Kamis, 16 Juli 2020 | 23:22
COMMUNITY

Janjian di Gunung Merbabu Via Timboa

Janjian di Gunung Merbabu Via Timboa
Gunung Merbabu Via Timboa (Youtube)

ASKARA - Ini adalah kali kedua saya dan mas Budi Hdg di gunung yang sama. Pertama jumpa dan kenal saat mendaki Gunung Ciremai di Jawa Barat via Linggajati 11-12 November 2018. 

Usianya memang sudah tidak muda, 63 tahun. Tapi semangat dan kekuatannya luar biasa. Pinter masak juga, chef gunung.

Janjian ini kami lakukan jauh hari, mas Budi bersama putrinya Tiara Adiratna tiba pagi hari di basecamp Timboa, Desa Ngadirojo, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali dengan ketinggian 1.600 mdpl. Melakukan persiapan dan langsung mendaki ditemani mas Komo.

Saya menunggu Khusnah Herawati selesai kerja, dan baru sampai di basecamp yang sama pada sore harinya. Kami ditemani mas Mujiono (Ranger Merbabu via Timboa)

Awal berpikir untuk menyingkat waktu mau diantar naik motor sampai di ujung jalan beton yang terakhir secara bergantian. Eeh siapa kira, baru 200 meter motor sudah tidak kuat, jalan desa ini memang nanjak cukup lumayan dan cukup panjang. Batal deh dapat bonus, akhirnya kami harus jalan kaki start dari basecamp. Nasib hahaha, biar sah harus jalan dari start awal.

Sekitar pukul 16.00 kami memulai perjalanan, melewati ladang penduduk yang banyak ditanami Adas saat itu. Perlahan tapi pasti, (pasti ngos-ngosan maksudnya) kami melangkah. Kami temukan puncak bayangan namanya Encuring Bacing 1.847 mdpl.

Setelah berjalan kira-kira 2.5 jam, sampailah kami di Pos 1. Simpangan 1.975 mdpl, cukup jauh juga untuk ditempuh. Antara desa dan pos ini bisa ditemukan pet bocor untuk isi air persediaan. 

Hari pun mulai gelap, kami melewati hutan yang cukup lebat. Jalur ini jarang dipakai oleh pendaki. Untuk Mendaki Gunung Merbabu ada 5 jalur resmi. Yang terfavorit bagi pendaki adalah jalur Selo, Wekas, Suwanting,  selebihnya ada Chuntel dan Thekelan. Timboa sendiri infonya adalah jalur lama yang sudah jarang diminati. Tapi ini juga resmi. Bagi saya makin sepi makin asyik dan asri.

Kami lanjut berjalan perlahan saja, dan seperti biasa ngobrol sana sini sambil bercanda itu kewajiban, agar perjalanan mengasyikkan dan lelah itu tidak dirasakan. 

Dan benar, 45 menit kemudian sampailah kami bertiga di Pos 2. Pompong Seger 2.123 mdpl. Istirahat sejenak sembari foto meski gelap. Hasilnya jadi sedikit horor, karena muka pakai disenterin. Seperti... Ya begitulah, jadilah makin seru ketawanya melihat hasil foto yang lucu-lucu.

Puas foto dan ketawa, kami lanjut perjalanan. Rimbunnya hutan sudah makin berkurang, kami memasuki sabana yang amat luas, andaikan ini pagi atau siang hari, pasti sangat indah dan jelas panas juga menyengat. "Aaah besok pasti bisa kami nikmati keindahannya," gumam saya dalam hati. 

Cukup panjang juga jarak antara pos 2 ke pos 3, entah ini sudah jam berapa, karena malam maka memang jalan harus lebih hati-hati dan perlahan. Kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan terlihat sangat jelas.

Kami tetap berjalan berderet berdekatan, mengikuti mas Muji seperti anak itik takut ketinggalan. Tidak lama kemudian, terdengar samar-samar suara nyanyian. Ada tawa gembira. Sayapun jadi makin bersemangat melangkahkan kaki lebih cepat. 

Dan hollaaaa, setelah berjalan 1.5 jam ternyata ketemunya dengan mas Budi di Pos 3. Mainan 2.440 mdpl, sudah buka tenda bersama Tiara dan mas Komo, lengkap dengan api unggun di dekatnya. Kami pun langsung ikut duduk menikmati kehangatan. Kopi dan teh pun sudah disediakan. Beruntung saat kami sampai mereka belum ketiduran. Ternyata sudah mendekati pukul 21.00. Ngobrol diskusi makin asyik. Hanya kami ber 6 yang ada di sini, tidak ada pendaki lain melewati jalur ini.

Bergegas saya ikut mendirikan tenda. Summit akan dilakukan besok pagi-pagi. Semua sudah tertidur, saya dan mas Muji lanjut ngobrol di depan api unggun, saking asyiknya gak terasa jam udah dini hari pukul 01.00 hahaha. kamipun bergegas ikut istirahat dulu.

Pagipun tiba, persiapkan diri. Ngopi-ngeteh-ngenergen-ngroti sembari foto-foto menyambut mentari. Pagi itu sangat cerah dan indah. Sekitar pukul 06.00 kami mulai perjalanan, menuju Pos 4 Ki Hajar Sampurno 2.638 mdpl waktu tempuh 45 menit dengan melewati hutan mati bekas terbakar. 

Lanjut terus dan 1 jam kemudian sampai di Pos 5 Watu Tumpang 2.911 mdpl.
Di sini saya menemukan batu mirip lumpang, dan ada batu yang mungkin berangka tahun, tapi dipasang di antara trap tangga.

Setelahnya melewati jalan menanjak dan jalan sempit bagaikan jalur sirotolmustakim, sedikit mirip dengan Raung dan Andong. 

Perjalanan kami sedikit lama, karena membawa beberapa plakat dan tanda jalur yang sudah kami sediakan untuk dipasang di beberapa tempat. Mas Muji membawa potongan besi galvalum, yang dicantelin di pundaknya itu.

Ada satu bukit, tempat teman-teman kelompok perempuan pendaki usia di atas 45 tahun, yang pada 2 februari 2019 tektok dan membuat doa bersama untuk kedamaian Indonesia.

Di situlah kami memasang plakat puncak doa itu. Saat itu saya tidak bisa ikut bergabung, maka perjalanan ini menjadi tugas untuk melengkapinya. Bukit Do'a ini di ketinggian 3.125 mdpl. Dari Pos 5 hingga titik ini dibutuhkan waktu 45 menit.

Sempat berfoto di lahan terbuka seperti tampak pada gambar, seperti grup pemain sinetron, sedang shooting. Hahaha, tapi saya sangat suka dengan foto ini. Pokoknya seru dan gembira banget.

Kami lanjut ke puncak Syarif 3.125 mdpl dalam waktu 30 menit. Di sini kami baru bertemu dengan pendaki lain, mereka dari salah satu jalur yang saya sebutkan di atas tadi.

Selanjutnya menuju Puncak Kenteng Songo, jalurnya sedikit berbahaya, jalan turun berputar harus hati-hati, setelahnya nanjak jalan batu berteman akar pepohonan, melipir menaiki bebatuan yang sudah disediakan kawat sling untuk pegangan. 

Selain sempit hanya berkisar 1 meter lebarnya, sisi kiri kanan jurang bebatuan tanpa pohon, kadang angin bisa datang sangat kencang siap mendorong pendaki setiap saat. Antre satu-satu, pegangan yang kuat. Tidak perlu takut, yang penting hati-hati. Perlahan saja, dan sampailah kami di Puncak Kenteng Songo 3.142 mdpl, banyak tanaman manis rejo atau disebut juga cantigi.

Jarak Puncak Syarif ke Puncak Kenteng Songo benernya deket, hanya saja jalur sedikit sulit jadi agak lama dikit, tapi nggak sampai 45 menit.

Di puncak ini kami temukan beberapa batu seperti lumpang berlubang. Mungkin karena itulah dinamakan Kenteng songo. Saya sendiri hitung, kayaknya tidak sejumlah 9, mungkin sudah ada yang hilang.

Omong-omong, Gunung Merbabu ini punya nama kuno yaitu Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan, dan kabarnya lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15.

Di puncak kami sempat masak mie dengan sayur brungkul untuk makan siang, setelahnya lanjut turun, sampai pos 3 bergegas packing, bablas turun sampai basecamp menjelang sore. Kami berpisah di sini.
Terima kasih pada semua kawan yang sangat asyik dalam moment perjalanan ini. Semoga semua sehat, dan bisa mendaki bareng lagi. 

Beruntung itu selalu hadir, untuk orang-orang yang selalu gembira dan tersenyum manis. Walau kaki saya saat berangkat sebelum sampai di basecamp kena stempel knalpot motor sendiri karena terguling jalan licin halaman rumah desa.

Saya anggap jimat, nggak apa asal nanti di gunung nggak ada hujan dan hujan bener-bener tidak datang. Padahal di desa kabarnya hujan deras nggak karuan, sehingga mereka sempat menguatirkan kami yang ada di gunung. Matur Nuwun Gusti ingkang akaryo jagad.

Oh ya, di gunung ini infonya jangan menggunakan baju warna merah dan hijau polos. Kalau sudah terlanjur maka gabungkan dengan aksesoris slayer atau apapun. Seperti saya, kebetulan merahnya kombinasi hitam. Mitosnya begitu, percaya atau tidak.

Jangan lupa bawa bekal air yang cukup kalau via jalur ini, karena hanya ada sebelum pos 1, dan jangan lupa bawa sampahmu agar gunung bersih dan indah selalu.

 
Gunung Merbabu 8-9 Maret 2019

Komentar