Selasa, 09 Juni 2026 | 16:47
NEWS

453.295 Orang di Jakarta Kehilangan Pekerjaan Selama Pandemi

453.295 Orang di Jakarta Kehilangan Pekerjaan Selama Pandemi
Ilustrasi. (Shutterstock)

ASKARA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengemukakan bahwa banyak orang kehilangan pekerjaan akibat terdampak pandemi virus corona. 

"Jadi selama masa periode pandemi ini, sektor formal kita secara data statistik dari disnaker kita kehilangan sekitar 453.295 pekerja," kata Anies dalam Forum Musrenbang Perubahan RPJMD 2017-2022 yang disiarkan akun Youtube Pemprov DKI Jakarta, Selasa (22/12).

Namun sebanyak 259.597 dari 453.295 orang sudah terserap dalam sektor informal. Sisanya sebanyak 193.698 masih menganggur selama masa pandemi yang belum mereda.

Selain itu, banyak pekerja terdampak produktivitasnya akibat pengurangan jam kerja demi mencegah penyebaran Covid-19.

"Jadi kalau lihat 1,6 juta pekerja itu mengalami pengurangan jam kerja seperti saya sampaikan tadi karena nature-nya adalah mengurangi aktivitas," ujar Anies.

Anies pun memastikan bahwa pihaknya akan mengejar target berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang telah disepakati.

"Maka insya Allah ada banyak jalan. Dan upaya untuk bisa memulihkan perekonomian dan memulihkan kegiatan sosial, kegiatan pendidikan, dan lain-lain. Sehingga tetap kita bisa mewujudkan yang kita cita-citakan sebagai sebuah kota di mana maju kotanya dan bahagia warganya," paparnya. 

Sebelumnya, Anies menyebut imbas pandemi Covid-19 yang mempengaruhi sejumlah aspek kehidupan masyarakat menjadi faktor utama pengangguran di Jakarta.

Data Badan Pusat Statistik, tingkat pengangguran terbuka (TBT) di Jakarta mencapai 10,95 persen. Meningkat 4,41 persen dibandingkan tahun 2019.

"Jadi, pandemi ini berdampak di aspek sosial, aspek ekonomi, aspek kegiatan keagamaan, dan otomatis kemudian tercermin pada angka-angka partisipasi tenaga kerja," kata Anies di Gedung DPRD DKI, Jumat lalu (6/11).

Sehingga kegiatan perekonomian lesu akibat imbas pandemi yang melanda sejak Maret lalu. Anies mengklaim lapangan pekerjaan di Jakarta sudah tersedia.

"Karena lapangan kerja tersedia, yang berkurang itu tingkat kegiatannya," katanya.

BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka di Jakarta paling tinggi dari 34 provinsi di Indonesia. Pada Agustus 2020, jumlah pengangguran di Jakarta mencapai 10,95 persen.

Komentar