Minggu, 07 Juni 2026 | 19:05
NEWS

Gempa Bermagnitudo 5,3 Guncang Selatan Jatim, Begini Analisa BMKG

Gempa Bermagnitudo 5,3 Guncang Selatan Jatim, Begini Analisa BMKG
Peta Gempa Selatan Jatim (Google Earth/BMKG)

ASKARA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menganalisis gempa yang terjadi Minggu (5/7) pukul 02.09 WIB wilayah selatan Jatim dengan Magnitudo 5,3. 

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, gempa tersebut terjadi pada episenter yang terletak pada koordinat 9,26 LS dan 112,24 BT, atau tepatnya di laut pada jarak 125 km arah Selatan Kanigoro, Blitar, Jatim pada kedalaman 92 km.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini merupakan jenis gempa menengah akibat adanya deformasi batuan pada Lempeng Indo-Autralia yang menunjam/tersubduksi ke bawah Pulau Jawa," ujar Daryono, Minggu (5/7).

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault). Hal itu merupakan bukti bahwa gempa terjadi diakibatkan adanya tarikan lempeng (slab pull) yang terjadi pada Zona Benioff yaitu sistem penunjaman lempeng di bawah Zona Megathrust pada kedalaman 92 km. 

Dengan gempa kedalaman menengah tersebut, maka guncangan gempa ini dapat dirasakan dalam wilayah yang lebih luas seperti Blitar, Karangkates, Trenggalek, Nganjuk, Pacitan, Wonogiri, Jember, Kulonprogo, Bantul, hingga Cilacap. 

Meskipun begitu, hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. 

"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," tuturnya.

Gempa selatan Blitar ini episenternya terletak sangat berdekatan dengan sumber gempa merusak di Jatim selatan, yang terjadi pada 15 Agustus 1896 dan 20 Agustus 1896. 

"Dampak kedua peristiwa gempa Jatim saat itu menurut catatan katalog gempa mencapai skala intensitas VII MMI menimbulkan kerusakan banyak bangunan rumah dan korban jiwa cukup banyak," ungkapnya.

Daryono menyebut, wilayah selatan Jatim akhir-akhir ini sering diguncang gempa. Lantaran itu, masyarakat perlu waspada, terlebih dengan catatan gempa kuat masa lalu yakni yang terjadi pada Agustus 1896 dapat menjadi data dukung kesiapsiagaan masyarakat.

"Bahwa gempa kuat memiliki periode ulang dengan periodesitas tertentu. Sehingga gempa kuat yang terjadi di suatu wilayah pada masa lalu sangat mungkin dapat berulang kembali kejadiannya," tandasnya.

Komentar