Heran, Kawah Ijen Lebih Diminati Wisatawan Asing Dibanding Lokal
ASKARA - Indonesia memiliki kekayaan pariwisata yang luar biasa. Salah satunya fenomena api biru alias blue fire di Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur.
Pasca gelombang tinggi Covid-19 beberapa waktu lalu, Kawah Ijen sempat ditutup. Namun kini kembali dibuka dengan jumlah yang terbatas.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, fenomena blue fire sangat langka di dunia. Namun sayang, kawah Ijen sejak lama lebih diminati wisatawan asing dibandingkan wisatawan domestik.
"Tidak heran yang ke sini (kawah Ijen) banyak orang asing dari pada orang Jakarta. Orang Jakarta mungkin suka yang tidak susah naik, kira-kira begitu," ujar pria yang akrab disapa Anas itu, di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Minggu (5/7).
Di dalam masa normal baru ini, kata Anas, jumlah pengunjung perharinya dibatasi menjadi 450 orang, dan untuk memasukinya harus melalui reservasi secara online dari jauh-jauh hari.
"Nah, sekarang dibatasi, orang yang ke sini (Kawah Ijen) harus reservasi lewat online dibatasi 450 orang, dulu kan puluhan ribu orang datang dengan bebas," kata Anaz.
Untuk diketahui, kawah Ijen merupakan danau kawah yang memiliki sifat asam. Terletak di puncak Gunung Ijen, kawah Ijen ini memiliki kedalaman 200 meter dengan luas 5.466 hektare.
Kawah Ijen sendiri masuk dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang dilindungi sebagai cagar alam. Salah satunya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.1017/Kpts-II/Um/12/1981 yang ditetapkan pada 10 Desember 1981 lalu.
Diketahui, blue fire hanya nampak jika tanpa adanya cahaya, yang dapat dilihat dalam waktu pukul 2 hingga 4 dini hari.
Gunung-gunung lain pun dapat dinikmati dari pergununang Ijen, seperti halnya Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante dan Gunung Marapi.

Komentar