Minggu, 16 Mei 2021 | 00:52
NEWS

Air Danau Surut, Batu Beranak Muncul ke Permukaan

Air Danau Surut, Batu Beranak Muncul ke Permukaan
Tinggalan megalitik batu beranak di Pulau Mantai, Danau Sentani bagian barat. (Hari Suroto/Antara)

ASKARA - Peneliti dari Balai Arkeologi Provinsi Papua Hari Suroto mengatakan, benda-benda purbakala berupa tinggalan megalitik yang berada di dalam Danau Sentani seperti menhir dan papan batu masih terlihat jelas ketika air Danau Sentani surut.

"Surutnya air Danau Sentani membuat benda-benda purbakala berupa tinggalan megalitik yang berada dalam air mulai muncul di permukaan air dan terlihat jelas. Benda-benda megalitik ini sebelumnya sempat dikhawatirkan hilang atau tergeser posisinya akibat banjir bandang yang melanda Sentani pada Maret 2019," katanya di Jayapura, Sabtu (3/10).

Hari mengatakan, pada musim kemarau, permukaan danau yang terletak di Kabupaten Jayapura itu surut karena pasokan air dari sumber mata air Cyclops berkurang.

Karena surut, benda-benda purbakala berupa tinggalan megalitik yang berada di dalam air mulai muncul di permukaan air sehingga terlihat.

Biasanya, saat kondisi permukaan air Danau Sentani sedang pasang, tinggalan-tinggalan megalitik itu hanya terlihat samar-samar berada dalam air. 

"Namun kali ini berbeda, terlihat sangat jelas ketika air Danau Sentani surut," katanya.

Hari mengemukakan bahwa kondisi itu terlihat di Pulau Asei, pulau kecil di tengah Danau Sentani bagian timur. Tinggalan menhir yang sebelumnya berada di dalam air sekarang tampak terlihat jelas, bahkan ukirannya nampak terlihat jelas sekali.

Selain itu juga papan batu di Tanjung Warakho, Kampung Doyo Lama, air danau surut menjadikan papan batu ini tampak terlihat jelas di permukaan tanah tepi danau. Posisinya juga tepat berada di posisi semula, tidak bergeser.

Hari mengatakan, sejumlah menhir juga terlihat jelas di Perairan Pulau Mantai. Dua buah menhir berukuran besar yang dipercaya oleh masyarakat Sentani bagian barat sebagai laki-laki dan perempuan dewasa. Tidak jauh di sampingnya terdapat 10 batu menhir berukuran lebih kecil yang dipercaya sebagai anak-anaknya.

Menhir-menhir itu dikenal sebagai Ainining Duka atau batu beranak. Menhir atau masyarakat Kwadeware menyebutnya batu rezeki atau batu marew juga nampak terlihat jelas di pinggir Pulau Mantai, berjarak sekitar 10 meter sebelah selatan batu beranak.

"Pada masa lalu, tinggalan megalitik ini berkaitan dengan kepercayaan pada roh nenek moyang atau kekuatan supranatural," demikian Hari. (antara) 

Komentar