Senin, 30 November 2020 | 09:41
OPINI

Love Story Dewi dan Soekarno (Bag. 4)

Love Story Dewi dan Soekarno (Bag. 4)
Kartika Sari Dewi dan Soekarno

Sudah menjadi rahasia umum, Presiden Soekarno kerap mengirimkan surat cinta kepada setiap istrinya. Tak disangka, jumlah surat cinta Soekarno mencapai ratusan lembar. Hal itu diungkapkan oleh istri keenam Soekarno, Naoko Nemoto atau Ratna Sari Dewi. Dewi mengaku kepada Mang Ucup, bahwa ia masih menyimpan surat-surat Soekarno yang dialamatkan padanya. "Saya memiliki lebih dari 500 surat yang kini disimpan dengan baik di sebuah bank," kata Dewi.

Ya, Soekarno kerap menulis surat cinta pada Dewi dengan kata-kata puitis dan penuh pujian. Umumnya, surat tersebut berisi tentang keadaan Soekarno di Indonesia. Bukan hanya itu saja, surat-surat itu diakui Dewi memiliki nilai yang sangat berharga. Setiap goresan tangan Soekarno, punya kenangan yang diingatnya hingga saat ini.

Melalui surat, Soekarno bahkan kerap menguatkan Dewi karena adanya perbedaan budaya di antara mereka. "Semuanya (penyesuaian budaya) sulit, tapi aku sangat didukung oleh cintanya. Dia mengingatkan saya dengan perasaan yang diungkapkan setiap detik, dengan bunga atau sedikit catatan (surat)."

Salah satu isi surat yang diingatnya dan kental dengan rasa cinta mendalam, ketika Soekarno sedang ada dalam pertemuan kabinet yang isinya: "secara fisik, saya ada di sini dalam sebuah pertemuan kabinet, tapi hati saya bersamamu."

Atau isi surat romantis lainnya. "Ketika saya menyisir rambut yang jauh di bawah pinggang, lalu dia mengatakan cintanya lebih panjang dari rambutku," kata Dewi seraya membeberkan isi surat cinta Soekarno padanya. Apabila Anda tertarik untuk membaca Seluruh Surat Bung Karno Bisa Tanya Mbah Google "Pena Soekarno".

Dewi juga pernah menulis surat terbuka kepada Soeharto dimana ia menulis. Bahwa ia merasa terpanggil sebagai WN Indonesia untuk membeberkan pembantaian Soeharto terhadap satu juta rakyat Indonesia yang tak berdosa. Dewi menilai Soeharto seperti Polpot dari Kamboja yg telah membantai lebih dari empat juta rakyatnya sendiri.

Dalam surat tersebut juga Dewi menulis “Tuan dapat saja menghancurkan jasmani Bung Karno, tapi Tuan tak akan pernah berhasil menghancurkan semangat dan jiwanya dalam membela keadilan dan kebenaran.Jiwa dan semangat Bung Karno itu tak akan pernah mati!"

Surat yabg terdiri dari 25 halaman tersebut dikirimkan dari Paris tgl 16-4-1970 dan bisa diunduh: https://www.dbnl.org/.../oltm00.../oltm003menc01_01_0002.php

Awalnya, pada 1960, Wisma Yaso dibuat sebagai hadiah untuk Dewi dan juga sebagai tempat beristirahat melepas lelah seusai menjalankan tugas sebagai kepala negara. Nama Yaso itu diambil dari nama saudara kandungnya yang telah meninggal. Wisma Yaso yang awalnya menjadi Sorga bagi Bung Karno; namun di akhir hayatnya telah berubah menjadi Neraka.

Wisma Yaso memang dibangun oleh Bung Karno untuk beristirahat melepas lelah seusai menjalankan tugas sebagai kepala negara. Di rumah itu pula, Bung Karno memadu kasih dengan Dewi, hingga istrinya itu mengandung seorang putri yang lebih dikenal dengan nama Kartika Sari Dewi.

Namun, bayangkan saja kesenangan yang dulu diidamkan oleh Bung Karno akhirnya hilang seketika, saat rezim pemerintahan dipegang oleh Soeharto. Situasi semakin buruk sehingga Bung Karno akhirnya meminta Dewi untuk melahirkan di Jepang. Dia khawatir terjadi apa-apa pada keluarganya. Wisma itu pun akhirnya kosong.

Soeharto memanfaatkannya untuk menahan Bung Karno di tempat itu agar bisa diasingkan dari dunia luar. Saat detik-detik Soekarno mengembuskan napas terakhir, masih lekat dalam ingatan sang istri, Ratna Sari Dewi.

Sambil menceritakannya lagi kepada Mang Ucup, rupanya Dewi tak kuasa lagi ia membendung tetesan air matanya. Bukan hal mudah bagi Dewi untuk menemui Bung Karno ketika beliau menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, Jakarta. Namun ia tetap nekat entah apapun biaya maupun pengorbanannya ia tetap harus terbang dari Paris, ke Jakarta untuk melihat kondisi sang suami.

Ketika ia tiba di Wisma Yaso pukul 20.20 malam, ternyata Bung Karno telah dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Hanya dengan satu keinginan saja ialah untuk memperlihatkan putrinya kepada sang Ayah dan memberikan kesempatan kepada Bung Karno untuk memeluknya walaupun mungkin ini hanya untuk terakhir kalinya sekalipun juga.

Dewi membawa serta buah hatinya dengan Soekarno ialah Kartika Sari Dewi. Kala itu Kartika, yang lebih akrab disapa Karina, baru berumur tiga tahun. Karena lahir di Jepang, Soekarno belum pernah mendapatkan kesempatan untuk melihat anaknya hingga saat itu. Dengan air mata turun berlinang Dewi berkata dengan suara terbata-bata: “Karina ke sini, ini Bapak, “this is your father”, Karina,” ketika keduanya akhirnya bertemu lagi.

Antara sadar dan tidak, tangan Soekarno bergerak dengan perlahan seakan-akan ingin menggapai putri kecilnya. Sayang sekali Soekarno sudah tak punya kekuatan maupun daya apa-apa lagi. Bahkan untuk mempertahankan kesadaran adalah perjuangan tersendiri sekalipun sudah sulit baginya. Namun terlihat turun air matanya Bung Karno berlinang untuk terakhir kalinya!

Usai kedatangan Dewi dan Kartika, kesadaran Soekarno berangsur hilang. Menjelang tengah malam ia koma. Keesokan paginya, 21 Juni 1970, Soekarno menyerah dan mangkat. Bung Karno seolah-olah hanya menunda kepergian sebelumnya ia bisa bertemu dengan tiga orang yang sangat berarti dalam hidupnya ialah: “Hatta, Dewi dan Karina !” Disinilah terbuktikan bahwa Allah itu Maha Besar dan Maha Pengasih! Amin.

Apabila para pembaca masih belum bosan dan juga berkenan Mang Ucup bersedia untuk melanjutkannya lagi kisah dari Dewi, jawaban dan komentarnya ditunggu ! Hatur rebu nuhun.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar