Jumat, 19 Juni 2026 | 01:06
COMMUNITY

Pembelajaran Sekolah Eksperimental Mangunan

Pembelajaran Sekolah Eksperimental Mangunan
Sekolah Mangunan (Leong Christian)

ASKARA - Di sisi timur Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Dusun Cupuwatu, Kelurahan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, terdapat sebuah kompleks sekolah minim dinding tembok. Mayoritas dinding mereka terbuat dari kayu. Nama sekolah itu adalah TK-SD-SMP Eksperimental Mangunan. 

Sekolah ini dibangun oleh Almarhum Romo Mangunwijaya, seorang rohaniwan, arsitek, dan budayawan pada tahun 1990-an karena kegelisahannya terhadap kurikulum 1994 yang menyeragamkan dan dehumanis. Sekolah ini pun menjalankan konsep pembelajaran yang humanis, belajar sejati, dan merdeka. Membangun dan memfasilitasi anak didik menjadi dirinya sendiri dan merdeka.

Sekolah sederhana karena didasarkan pada hal yang sangat sederhana. Kesadaran baru yang mencerdaskan, adil, dan makmur dengan mengakomodasi anak-anak kaum miskin untuk bisa sekolah.

Menurut (alm) Romo Mangunwijaya, manusia adalah makhluk yang berakal budi, animale rationale. Artinya, manusia mampu berpikir, menentukan pilihan dan mengambil tindakan berdasarkan pilihannya. Manusia adalah makhluk merdeka. Dia mempunyai tanggung jawab atas apa yang dipilih dan diperbuatnya. Secara kodrat, pada diri manusia sudah tertanam bakat-bakat atau potensi-potensi yang diberikan oleh Tuhan padanya. Di antara potensi-potensi tersebut ialah potensi ingin selalu tahu, ingin bertanya, ingin mengeksplorasi, ingin maju, ingin mekar dan ingin mencapai kepenuhan diri. Dalam hal ini, dia mengikuti pemikiran filsuf klasik Yunani Socrates dan juga tokoh psikologi perkembangan anak Swiss, Jean Piaget.

Romo Mangun menyatakan, bahwa pada dasarnya manusia adalah mahluk bahasa. Artinya, manusia adalah makhluk yang mempunyai potensi berkomunikasi yang berguna atau digunakan sebagai alat untuk mengembangkan potensi awal yang dimilikinya. Selain sebagai mahluk yang bebas, manusia juga memiliki bakat atau potensi bawaan, dan makhluk berdimensi sosial serta makhluk yang bernilai dan ber-Tuhan. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang berharga, yang tidak dapat direndahkan atau diperkosa haknya. Kesadaran ketuhanan ini pulalah yang menjadi dasar nilai untuk bercarapandang, bertindak, bersikap, dan juga dasar nilai atas semua ilmu pengetahuan.

Untuk mewujudkan belajar sejati, Romo Mangun menunjuk dua kompetensi dasar yang harus diterapkan dan dikuasai anak didik. Pertama, kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa yang dilengkapi dengan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan sesama. Kedua, pemekaran jiwa anak yang eksploratif, kreatif dan integral. Kemampuan eksploratif membuat anak suka mencari, bertanya dan menyelidik. Kemampuan kreatif membuat anak bisa mencipta hal-hal baru yang lebih baik dan berguna. Kemampuan integral membuat anak bisa melihat dan menghadapi beragam segi kehidupan dalam keterpaduan yang utuh.

Bagaimana dengan kurikulum yang dijalankan di sekolah ini, dengan konsep dan pemikiran Romo Mangun yang amat ideal?

Kurikulum nasional lebih pada penekanan aspek kognitif, menekankan sisi materi dengan kurangnya sisi keterampilan dan amal. Dan hal ini seragam mulai dari beban mata pelajaran, cara pengajaran, sistem evaluasinya. Hal ini cukup mengakibatkan anak didik (sedikit) buta akan lingkungan sekitar serta kurang dalam daya kreativitas dan eksplorasi yang akan menuntun pada belajar sejati. Bagi Romo Mangun, kurikulum harus bersifat kontekstual, dinamis, dan berdasarkan kebutuhan, kemampuan, potensi dan jenjang umur anak didik. 

Isi kurikulum dalam Pendidikan ala Romo Mangun seperti apa?

Materi-materi umum tetap ada dengan adanya materi lain. Pendidikan seni, olahraga, keterampilan, pendidikan bahasa dan komunikasi, IPA dan IPS, komunikasi iman, matematika, kotak pertanyaan, baca buku dan majalah meja. Tidak berbeda jauh dengan pendidikan di sekolah biasa. 

