis berupa 1500 paket sembako dari Presiden Joko Widodo. Kemudian 200 paket alat kebersihan yang terdiri dari ember plastik, gayung, kain lap, sapu lidi bertangkai, pel bertangkai, sikat bertangkai, dan pel dorong bertangkai yang merupakan dukungan dari Kementerian Sosial. Serta 1000 alat rapid test, 300 ribu masker, 5000 sarung dan 1000 matras dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bantuan diterima simbolis oleh dua orang korban banjir.
Dalam sambutannya, Kiai Ma'ruf menyampaikan prihatin atas banjir yang melanda berbagai daerah termasuk di Subang.
"Kita memang sebagai negara kategori sangat rawan bencana. Wilayah NKRI telah ditetapkan PBB dan Bank Dunia sebagai salah satu negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia," ujarnya.
Kiai Ma'ruf menekankan penanganan bencana tidak bisa dikerjakan unsur pemerintah saja. Dia meminta semua pihak untuk tetap melakukan beragam aksi nyata mitigasi bencana dan penanganan pasca bencana.
"Tidak bisa sendirian pemerintah menangani itu. Makanya organisasi nonpemerintah serta swasta juga diharapkan ikut memberikan kontribusinya yang secara kolaboratif akan sangat menentukan keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana," demikian Kiai Ma'ruf. (jpnn)

Komentar