Rabu, 17 Juni 2026 | 20:57
NEWS

Tidak Dijaga dengan Baik, Pelaku Vandalisme Musala Bisa Bunuh Diri di Tahanan

Tidak Dijaga dengan Baik, Pelaku Vandalisme Musala Bisa Bunuh Diri di Tahanan
Perusakan Musala di Tangerang (tangkapan layar)

ASKARA - Munculnya anggapan pemuda tanggung bernama Satrio (18), pelaku vandalisme dan perusakan Musala Darussalam, Perum Villa Tangerang Elok, Pasar Kemis, Tangerang yang disebut dalam keadaan depresi menuai sorotan berbagai pihak. 

Kriminolog dan Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel mengatakan, seseorang yang mengalami depresi bukan termasuk gangguan jiwa. Sehingga dengan mudah mendapat keringanan hukuman. 

"Kata polisi, pelaku depresi. Depresi bukan tipe gangguan jiwa yang mendapat dispensasi hukum. Untuk kepentingan pengobatan klinis, perlu dicari tahu sebab-musabab depresinya," kata Reza, Kamis (1/10).

Menurut Reza, hanya sepertiga pengidap depresi yang mendemonstrasikan amarah hebat secara tiba-tiba. Depresi lebih berasosiasi dengan kesedihan dan keputusasaan mendalam, kerap disebut para ilmuwan sebagai gerbang bunuh diri. 

"Jaga tersangka pelaku sebaik-baiknya. Jangan sampai terjadi perbuatan fatal di dalam ruang tahanan yang membuat kasus berhenti di kantor polisi," terang Reza. 

Tak terhindari penanganan hukum atas kasus Tangerang, akan bisa sedikit banyak mendongkrak kepercayaan publik pada otoritas penegakan hukum. 

"Publik kadung skeptis terhadap kerja hukum pada kasus-kasus penganiayaan ulama, yang para pelakunya disebut punya gangguan jiwa dan kasusnya setop begitu saja," tutur Reza. 

Dia menambahkan bahwa jika ada pihak yang lalai dalam menjaga orang depresi tentu bisa mendapat hukuman. Lantaran membayakan keselamatan orang lain. 

"Pihak yang bertanggung jawab menjaga orang yang mengalami gangguan jiwa. Tapi lalai, sehingga orang sakit jiwa tersebut berkeliaran apalagi membahayakan orang lain dan lingkungan sekitar, bisa dikenai pidana," nilainya.  

Kapolres Kota Tangerang, Kombes Ade Ary Sam Indardi mengatakan, pelaku vandalisme Musala Darussalam, Tangerang tidak dalam keadaan depresi. Bahkan sehat secara kejiwaan.

"Normal ngobrol, bisa menjawab, dan diskusi," kata Ade Ary di Pasar Kemis, Rabu (30/9) kemarin.

Kepolisian juga membantah kabar bahwa pelaku yang berstatus mahasiswa universitas swasta di Jakarta itu sedang depresi. 

"Sehat, saya ajak ngobrol bisa. Saya tanya sehat, dia bilang sehat," cetus Ade Ary. 

Komentar