Namun, menjadi pertanyaan mengapa tidak ada pelajaran agama? Hal ini, diganti dengan komunikasi iman dengan dasar dari pemahaman bahwa sesungguhnya setiap anak telah berbakat religius. Hal ini memang perlu dibantu tapi bukan dengan pengetahuan tentang agama, melainkan mendampingi anak didik demi pemekaran sikap dasar dari dalam diri berupa hati nurani dan niat serta tekad untuk berbuat, khususnya cinta kasih. Komunikasi iman tidak lagi berupa pengajaran, penataran, dan hapalan tentang agama. Yang terjadi dalam kelas adalah dialog, komunikasi, interaksi dan terutama perbuatan antar iman yang dimiliki oleh anak didik dan sivitas akademik.

Menumbuhkan sikap religius anak agar anak memiliki sikap dasar yang betul, hati nurani yang peka terhadap yang baik dan menolak hal buruk. Dengan hal ini pula, anak didik diharapkan mampu menghormati perbedaan dan keberagaman, yang saat ini terkesan hilang dalam kehidupan sosial masyarakat, dimana banyak orang yang mengkotak-kotakan diri dengan agamanya masing-masing, dan menganggap agama lain tidak ber-Tuhan.

Bagi Romo Mangun, seseorang bisa menjadi religius jika seluruh aktivitasnya disandarkan secara sungguh pada pengabdian pada ketuhanan, kemanusiaan dan keseimbangan alam. Dan bagi beliau, pengajaran agama tetap perlu dilaksanakan. Namun, tempatnya adalah di dalam keluarga, masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya, bukan di sekolah. Sekolah harus bersifat dan bersikap inklusif, terbuka bagi murid dari berbagai agama. 

Pelajaran penting pertama di sekolah ini adalah bahasa dan urutan nomor dua adalah matematika. Kedua pelajaran ini dikorelasikan oleh Romo Mangun secara ciamik dengan mengedepankan pengembangan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi (dengan pelajaran bahasa dan komunikasi) dan pengembangan anak dalam berpikir logis, kritis, teliti, berabstraksi, bisa mengambil keputusan dan kreatif. Ilmu matematika adalah ilmu kuantitas, namun mengajarkan seseorang bernalar logis.

Bagaimana dengan Kotak Pertanyaan, Baca Buku Bagus, dan Majalah Meja. Hal ini bukan pelajaran yang wajar dalam pendidikan formal di Republik ini? 

Komunikasi Iman, pendidikan seni, dan kotak pertanyaan, baca buku bagus, dan majalah meja dijadikan satu kesatuan waktu. Hal tersebut adalah cara untuk melatih kepekaan anak didik untuk mencermati lingkungan keseharian.

Kotak pertanyaan berfungsi untuk menampung pertanyaan anak didik tentang sesuatu yang belum tahu dan akan dibahas bersama. Baca buku bagus adalah cara agar anak didik memperluas cakrawalanya, diajak keluar dari tempurung tradisionalisme konservatifnya, diajak mengenal kebudayaan lain, dan diajak mengenal dialektik antar karakter atau lingkungan buku tersebut. Dan, ini yang menarik. Guru harus mengembangkan kemampuan mendongeng atau bercerita. Kemudian dengan majalah meja. Anak didik bisa langsung belajar dengan hanya melihat mejanya yang ditempatinya dengan tujuan agar mereka dekat dengan bahan atau sumber pengetahuan. Majalah meja ini diisi dengan artikel baik dari koran maupun majalah yang diganti setiap minggu oleh staf sekolah.
Cukup panjang pemaparan kurikulum dan materi pembelajarannya. Next-nya adalah bagaimana dengan evaluasi yang perlu dilakukan agar bisa menilai sampai dimana pencapaian pembelajaran anak sesuai dengan aturan pemerintah?

Almarhum Romo Mangun tidak setuju dengan sistem evaluasi normatif yang dilakukan dengan cara top down. Menurutnya hanya membunuh daya kreativitas dan eksplorasi anak didik, membuat belajar hanya untuk mengejar nilai, menghilangkan rasa solidaritas serta kerja sama, menyuburkan komersialisasi dengan banyaknya bimbingan tes, tempat kursus, dan buku latihan soal yang menggunakan sistem drill.

Evaluasi harus mengikutsertakan orangtua murid agar bisa mengetahui kegiatan anak didik ketika berada di rumah. Dengan adanya Covid-19 ini, kegiatan anak bisa sangat dimonitor di rumah. Untuk mencapai pada belajar sejati anak didik diharapkan tidak hanya belajar di sekolah tapi dimana saja dan kapan saja. Maka dari itu, komunikasi anatar guru dan wali murid menjadi faktor penting.

Bagi Almarhum Romo Mangun, presensi pun tidak terlalu dihiraukan. Anak didik mau sekolah atau tidak adalah kebebasan mereka. Dalam praktiknya, jika anak didik tidak masuk sekolah selama 3 hari, maka guru atau pihak sekolah akan mendatangi rumahnya dan menanyaka apa masalah dan penyebabnya. Absensi pun tidak akan mempengaruhi naik kelas atau tidaknya anak didik karena istilah naik kelas atau tinggal kelas, tidak disetujui oleh beliau. Karena anak yang tinggal kelas dikhawatirkan menjadi patah semangat karena malu, kehilangan teman dan merasa jadi anak yang paling bodoh.

