Jumat, 30 Oktober 2020 | 13:54
OPINI

Resesi Kasih Vs Resesi Ekonomi

Resesi Kasih Vs Resesi Ekonomi
Ilustrasi stres (int)

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah memastikan akhir bulan September ini Indonesia akan masuk kedalam jurang resesi akibat Covid-19. Momok dari resesi ini akan mengakibatkan badai PHK secara masal dan bertambahnya jumlah pengangguran, sehingga daya beli pun akan semakin surut jauh berkurang; termasuk pemotongan gaji.

Arti Resesi = kelesuan dlm bidang ekonomi dan menurunnya kegiatan dagang. Hal ini akan membuat kita jadi tambah mumet dan pusing tujuh keliling. Terutama dari golongan ekonomi lemah sampai kelas menengah. Hal ini akan berdampak gawat terhadap keharmonisan hubungan keluarga di rumah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa uang adalah nyawa dari keharmonisan hubungan keluarga. Begitu uang berkurang keharmonisan keluarga pun semakin berkurang pula. Iuran sekolah maupun biaya kontrakan rumah bisa nunggu; namun perut tidak bisa nunggu harus di isi setiap hari. Dan ini bukan hanya sekedar untuk satu mulut sang suami saja, melainkan juga untuk semua anak-anak di rumah.

Jadi sudah merupakan tanggung jawab yang berat dari kaum istri agar dapur bisa ngebul terus. Namun sehebat-hebatnya sang istri. mereka masih belum mampu mendatangkan turunnya hujan uang dari surga.

Akibat dari resesi kasih maka akan: jadi lesu kehilangan gairah esek-esek. Pikiran jadi pusing, sehingga bawaannya ingin ngambek terus, karena tingkat stress udah naik sampai ke ubun-ubun yang tertinggi. Harus siap menebalkan kulit muka sambil menurunkan rasa malu atupun gengsi; karena terpaksa harus pinjam uang kiri-kanan maupun ke warung.

Dihantui oleh rasa takut terus-menerus, takut di datangi oleh debt-kolektor. Belum lagi takut tertular corona. Harus siap jadi supir ojol walaupun menyandang gelar S2 maupun mantan manager di kantor, bahkan sang istri pun sudah diwajibkan haruss turut bantu ngojek.

Akibat adanya resesi kasih yang berkepanjangan ini akan menimbulkan rasa capek dan kejenuhan, sehingga mulailah mencari hiburan ataupun pelipur lara dengan orang ketiga. Pasangan di rumah tidak punya alasan lagi untuk bisa marah, kalau pulang pagi dengan alasan harus cari uang tambahan untuk biaya hidup. Jangankan bisa pergi ke salon lagi, mobil keluarga satu-satunya sudah lenyap dilego.

Menurut pendapat Mang Ucup pada saat resesi kasih ini yang harus dijadikan prioritas paling top utama agar tidak tejadi PHK (Pemutusan Hubungan Kawin). Cari kerjaan walaupun bagaimana sulit sekalipun juga. Masih jauh lebih mudah dan lebih cepat untuk bisa didapatkan daripada cari pasangan hidup baru.

Belajar sabar dan diam; pada saat pasangan kita sedang ngambek, maka sebaiknya kita belajar berlaku sabar dan diam. Maklum untuk ini anda akan dapat pahala karena berhasil bantu mengurangi beban stress dari pasangan hidup kita yang sedang sewot tak terkendalikan.

Apa salahnya sekali-kali kita bantu sebagai penangkal sewot pasangan hidup kita. Dan mengajak pasangan kita untuk lebih sering doa bareng bersama. Seperti juga yang tercantum dalam Alkitab; doa yang dipanjatkan oleh dua orang akan jauh lebih didengar daripada satu orang. Maklum bunyinya juga pasti akan jauh lebih kenceng !

Percayalah dan juga telah terbuktikan, bahwa pada saat kita berdoa; ini akan bisa menurunkan tingkat Kadar stress kita. Dan percayalah juga, bahwa Gusti Ora Sare bahwa Tuhan itu tidak tidur, walaupun mungkin pada saat ini sedang tidur siang sejenak karena lelah kecapean mengurus dunia akibat Covid.

Namun saya yakin haqul yakin sebentar lagi pasti Tuhan akan selalu hadir di antara umat-Nya lagi. Apakah anda sependapat dengan coretan Mang Ucup ini? Maturnuwun sanget berkah dalem.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar