Tuntut Keadilan, Pengusaha Hiburan: Jangan Lupa, Kelaparan Bisa Menyebabkan Kematian
ASKARA - Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (Asphija) meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera mencari solusi bagi usaha hiburan saat penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) akibat pandemi Covid-19.
"Kami minta solusi, empat bulan sudah usaha hiburan ditutup tanpa ada perhatian dari pemerintah, mau sampai kapan usaha hiburan ditutup? Tidak ada perhatian dari pemerintah, baik pemprov maupun pusat kepada kami," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hiburan Jakarta (Asphija) Hana Suryani, Selasa (21/7).
Hana mengaku, hingga saat ini Pemprov DKI tak kunjung memberikan solusi yang jelas. Padahal, pihaknya siap bahkan proaktif menjalankan protokol yang sudah ada dan yang sudah disepakati.
"Namun berita baik tak kunjung tiba. Imbauan dan diskusi tidak pernah diciptakan dalam rangka mencari solusi terbaik buat semua pihak. Yang ada usaha hiburan selalu disudutkan oleh tuduhan negatif tentang pelanggaran yang kami tidak perbuat, karena usaha kami saja belum buka," tuturnya.
Menurut Hana, puluhan ribu karyawan telah menjadi pengangguran, kelaparan, bahkan mengalami kesusahan pada keluarganya. Ada pula karyawan yang diusir dari tempat tinggal sewanya akibat tidak mampu membayar.
"Mulai dari tidak sanggup membayar sewa kontrak rumah, diusir dari kontrakan, tidak mampu membayar sekolah anak, membayar cicilan kendaraan, dan tidak dapat membeli makan," ungkapnya.
Para pengusaha, kata Hana, mengalami kerugian, bahkan gulung tikar. Tidak sedikit pengusaha hiburan yang sudah tidak mampu membayar sewa gedung dan rukonya sehingga harus menutup tempat usahanya.
"Yang bertahan pun harus mengeluarkan biaya-biaya. Tempat usaha lain sudah dibolehkan buka, mengapa kami tidak? Apakah tempat-tempat usaha yang sudah aman? Belum tentu, pelanggaran terjadi dimana-mana, pemerintah kemana?" tanya Hana.
Padahal, lanjut Hana, pihaknya memiliki izin. Kenyataannya malah dilarang buka, sementara tempat yang tidak memiliki izin usaha bebas beroperasi dengan segala pelanggarannya.
"Di mana keadilan buat kami? Kami hanya disuguhkan dengan kepanikan dan kecemasan. Justru ini yang membuat kami tidak sehat. 94 persen pasien Covid-19 bisa sembuh, lalu bagaimana nasib puluhan ribu karyawan yang kelaparan? Jangan lupa, kelaparan bisa menyebabkan kematian," tandasnya.

Komentar