Di sekolah Mangunan dari TK, SD, sampai dengan SMP, posisi anak didik dengan guru adalah sama, yakni sama-sama menjadi subyek belajar. Hubungan yang terjadi pun adalah hubungan dialogis. Keduanya salaing belajar dan saling mengisi, bukan saling mendominasi. Konsep yang diterapkan sekolah Mangunan, guru berfungsi sebagai teman, penolong, dan bidan bagi anak didik. Kenapa bidan? Bukan sekedar menonton, tetap aktif, tetapi bukan primer yang mencerdaskan dan memekarkan anak didik. Guru harus menggunakan nilai Ajrih (hormat)-Asih(sayang) secara seimbang. Makanya menjadi guru sebaiknya menjadi panggilan hidup, bukan sekedar profesi.

Anjuran beliau dalam pendekatan pembelajaran adalah pendekatan joyful learning, child-centered learning, active learning dan kekeluargaan. Pembelajaran berpusat pada anak didik den membuat mereka senang dan enjoy dalam belajar. Enjoy bagi sekolah Mangunan adalah “Suasana Hati Merdeka>/i>”. Metode pembelajarannya pun Konstruktif-Progresif, yaitu setiap metode pembelajaran membantu peserta didik melakukan kegiatan dan akhirnya dapat mengkontruksi pengetahuan yang mereka pelajari dengan baik.

Metode Konstruktif-Progresif diterapkan dengan beberapa metode. Metode tersebut adalah:

1. Metode Penemuan

Anak didik dilatih untuk terbiasa melakukan pengamatan, membuat hipotesis, memunculkan prediksi, memanipulasi obyek untuk melihat perubahannya, memecahkan masalah, mencari jawaban sendiri, menggambarkan kejadian, meneliti, berdialog, melakukan refleksi, mengungkapkan pertanyaan, dan mengekspresikan gagasan selama proses pembentukan konstruksi pengetahuan yang baru.

2. Metode Dialog dan Diskusi

Guru, pertama kali, harus merangsang anak didik untuk bertanya. Kedua, membentuk kelompok dan diberi tema pembahasan. Saat berkelompok, mereka bisa saling belajar, menumbuhkan rasa solidaritas, dan saling menolong.

3. Metode Cerita

Metode ini sangat efektif karena bisa merangsang anak untuk enjoy dan lebih mudah memperhatikan. Dan dengan cara ini pula, saat mereka mulai memperhatikan, mereka mulai mengkontruksi pengetahuannya.

4. Metode Pluspunt

Ini adalah metode berhitung realistik, mempelajari matematika dari permasalahan keseharian anak. Mereka belajar berhitung dari perkara realitas nyata dan mudah dibayangkan dengan memanfaatkan sesuatu yang berada di lingkungan sekolah.

Bagai ikan dalam air. Begitulah Romo Mangun mengibaratkan sekolah Mangunan dan masyarakat. Maju dan mundurnya suatu sekolah sangat ditentukan oleh masyarakat sekitarnya, termasuk orangtua. Orangtua adalah unsur penting dalam mempengaruhi perkembangan anak didik, namun sebenarnya mereka hanya meneruskan pengarahan yang diterima dari masyarakat. Bisa dikatakan, masyarakatlah yang sebenarnya membentuk anak didik.

Mental masyarakat Indonesia masih mental orang yang dijajah, yakni mental inggih ndoro, ndoro-kawulo (primordialisme). Sistem kemasyarakatan bangsa ini masih fungsional struktural, suatu tatanan masyarakat yang beranggapan bahwa manusia hidup selalu menempati posisinya masing-masing yang memang sudah jatahnya. Hal ini lah yang menyebabkan anak didik bernilai sekunder dan menjadikan mereka kerdil, terkekang, dan kehilangan daya kreativitas serta eksplorasinya. Sekolah Mangunan, dengan pemikiran Romo Mangun-nya, konsisten mengarahkan anak didiknya untuk menuju sistem kebudayaan yang memerdekakan dengan mensinergikan pendidikan formal, nonformal, dan pendidikan informal, secara seimbang.

Belajar sejati yang selalu dibangun dan diantarkan oleh sekolah ini mengupayakan kesadaran anak didiknya untuk belajar seumur hidupnya. Pengambangan daya kritis, kreatif dan eksploratif anak didik secara integral dan komprehensif selalu ditekankan. Maka dari itu, pembelajaran yang dilakukannya pun bersifat demokratis, dialogis, dinamis, kontekstual, menekankan proses dan menggunakan pendekatan joyful learning, active learning, child-centered dan sistem kekeluargaan. belajar sejati dengan suasana hati yang merdeka, diyakini bisa dicapai. 

Anda tertarik untuk membelajarkan anak Anda di Mangunan?


Leong Christian
Askara Yogjakarta

Komentar