Kamis, 04 Juni 2026 | 07:46
COMMUNITY

Perjuangan Tukang Rujak Sisihkan Uang Demi Naik Haji

Perjuangan Tukang Rujak Sisihkan Uang Demi Naik Haji
Ilustrasi ibadah haji. (BBC)

ASKARA - Kesulitan hidup selama masa pandemi Covid-19 dialami hampir semua orang. Namun bagi Ikin Solikin tak ada kata putus asa, apalagi menyerah.

Pria berusia 50 tahun tersebut merupakan penjual rujak bebeg (rujak tumbuk) keliling yang biasa menjajakan dagangannya di seputaran Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Dia tetap semangat setiap hari berjualan meski jalannya sudah tak selicah seperti pria lainnya. Pertanda bahwa dia tak lagi muda. Ikin mampu memangul jualannya yang mungkin beratnya dua kali lipat berat tubuhnya.

Garis-garis keriput di wajah Ikin tak bisa disembunyikan, pertanda umurnya sudah termakan usia. Sembari melayani pembeli, Ikin tak pernah sedikit pun melepas senyum. Terpasang masker yang sudah tampak lusuh menutupi setengah garis bibirnya yang keriput. Sementara di sisi bagian kiri tempat pangulannya terlihat sebuah botol semprot tergantung seperti hand sanitizer.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini hampir semua orang diwajibkan taat pada protokol kesehatan guna mencegah penularan virus corona seperti pakai masker, cuci tangan serta menjaga jarak menjadi sebuah keharusan. Terutama bagi seseorang yang sudah lanjut usia seperti Ikin.

Sesekali dia menyapa dengan ramah kepada setiap orang yang ingin membeli barang dagangannya.

"Bade rujak kang," tanya Ikin dengan Bahasa Sunda sambil melempar senyum keramahan.

"Saya tinggal di Kampung Legok Asih, Desa Tanjungsari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kalau umur saya kurang lebih sudah 50 tahun," kata Ikin.

Sebenarnya Ikin bukan warga asli Kota Tasikmalaya. Dia dari Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Ikin mengaku tinggal di Kota Tasikmalaya semenjak tahun 2010 setelah istrinya Maryati meninggal dunia akibat kanker payudara.

"Kalau dagang rujak di Kota Tasikmalaya sejak istri saya meninggal akibat penyakit yang dideritanya," ujar Ikin sembari memotong buah-buah untuk membuat rujak.

Sebelum berjualan rujak Ikin berprofesi sebagai tukang kredit perabot rumah tangga di Pulau Bali selama 13 tahun.

"Saya lama di Bali jadi tukang kredit. Ya orang Tasikmalaya kan dulu terkenal juga sebagai tukang kredit," kata Ikin.

Sambil melayani pembeli, pria tiga anak ini tetap bisa fokus dalam membuat rujak bebek meski terus menceritakan kehidupan dirinya dan mendiang istri. Tangannya yang sudah nampak berkeriput terus memotong buah-buahan kemudian menumbuk bahan rujak agar bumbunya merata.

Rujak yang sudah jadi lalu diambil menggunakan sendok dari dalam tumbukan ke wadah plastik kemasan ukuran sekitar 10x15 centimeter dan diikat dengan karet gelang. Kemudian tak lupa diselipkan sebuah sendok plastik mini untuk alat makan.

"Kang, rujaknya mau pedas apa sedang, manis apa asin rasanya," tanya Ikin kepada salah seorang pembeli.

Seusai pulang dari Bali Ikin lalu kembali ke kampung halamannya di Salawu. Sebelum berjualan rujak dia mengaku sempat berjualan gula merah. Karena istrinya yang menderita kanker payudara pun membutuhkan banyak biaya yang cukup bayak untuk pengobatan dan operasi.

"Waktu itu istri saya menjalani operasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dan biaya operasinya sekitar Rp 140 juta. Untuk biaya operasi istri terpaksa saya menjual harta benda yang selama ini saya miliki seperti sawah dan ladang di kampung halaman saya Kecamatan Sakawu," cerita Ikin mengenang.

Tak lama setelah menjalani operasi istrinya meninggal dunia. 

"Mungkin itu sudah takdirnya dan jalan yang terbaik buat almarhumah," kata Ikin.

"Ini rujaknya kang sudah selesai, harganya cuma Rp10 ribu," kata Ikin sambil menyodorkan kepada pembelinya.

Setiap harinya Ikin berjualan rujak keliling di Kota Tasikmalaya menempuh jarak belasan hingga puluhan kilometer.

"Kalau asli saya orang Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kalau di sini saya hidup ngontrak di Kampung Cilingga tak jauh dari Pasar Cikurubuk. Kalau pagi-pagi saya jualan di alun-alun Kota Tasikmalaya. Di sana suka ada yang beli yang habis senam atau olah raga," jelasnya.

Ikin menambahkan, setelah berjualan di alun-alun dirinya melanjutkan ke stasiun kereta api, taman kota, serta taman dadaha Kota Tasikmalaya.

"Kalau pulang kampung ke Salawu saya sebulan sekali. Saat ini alhamdulillah saya sudah punya istri lagi sekarang," ucapnya.

Usia yang tak lagi muda tidak membuat Ikin bermalas-malasan. Cita-citanya kini hanya satu yakni bisa menyempurnakan rukun Islam dengan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah.

"Ya alhamdulillah saya dan istri sudah mendaftar untuk berangkat ke Tanah Suci. Tiap bulan saya nyicil Rp 830 ribu untuk biaya ongkos ke Tanah Suci. Mudah-mudahan bisa terlaksana. Saya dan istri yang sekarang juga sudah punya nomor kursi, saya nomor 27 dan istri nomor 528," kata Ikin.

Ikin juga tetap menjaga fisiknya agar selalu sehat. Sementara untuk menjaga kondisi kesehatan agar tetap sehat Ikin mengaku selalu melaksanakan salat lima waktu ditambah tahajud serta dhuha.

"Insya Allah kalau dari jadwal keberangkatan saya bersama istri, berangkat rencananya pada tahun 2035 mendatang. Mudah-mudahan selalu diberikan kesehatan dan kekuatan oleh Allah Yang Maha Kuasa," tutup Ikin berharap. (kesatu)

Komentar