Minggu, 07 Juni 2026 | 22:34
NEWS

Subak Bali di Google Doodle, Begini Keistimewaannya

Subak Bali di Google Doodle, Begini Keistimewaannya
Subak Bali (Dok Google)

ASKARA - Google Doodle memperingati sistem irigrasi Indonesia yang secara budaya disebut dengan Subak, Senin (29/6). 

Subak merupakan warisan budaya Indonesia berupa sistem persawahan di Bali. Jaringan saluran, terowongan dan bendungan telah mempertahankan persawahan yang subur dan menjadi simbiosis dengan alam lebih dari seribu tahun lalu.

Subak sudah tercatat di daftar situs warisan dunia UNESCO sejak 29 Juni 2012 lalu. 

Subak di Bali memiliki luas kurang lebih 20.000 hektare, terdiri atas beberapa subak yang berada di 5 kabupaten, antara lain kabupaten Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, dan Tabanan.

Subak bagi masyarakat Bali, tidak hanya sekadar sistem irigasi saja, tetapi juga sebagai konsep kehidupan bagi rakyat Bali sendiri. 

Melalui sistem subak, pasokan air yang terbatas ini bisa dikelola secara bersama para petani. 

Subak dianggap sebagai cerminan dari filosofi Bali kuno Tri yang artinya tiga dan Hita kesejahteraan Karana penyebab.

Tri Hita Karana menggambarkan cita-cita kerohanian, antar pribadi, dan harmoni alami. 

Kegiatan perkumpulan subak ini tak hanya masalah pertanian atau bercocok tanam, tetapi juga masalah ritual dan peribadatan untuk memohon rejeki dan kesuburan.

Seperti sawah, padi dan air adalah elemen penting dalam sistem ini, hingga dikaitkan dengan religius. 

Ketiganya berhubungan dengan kekuasaan Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kemakmuran). Inilah mengapa subak memiliki Tri Hita Karana. 

Lalu, apa keistimewaan subak Bali sehingga Google memampangnya di sistem pencarian papan atas dunia itu?

Pertama, Budaya Subak Bali ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Unesco sendiri sudah memasukkan Subak sebagai salah satu warisan budaya dunia pada 2012.

Melalui ilustrasi yang dibuat ilustrator Tanah Air, Hana Augustine, Google doodle kali ini memperingati sistem irigasi yang secara resmi ditetapkan sebagai warisan dunia UNESCO tepat hari ini pada 2012.

Kedua, subak di Bali menghasilkan keseimbangan yang harmonis antara tanah dan komunitas petani. Semua menuai manfaat yang tak sedikit.

Yang ketiga, tradisi ini telah menciptakan lanskap indah. Panorama sawah dengan padi bertingkat yang disiram air secara merata dari atas ke bawah. Ini tidak dapat ditiru oleh negara lainnya.

Subak mampu bertahan selama lebih dari satu abad karena masyarakatnya taat kepada tradisi leluhur. Pembagian air dilakukan secara adil dan merata, segala masalah dibicarakan dan dipecahkan bersama, bahkan penetapan waktu menanam dan penentuan jenis padi yang ditanam pun dilakukan bersama. (genpi)

Komentar